Korban LRT City Tagih Refund Rp 158 Miliar, 100 Debitur Setop Cicilan
JAKARTA, investortrust.id — Potensi risiko keuangan yang membayangi emiten BUMN properti PT Adhi Commuter Properti Tbk (ADCP) kian mengemuka seiring membengkaknya tuntutan ganti rugi dari para pembeli proyek hunian berbasis transit oriented development (TOD) tersebut. Paguyuban Korban LRT City menagih kepastian dana pengembalian (refund) serta kejelasan restrukturisasi kredit perbankan yang diperkirakan bakal terus membengkak.
Berdasarkan data aspirasi konsumen per 19–25 September 2026, total nilai kerugian materiil dari 358 unit yang terdata mencapai Rp 158,44 miliar. Dari angka tersebut, sebanyak 329 unit menuntut opsi refund tunai, sedangkan 29 unit lainnya memilih bertahan menunggu penyelesaian konstruksi fisik.
Perwakilan Paguyuban Korban LRT City, Rian D Subagio menyatakan, manajemen ADCP beserta induk usahanya PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) dijadwalkan bakal memberikan jawaban atas 10 poin permohonan konsumen pada rentang 10–15 Oktober 2026. Tenggat ini mengacu pada kesepakatan pertemuan bersama Badan Pengaturan BUMN (BP BUMN) serta Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) pada 16 September 2026 lalu.
Di sisi lain, pasar diwarnai rumor bahwa operasional konstruksi proyek mulai berjalan kembali per 1 Oktober 2026. Namun, Rian menegaskan, pihak pengembang belum memberikan konfirmasi terbuka maupun transparansi skema pendanaan untuk melanjutkan proyek-proyek tersebut.
"Beredar isu kalau proses pembangunan sudah mulai jalan di 1 Oktober 2026, tetapi kami belum mendapat konfirmasi apapun terkait hal tersebut. Bahkan dari CRM LRT masing-masing proyek tidak announce by WA kepada kami terkait progresnya," ujar Rian kepada investortrust.id melalui pesan pribadi, Kamis (1/10/2026).
Bagi industri perbankan, lanjut Rian, keterlambatan penyerahan unit properti ADCP dapat memicu potensi pemburukan kualitas kredit (NPL). Pendataan menunjukkan sebanyak 222 unit memanfaatkan fasilitas Kredit Pemilikan Rumah/Apartemen (KPR/KPA). Dari portofolio kredit tersebut, 100 unit di antaranya sudah menghentikan pembayaran angsuran, 109 unit masih aktif menyetor cicilan, dan 13 unit dinyatakan lunas.
Kondisi macetnya cicilan ini berpotensi merusak skor kredit (collectibility) konsumen dalam Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) OJK, meskipun akar masalah timbul dari keterlambatan pihak pengembang (developer).
Untuk menekan potensi dampak kerugian finansial yang meluas, pihak korban mendesak keterlibatan lembaga keuangan strategis, seperti Danantara, BP BUMN, hingga perbankan Himbara dan swasta dalam membentuk posko bersama. Langkah ini dinilai vital untuk melakukan rekonsiliasi nilai refund, mitigasi penalti pelunasan dipercepat, serta pemulihan status kredit konsumen di OJK.
Baca Juga
Mangkrak Hampir 10 Tahun, Proyek LRT City Dibidik Rampung September 2028
Rian menambahkan, angka kerugian Rp 158,44 miliar dari 358 unit tersebut hanyalah puncak gunung es, mengingat pendataan dilakukan secara mandiri oleh paguyuban.
"Sangat mungkin (jumlah korban bertambah). Kami berharap ada transparansi dari ADCP terkait penyelesaian korban di luar yang berhasil kami data," tegas dia.
Sekadar informasi, proyek hunian LRT City yang hampir mangkrak selama sekitar 10 tahun ditargetkan kembali dibangun mulai 1 Oktober 2026 dan rampung pada 30 September 2028.
Diketahui, proyek LRT City yang pertama kali groundbreaking adalah LRT City Bekasi Eastern Green pada 2016 lalu. Sementara, LRT City Ciracas di akhir 2018 dan LRT City Tebet dilakukan pemasarannya pada Oktober 2020.
Hal ini terungkap dalam sesi panggilan telepon Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait bersama perwakilan paguyuban korban LRT City, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN), pihak BP BUMN, media Investortrust dan Rakyat Merdeka pada Selasa (15/9/2026) malam.
Dalam pertemuan tersebut, Deputi Bidang Peningkatan Nilai Badan Pengaturan BUMN (BP BUMN) Endra Gunawan menyampaikan, PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) melalui anak usahanya, PT Adhi Commuter Properti Tbk (ADCP) akan mulai membangun kembali proyek tersebut pada Oktober 2026.
Maruarar kemudian memastikan tenggat penyelesaian proyek kepada Endra. "Selesainya kapan?" tanya dia.
"30 September 2028," jawab Endra.
Lantas, Maruarar meminta kesepakatan tersebut dicatat dan dikawal agar proyek dapat kembali berjalan sesuai jadwal.
"Jadi, Adhi Karya kesepakatannya mulai bangun kapan? Tanggal berapa? 1 Oktober 2026. Selesainya kapan? 30 September 2028," kata Ara, sapaan akrab Maruarar.
Namun, rencana pembangunan tersebut belum menjawab seluruh persoalan konsumen. Perwakilan Paguyuban Korban LRT City, Andrew mengatakan, pihaknya masih menunggu kepastian mengenai lokasi mana saja yang akan dibangun dalam kurun waktu dua tahun tersebut.
Baca Juga
2.400 Unit LRT City Mandek, Bos Adhi Karya (ADHI) Minta Maaf dan Ungkap Biang Keroknya
Pasalnya, proyek LRT City yang disoroti dalam pertemuan tersebar di sekitar 12 lokasi. "Kami nanti dari tim kecil yang sudah dibentuk via WhatsApp grup itu bisa bertemu lagi untuk memastikan, kira-kira dua tahun itu untuk lokasi mana saja," ucap Andrew.
Menurut Andrew, kepastian lokasi dan waktu penyelesaian diperlukan agar informasi tersebut dapat disampaikan kepada konsumen. "Supaya kami sampaikan ke konsumen (korban LRT City)," ujar dia.
Dalam sesi telepon grup tersebut, Andrew turut memaparkan jumlah konsumen yang tergabung dalam paguyubannya saat ini mencapai 500 orang. Sementara itu, jika seluruh 12 lokasi diperhitungkan, jumlah konsumen LRT City disebut mencapai lebih dari 2.400 orang.
