Harga Emas Stabil di US$ 4.140 Jelang Risalah Rapat The Fed
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas bergerak mendatar di sekitar US$ 4.140 pada sesi awal perdagangan Asia, Selasa (6/10/2026). Penguatan dolar AS dan tingginya imbal hasil obligasi Pemerintah AS menahan pergerakan logam mulia tersebut, meski ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada Oktober telah menurun.
Tekanan terhadap emas datang ketika imbal hasil Treasury AS bertenor 10 tahun naik sekitar 7 basis poin menjadi 5,349%, level tertinggi sejak 3 April 2002, sebelum kembali turun ke 5,30%. Imbal hasil Treasury 30 tahun juga sempat naik lebih dari 7 basis poin menjadi 5,703%, level yang belum terlihat sejak akhir Mei 2002, sebelum berada di sekitar 5,661%.
Kenaikan imbal hasil obligasi membuat emas menghadapi persaingan lebih kuat dari aset yang memberikan pendapatan berupa bunga. Kondisi tersebut membuat investor cenderung mempertimbangkan kembali kepemilikan logam mulia ketika tingkat imbal hasil obligasi meningkat.
Analis pasar Forex.com Fawad Razaqzada mengatakan harga emas masih berpotensi mengalami tekanan dalam jangka pendek sebelum kembali menarik pembeli dalam jumlah besar.
Baca Juga
Harga Emas Naik Mendekati US$ 4.180, 'Yield Treasury' AS Turun
"Kita mungkin akan melihat penurunan harga emas dalam waktu dekat sebelum para pembeli masuk secara signifikan, dan itu semua berkaitan dengan fakta bahwa dolar telah menguat dan imbal hasil obligasi meningkat," kata Fawad dilansir FX Street.
Pergerakan emas juga dipengaruhi perubahan ekspektasi terhadap kebijakan moneter AS. Data nonfarm payrolls (NFP), indikator utama pasar tenaga kerja Amerika Serikat, menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja pada September lebih lemah dari perkiraan. Data NFP untuk dua bulan sebelumnya juga direvisi lebih rendah.
Perubahan tersebut membuat pasar memangkas perkiraan terhadap kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga pada pertemuan Oktober. Berdasarkan alat CME FedWatch, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan biaya pinjaman acuan The Fed hanya sekitar 22,7%.
Pasar Menunggu Sinyal The Fed
Perhatian investor selanjutnya tertuju pada risalah rapat Komite Pasar Terbuka Federal atau Federal Open Market Committee FOMC pada September yang dijadwalkan terbit pada Rabu. Dokumen tersebut berpotensi memberikan gambaran lebih jelas mengenai arah kebijakan moneter bank sentral AS dalam pertemuan berikutnya.
Ekspektasi kenaikan suku bunga yang lebih rendah sebenarnya memberikan ruang bagi emas untuk menguat. Namun, pergerakan harga emas belum sepenuhnya mengikuti perubahan ekspektasi tersebut karena imbal hasil obligasi jangka panjang masih berada pada level tinggi.
Baca Juga
Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini Naik Rp 6.000 Jadi Rp 2,580 Juta
Analis OCBC menilai kondisi suku bunga masih menjadi penghambat utama bagi harga emas. Mereka mencatat pemulihan emas setelah data ketenagakerjaan AS yang lebih lemah berlangsung singkat meski ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober telah menurun.
Menurut OCBC, harga emas masih menunggu perubahan arah imbal hasil obligasi secara lebih konsisten. Stabilnya dolar AS dan belum turunnya imbal hasil obligasi jangka panjang secara berkelanjutan membuat ruang penguatan emas tetap terbatas.
OCBC memperkirakan emas masih rentan bergerak konsolidatif dalam jangka pendek jika imbal hasil obligasi tetap tinggi. Penurunan imbal hasil obligasi yang lebih jelas, bersamaan dengan pelemahan dolar AS, dinilai dapat memberikan ruang yang lebih kuat bagi harga emas untuk kembali menguat.
