Pemerintah Komitmen Bangun 414 RSUD hingga 20.000 Puskesmas Pembantu di Indonesia
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Pemerintah menargetkan renovasi 414 rumah sakit umum daerah (RSUD) di seluruh kabupaten/kota di Indonesia. Tak sampai di situ, Kabinet Merah Putih juga akan merenovasi puskesmas serta membangun setidaknya 20.000 puskesmas pembantu (pustu) yang belum tersedia.
Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes), Dante Saksono Harbuwono menyatakan, target tersebut merupakan bagian dari program peningkatan fasilitas pelayanan kesehatan yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.
"Saya, pada pidato beliau tentang RAPBN 2027 kemarin, menyampaikan bahwa akan dibangun renovasi puskesmas di seluruh Indonesia," kata Dante saat konferensi pers di Kantor Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Jakarta, Rabu (30/9/2026).
Dante menyoroti kondisi sejumlah puskesmas di daerah masih membutuhkan pembenahan. Ia mencontohkan pengalamannya ketika bertugas sebagai dokter di daerah.
"Jadi puskesmas-puskesmas kita itu, terakhir itu direnovasi itu zaman Pak Harto (Presiden RI ke-2 Soeharto). Jadi kalau teman-teman lihat ke daerah, itu sangat menyedihkan. Jadi, kita akan bangun seluruh puskesmas, dan Bapak Presiden menambah lagi target kita untuk renovasi rumah sakit menjadi 414 rumah sakit di seluruh kabupaten kota di seluruh Indonesia akan direnovasi," sambung Dante.
Dante menegaskan, renovasi fasilitas kesehatan tersebut dilakukan tanpa terkecuali. Program juga mencakup pembangunan pustu yang belum tersedia. "Tanpa terkecuali. RSUD-nya akan direnovasi, puskesmasnya akan direnovasi, puskesmas pembantunya yang belum ada juga akan dibangunkan," lugasnya.
Untuk pembangunan puskesmas, Dante menyebut pemerintah menyiapkan biaya sekitar Rp 3 miliar untuk setiap unit. "Biaya pembangunannya Bapak Presiden menargetkan sekitar Rp 3 miliar per puskesmas," terangnya.
Saat ditanya mengenai jumlah pustu di Indonesia, Dante menyebut jumlahnya mencapai sekitar 20.000 unit. "Pustu itu ada sekitar 20 ribuan ya, di seluruh Indonesia," ucapnya.
Tiga Program Kesehatan Era Prabowo
Selain renovasi fasilitas kesehatan, Dante menyebut Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mendapat mandat menjalankan tiga program, yakni cek kesehatan gratis (CKG), pengentasan tuberkulosis (TBC), serta peningkatan rumah sakit tipe D menjadi tipe C.
Untuk CKG, lanjut Dante, program tersebut telah menjangkau 99,1 juta jiwa pada 2026. Rinciannya, 78,5 juta jiwa di komunitas dan 20,6 juta jiwa di sekolah. Sedangkan di 2025, CKG telah menjangkau 70 juta jiwa, terdiri dari 46 juta jiwa di komunitas dan 24 juta jiwa di sekolah.
"Targetnya 130 juta (jiwa) di tahun 2026. Kalau 2025 tadi 70 juta (jiwa), sekarang kita naikkan targetnya pada 2026 130 juta (jiwa) dan sekarang sudah mencapai 99,1 juta jiwa masyarakat menikmati program yang dicanangkan oleh Bapak Presiden ini," papar Dante.
Baca Juga
Prabowo Ingin Hasil Kerja Satgas PKH untuk Perbaiki Seluruh Puskesmas dan Sekolah
Menurut Dante, hipertensi, diabetes, dan kolesterol menjadi masalah kesehatan yang banyak ditemukan melalui pemeriksaan pada 2026.
