Mendag Ungkap Transaksi Ekspor UMKM Tembus Rp 6,2 Triliun
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso terus mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk memperluas pasar hingga ke mancanegara. Melalui program UMKM Bisa Ekspor, transaksi ekspor yang difasilitasi pemerintah telah mencapai US$347 juta sepanjang Januari-Agustus 2026.
Budi mengatakan, capaian tersebut menunjukkan bahwa UMKM memiliki peluang besar untuk masuk ke pasar ekspor, termasuk pelaku usaha yang sebelumnya belum pernah melakukan ekspor.
"Tahun lalu transaksinya mencapai US$ 134,8 juta. Tahun ini sampai Januari sampai Agustus transaksinya sudah US$ 347 juta (atau sekitar Rp 6,2 triliun)," kata Budi saat ditemui usai acara di Kantor Kemendag, Jakarta Pusat, Selasa (6/10/2026).
Menurut dia, sekitar 60% pelaku UMKM yang mengikuti program tersebut merupakan eksportir pemula yang sebelumnya belum pernah melakukan ekspor. "Dan itu rata-rata Pak 60% belum pernah ekspor. Ya kita pengin ekspor itu tidak harus yang besar. Yang kecil seperti UMKM juga bisa ekspor," imbuhnya.
Mendag Budi menegaskan, pemerintah ingin memperluas basis eksportir Indonesia agar kegiatan ekspor tidak hanya dilakukan oleh perusahaan berskala besar. UMKM dinilai juga harus mendapatkan akses dan fasilitas yang memadai untuk menembus pasar internasional.
Baca Juga
Kemendag Fasilitasi Barcode, 50 UMKM Bersiap Tembus Ritel Modern
Untuk mendukung hal tersebut, Kementerian Perdagangan (Kemendag) memiliki perwakilan atase perdagangan dan Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) di 33 negara dengan total 46 perwakilan.
Melalui jaringan tersebut, pelaku UMKM dapat melakukan presentasi produk kepada perwakilan perdagangan Indonesia. Selanjutnya, perwakilan tersebut akan membantu mencarikan calon buyer di pasar tujuan ekspor.
"UMKM bisa ekspor itu kita mempunyai perwakilan atase perdagangan dan ITPC di 33 negara jumlahnya ada 46. Jadi nanti di sini ada penjadwalan Bapak Ibu UMKM tinggal presentasi saja ke perwakilan kita nanti perwakilan kita yang mencarikan buyer," jelas Mendag Budi.
Selain itu, Mendag juga menambahkan, pemerintah terus memberikan pendampingan untuk meningkatkan daya saing produk UMKM sebelum masuk pasar internasional. Upaya tersebut mencakup standardisasi, kemasan, kualitas, hingga branding produk.
Selain pasar ekspor, pemerintah juga mendorong UMKM memperluas pasar domestik dengan masuk ke jaringan ritel modern. Salah satu dukungan yang diberikan adalah sertifikasi barcode melalui kerja sama dengan GS1 Indonesia.
Menurut Budi, penggunaan barcode dapat mempermudah proses layanan, penyimpanan, dan distribusi produk sekaligus meningkatkan peluang produk UMKM diterima oleh jaringan ritel modern.
"Jadi terus kita tingkatkan. Jadi biar saudara-saudara kita, UMKM ini barang-barangnya cepat masuk ke ritel modern ya, bisa memproduksi dan bisa berjualan," pungkasnya.
