Laba PGE (PGEO) Tumbuh Dua Digit dan 'Capacity Factor' Naik ke 90,62%, Ini Pemicunya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) membukukan pertumbuhan laba bersih sebesar 15,48% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi US$ 79,605 juta pada semester I 2026. Secara konsolidasi, capacity factor PGEO naik menjadi 90,62% dari 87,78%.
Pertumbuhan laba tersebut sejalan dengan kenaikan pendapatan PGEO sebesar 14,7% yoy menjadi US$ 235,027 juta hingga 30 Juni 2026, dari US$ 204,850 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Secara kuartalan, laba bersih PGEO juga menunjukkan akselerasi, dari US$ 43,899 juta pada kuartal I 2026 menjadi US$ 79,605 juta pada akhir Juni 2026.
“Naiknya pendapatan ditopang pertumbuhan produksi dan keandalan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP), serta keuntungan selisih kurs yang positif,“ kata Direktur Keuangan PGEO Fransetya Hasudungan Hutabarat dalam keterangan tertulisnya Senin, (5/10/2026).
Dari sisi permodalan, ekuitas PGEO tercatat sebesar US$ 2,006 miliar. Sementara itu, liabilitas turun 2,80% dibandingkan akhir 2025 menjadi US$ 961,184 juta.
Baca Juga
Keruk Laba US$ 79,6 Juta, Produksi Listrik Pertamina Geothermal (PGEO) Meroket 13,62%
Kinerja PGEO juga ditopang oleh peningkatan produksi panas bumi. Hingga 31 Juli 2026, total produksi mencapai sekitar 3.222 gigawatt hour (GWh), naik 12,7% dari 2.859 GWh pada periode yang sama tahun lalu.
Capaian tersebut sekaligus menjadi rekor produksi tertinggi PGEO. Untuk keseluruhan 2026, perseroan menargetkan produksi sebesar 5.255 GWh, meningkat dari 5.095 GWh pada 2025.
Peningkatan produksi terutama terlihat di Lumut Balai yang melonjak 85,5% menjadi 567 GWh setelah Unit 2 beroperasi penuh sejak Juni 2025. Produksi Lumut Balai sepanjang 2026 ditargetkan tumbuh 28,43% menjadi 917 GWh.
Selain Lumut Balai, produksi Kamojang tumbuh 6,3% menjadi 1.113 GWh, Karaha naik 22,7% menjadi 75 GWh, Ulubelu tumbuh 1,8% menjadi 953 GWh, dan Lahendong naik 1% menjadi 514 GWh.
Secara konsolidasi, capacity factor PGEO naik menjadi 90,62% dari 87,78%, sedangkan availability factor meningkat menjadi 99,51% dari 99,13%. Tingkat gangguan juga turun menjadi 0,15% dari 0,22%.
Tak hanya itu, dari sisi ekspansi, PGEO mempercepat pengembangan PLTP Lumut Balai Unit 3 dan 4 di Muara Enim, Sumatra Selatan, masing-masing berkapasitas 55 MW.
Baca Juga
Pertamina Geothermal (PGEO) Perkuat Konservasi Biodiversitas dan Agroforestri
PLTP Lumut Balai Unit 3 dan 4 juga telah masuk dalam Green Book 2026 Kementerian PPN/Bappenas pada Juni 2026. Hal tersebut membuka akses pendanaan melalui potensi pinjaman luar negeri senilai US$ 158,86 juta untuk Unit 3 dan US$ 148,97 juta untuk Unit 4.
“Sebagai world leading geothermal producer, PGE memahami bahwa ketahanan energi nasional memerlukan pasokan listrik yang tidak hanya bersih, tetapi juga stabil dan andal. Kinerja yang solid dan proyek yang terus bergerak menjadi fondasi kami untuk tumbuh secara berkelanjutan,” kata Direktur Utama PGEO Ahmad Yani.