"Yang terbesar di antaranya adalah hipertensi. Tensinya tinggi banyak ditemukan di masyarakat di Indonesia. Diabetes, kolesterol, itu kita anggap sebagai tata laksana yang harus kita lakukan prioritasnya," katanya.
Untuk program TBC, Dante menyampaikan, estimasi kasus di Indonesia sekitar 1,08 juta jiwa pada 2026, turun dari sekitar 1,09 juta jiwa. "Angka tuberkulosis yang ada sekarang itu sekitar 1.090.000 jiwa di seluruh Indonesia. Tapi di tahun 2026 sudah mulai menurun. Jadi 1.080.000 orang," ungkapnya.
Berdasarkan data Kemenkes per 30 September 2026, estimasi kasus TBC di Tanah Air mencapai 1,08 juta jiwa. Kasus yang sudah ditangani mencapai 541.407 jiwa dari total kasus TBC yang terdeteksi sejumlah 604.881 jiwa.
Dante mengatakan, penanganan TBC dilakukan melalui estimasi kasus, identifikasi kasus, dan pengobatan. Skrining dilakukan di puskesmas, CKG komunitas, CKG swasta, serta layanan one-stop service.
Adapun untuk peningkatan rumah sakit, pemerintah menargetkan 66 RSUD tipe D ditingkatkan menjadi tipe C pada tahap pertama. "Tahap pertama dilakukan kepada 66 RSUD yang tadinya kelas rumah sakitnya tipe D, menjadi tipe C," ujar Dante.
Program tersebut dibagi dalam tiga tahap pada 2025, 2026, dan 2027. Dante menuturkan, 21 dari 22 rumah sakit pada tahap 2025 telah selesai dibangun dan mulai beroperasi. Sementara pada 2026, sebanyak 18 dari 20 rumah sakit sedang dalam proses pembangunan. "Dalam 2027 kita akan selesaikan target Bapak Presiden 66 rumah sakit tipe D menjadi tipe C," tuturnya.
Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengusulkan tambahan anggaran kementeriannya sekitar Rp 28 triliun pada tahun 2027. Tambahan anggaran tersebut antara lain akan digunakan untuk revitalisasi puskesmas dan rumah sakit, pemenuhan kebutuhan vaksin, hingga pembayaran kewajiban peserta bukan penerima upah (PBPU).
"Jadi mohon persetujuan DPR terhadap rencana kerja dan anggaran Kemenkes tahun 2027, tidak ada perubahan sebesar Rp 122,123 triliun yang akan digunakan untuk program 2027," kata Budi saat rapat kerja bersama Komisi IX DPR di gedung parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (16/9/2026) lalu.
Baca Juga
Prabowo Bakal Renovasi 10.000 Puskesmas dan Hadirkan Ambulans Udara Mulai 2027
Berdasarkan paparan Menkes, total kebutuhan biaya revitalisasi puskesmas dan laboratorium kesehatan masyarakat (labkesmas) mencapai sekitar Rp 55,8 triliun. Kebutuhan tersebut mencakup pembangunan baru 1.988 puskesmas, renovasi 8.001 puskesmas, serta pemenuhan prasarana 4.962 unit.
Sementara untuk labkesmas, kebutuhan revitalisasi terdiri dari pembangunan baru 172 unit, renovasi 318 unit, serta pemenuhan prasarana sebanyak 164 unit.
Selain fasilitas tingkat pertama, Kemenkes turut mencatat kebutuhan biaya revitalisasi RSUD dan rumah sakit jiwa (RSJ) mencapai sekitar Rp 64,6 triliun. Anggaran tersebut mencakup pembangunan gedung critical medical unit (CMU) sebanyak 402 unit, peningkatan kelas rumah sakit dari kelas D menjadi kelas C sebanyak tujuh rumah sakit, serta revitalisasi 32 RSJ.
Alhasil, total kebutuhan untuk revitalisasi puskesmas, labkesmas, RSUD dan RSJ mencapai sekitar Rp 120,4 triliun.
