Bukan Sekadar Pabrik, Bos Jabebeka Dorong Kawasan Industri Jadi Ekosistem Talenta
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Indonesia memasuki tahap pembangunan di mana kawasan industri tidak lagi cukup hanya menyediakan tanah, jalan, listrik, air, dan bangunan pabrik. Persaingan global sekarang ditentukan oleh sesuatu yang jauh lebih penting: kualitas manusia, kemampuan berinovasi, dan keberanian menciptakan usaha baru.
Founder dan Chairman PT Jababeka Tbk (KIJA) Setyono Djuandi (SD) Darmono menyebutkan pengalaman membangun Kota Jababeka memberikan satu pelajaran penting baginya. Menurut SD Darmono, sebuah kawasan industri yang ingin bertahan puluhan tahun harus berkembang menjadi sebuah kota dan kemudian menjadi sebuah ekosistem.
Menurut Darmono, di dalam ekosistem itu, industri, pendidikan, tempat tinggal, teknologi, pelayanan kesehatan, budaya, serta entrepreneurship harus tumbuh bersama.
"Itulah sebabnya sejak awal kami tidak melihat Kota Jababeka hanya sebagai tempat berdirinya pabrik. Kami ingin membangun sebuah kota tempat orang bisa bekerja, belajar, tinggal, membangun keluarga, berinovasi, dan akhirnya menciptakan perusahaan baru,” kata SD Darmono dalam keterangan tertulisnya, Selasa (6/9/2026).
Ketika industri membutuhkan universitas
Ketika industrialisasi Cikarang berkembang pesat, PT Jababeka Tbk melihat persoalan yang sangat jelas. Perusahaan-perusahaan berdatangan, termasuk berbagai perusahaan internasional, tapi perusahaan tak hanya membutuhkan tanah dan infrastruktur, tetapi juga membutuhkan manusia yang mempunyai pengetahuan, disiplin, kemampuan berbahasa, pemahaman teknologi, dan pengalaman bekerja di lingkungan industri.
“Dari kebutuhan itulah pada tahun 2001 kami mendukung pendirian yayasan pendidikan yang kemudian melahirkan President University. Pemikirannya sederhana: mengapa universitas harus jauh dari tempat mahasiswa nantinya bekerja? Kalau universitas berada di tengah kawasan industri, maka perusahaan bisa menjadi bagian dari proses pendidikan,” kata SD Darmono yang juga founder President University ini.
Dengan hadirnya President University, mahasiswa tak hanya mendengar teori mengenai perusahaan beroperasi dari dosen. Mereka dapat melihat secara langsung bagaimana perusahaan kelas dunia beroperasi. Karenanya, salah satu karakter pendidikan yang didorong President University ialah kuliah sambil mendapatkan pengalaman industri melalui internshipatau magang.
Baca Juga
Jababeka dan Pertamina Perluas Kolaborasi Menuju Industri Hijau dan Dekarbonisasi
Lebih jauh, mahasiswa tak hanya belajar di kampus tapi jugamengenal lingkungan perusahaan. Mereka memahami bahwa di dunia nyata terdapat target, kualitas, disiplin waktu, keselamatan kerja, teknologi, pemasaran, keuangan, logistik, budaya perusahaan, serta persaingan internasional.
“Dengan pengalaman tersebut, hubungan antara universitas dan dunia kerja menjadi lebih dekat. Universitas mengetahui apayang dibutuhkan industri. Industri bisa mengenal talenta sebelum mereka lulus. Mahasiswa memperoleh pengalaman sebelum memasuki dunia kerja. Inilah salah satu bentuk hubungan industry – university collaboration yang menurut saya perlu diperluas di Indonesia,” urai Darmono.
Perkembangan Cikarang kemudian memperlihatkan efek lain yang menarik. Ia menilai, ketika industri tumbuh, jumlah tenaga kerja bertambah, kebutuhan terhadap sekolah dan pendidikan tinggi ikut meningkat. Lanjut secara alamiah kemudian tumbuh berbagai sekolah, universitas, lembaga pelatihan, dan institusi pendidikan di kawasan Bekasi, Cikarang, Karawang dan sekitarnya.
“Hubungan itu membentuk lingkaran pertumbuhan: industry creates jobs, education creates talent, talent creates innovation, innovation creates new businesses, and new businesses create more jobs. Inilah yang saya sebut sebagai evolusi dari industrial estate menjadi knowledge and entrepreneurship ecosystem,” terangnya.
Ia menyebut, pengalaman magang di perusahaan nasional dan multinasional bisa menjadi sekolah bisnis yang luar biasa. Mahasiswa dapat melihat bagaimana sebuah perusahaan membangun produk, menjaga kualitas, mengelola tenaga kerja, menggunakan teknologi, mencari pasar, dan bersaing secara global. Pengetahuan tersebut kemudian dapat menjadi modal ketika mereka ingin membangun usaha sendiri.
“Karena itu, saya selalu melihat entrepreneurship bukan sekadar mata kuliah. Entrepreneurship adalah mindset. Seorang entrepreneur melihat masalah sebagai peluang. Ia berani mengambil risiko yang terukur. Ia menciptakan produk, pekerjaan, dan akhirnya menciptakan nilai ekonomi bagi masyarakat,” kata penulis buku Think Big, Start Small, Move Fast ini.
