Airlangga Hartarto: Talenta Digital, AI, dan Semikonduktor Jadi Kunci Ekonomi Masa Depan
JAKARTA, investortrust.id – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan penguasaan teknologi dan pengembangan talenta generasi muda yang memiliki literasi digital menjadi kunci pertumbuhan ekonomi masa depan (next economy). Indonesia perlu memperkuat pengembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), semikonduktor, dan sumber daya manusia digital untuk meningkatkan produktivitas serta daya saing industri.
Airlangga menyampaikan hal tersebut dalam acara Kuliah Umum dan Penyerahan Beasiswa DPP Universitas Negeri Semarang (UNNES) Tahun 2026 di Semarang, Jumat (9/10/2026). “Anak-anak muda ini menjadi digital literate dibandingkan dengan eyang dan buyut-buyutnya, jadi ini adalah the next economy yang harus kita kuasai. Kita mendorong artificial intelligence, semi-conductor, dan talenta digital karena kebutuhan kerja akan berbeda dengan mereka yang bekerja di sektor industri padat karya dan di sektor industri padat modal,” ujar Airlangga.
Menurut Airlangga, Indonesia perlu memperkuat mesin pertumbuhan ekonomi baru di tengah dinamika perekonomian global. Upaya tersebut tidak hanya berfokus pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga peningkatan produktivitas, penguatan industri, dan penyiapan sumber daya manusia yang mampu menjawab kebutuhan ekonomi mendatang.
Baca Juga
Pemerintah Luncurkan 11 Proyek Hilirisasi Nikel Senilai Rp 180 Triliun, Ini Rinciannya
Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,45% secara kumulatif (cumulative to cumulative/ctc) pada semester I-2026, ditopang konsumsi domestik dan investasi. Sementara itu, inflasi pada September 2026 tercatat sebesar 3,28%.
Airlangga menjelaskan, hilirisasi menjadi salah satu strategi pemerintah untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam melalui pengolahan menjadi produk bernilai lebih tinggi. Kinerja ekspor produk mineral dan logam meningkat dari sekitar US$1,4 miliar pada 2016 menjadi US$35 miliar pada 2025. Selain itu, diversifikasi produk turunan kelapa sawit bertambah dari 54 menjadi 208 produk, sedangkan ekspor kelapa terus didorong tumbuh mencapai 50%.
Selain hilirisasi, transformasi digital dinilai menjadi peluang besar untuk meningkatkan produktivitas ekonomi. Sebagai negara dengan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara, Indonesia perlu memperkuat posisinya sebagai pengembang, inovator, dan produsen nilai tambah digital.
Pengembangan ekosistem yang menghubungkan pusat data (data center), AI, semikonduktor, dan talenta digital dinilai semakin penting bagi perkembangan industri dan daya saing ekonomi Indonesia. Guna mendukung penguasaan teknologi, pemerintah telah menjalin kerja sama pengembangan teknologi semikonduktor dengan ARM Holdings dari Inggris. Kerja sama tersebut diarahkan untuk memperkuat kemampuan desain semikonduktor dan menyiapkan talenta yang dibutuhkan industri.
Indonesia juga memperkuat peran dalam pengembangan dan tata kelola AI melalui keikutsertaan sebagai anggota pendiri World Artificial Intelligence Cooperation Organization (WAICO). Di tingkat regional, kerja sama melalui Digital Economy Framework Agreement (DEFA) di ASEAN menjadi peluang untuk memperluas integrasi ekonomi digital sekaligus membuka kesempatan baru bagi pelaku usaha dan tenaga kerja Indonesia.
Penguatan ekonomi digital turut membutuhkan sumber daya manusia yang adaptif terhadap perubahan kebutuhan industri. Karena itu, pemerintah mendorong berbagai program pengembangan talenta digital, termasuk pertukaran talenta teknologi dengan Singapura, pengembangan ekosistem usaha rintisan digital, serta program Digital Talent Scholarship.
Baca Juga
Pemerintah Akselerasi Energi Hijau dan Digital Jadi Twin Engine Ekonomi
Pemerintah juga menyediakan insentif Super Tax Deduction hingga 200% untuk kegiatan tertentu yang memenuhi ketentuan. Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto mengatakan, mahasiswa perlu terus memperkuat penguasaan ilmu utama, meningkatkan literasi digital, mempelajari pengolahan data, serta memanfaatkan AI.
Ia menambahkan, penyampaian informasi kebijakan ekonomi kepada masyarakat, termasuk kalangan akademisi, merupakan upaya pemerintah untuk meningkatkan pemahaman dan keterlibatan masyarakat dalam mengawal agenda pembangunan.
Dalam kesempatan tersebut, Airlangga juga mengapresiasi dukungan Dewan Penyantun Pendidikan terhadap akses pendidikan mahasiswa. Pada 2026, dukungan pendidikan tersebut menjangkau 531 mahasiswa selama empat tahun masa perkuliahan. Jumlah itu meningkat dibandingkan 376 mahasiswa pada 2024 dan 506 mahasiswa pada 2025.
Transisi Energi Hijau
Selain teknologi digital, pemerintah mendorong transisi menuju energi dan industri hijau sebagai mesin pertumbuhan ekonomi baru. Kebutuhan listrik nasional diperkirakan meningkat pada 2030 seiring pertumbuhan aktivitas ekonomi dan perkembangan industri. Untuk mendukung kebutuhan tersebut, Presiden mendorong pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) hingga kapasitas 100 gigawatt.
Baca Juga
9 Kabar Baik Indonesia di Agustus 2026, dari Swasembada Pangan hingga Energi Hijau
Pengembangan energi surya juga perlu didukung sistem penyimpanan energi (battery energy storage system) agar pasokan listrik dapat dimanfaatkan secara lebih optimal sesuai kebutuhan. Di sisi perdagangan, pemerintah terus memperkuat kerja sama internasional melalui perjanjian perdagangan dengan Uni Eropa, Australia, Kanada, Korea Selatan, dan Swiss.
Kerja sama tersebut ditujukan untuk memperluas akses pasar dan meningkatkan daya saing ekspor produk Indonesia, termasuk minyak kelapa sawit, alas kaki, kopi, furnitur, serta produk pertanian dan perikanan.
Melalui penguatan hilirisasi, transformasi digital, pengembangan energi hijau, dan perluasan akses pasar, pemerintah mendorong terbentuknya sumber pertumbuhan baru sekaligus menyiapkan generasi muda agar mampu memenuhi kebutuhan industri dan ekonomi masa depan.
