ESET Soroti Tantangan Industri Keamanan Siber, Respons Ancaman Dituntut Makin Cepat
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Industri keamanan siber Indonesia menghadapi tantangan meningkatnya serangan sekaligus keterbatasan talenta. ESET menilai perusahaan membutuhkan sistem deteksi dan respons yang mampu bekerja 24/7.
ESET mencatat ancaman siber di Indonesia mencapai 16 serangan per detik berdasarkan laporan AwanPintar.id. Tekanan juga datang dari kebutuhan kepatuhan terhadap regulasi perlindungan data pribadi dan keamanan siber.
CTO Prosperita Group, Yudhi Kukuh mengatakan, ancaman siber bergerak dalam hitungan detik, sementara tim IT masih menghadapi beban analisis manual. Kondisi tersebut membuat kecepatan respons menjadi faktor penting dalam menjaga operasional bisnis.
“Ancaman siber hari ini bergerak dalam hitungan detik, sementara banyak tim IT terjebak dalam rutinitas analisis manual yang melelahkan di luar jam operasional,” ucap Kukuh dalam keterangan resmi, Selasa (29/9/2026).
Baca Juga
Telkom Luncurkan SCALE, Integrasikan AI, Cloud, dan Keamanan Siber
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, ESET baru meluncurkan layanan Managed Detection and Response (MDR) di Indonesia. Layanan ini menggabungkan otomatisasi AI dengan pemantauan pakar keamanan siber untuk mendeteksi dan mengisolasi ancaman 24/7.
Perusahaan menyebut MDR mampu memangkas Mean Time to Respond (MTTR) hingga rata-rata enam menit. Layanan ini didukung jaringan lebih dari 100 threat hunter dan dirancang mengurangi beban tim IT dalam menganalisis log serta mencari akar serangan.
Selain kecepatan respons, kebutuhan industri juga bergeser pada kepatuhan dan efisiensi biaya keamanan. ESET MDR telah meraih sertifikasi SOC 2 Type 2 dan ditawarkan dalam dua tingkatan untuk UKM hingga enterprise.
“Keamanan siber bukan sekadar produk teknologi, melainkan fondasi kepercayaan bisnis dan publik,” sambung Yudhi. Menurutnya, organisasi di Indonesia perlu membangun ketahanan siber sekaligus memenuhi tuntutan compliance di tengah ancaman yang terus berkembang.
Sekadar informasi, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat sebanyak 5,1 miliar lebih anomali trafik internet terjadi di Indonesia sepanjang 1 Januari-15 November 2025. Dari jumlah tersebut, BSSN menilai kelemahan terbesar justru berasal dari faktor manusia yang menilai keamanan siber bukan menjadi suatu kepentingan dalam organisasi maupun perusahaan.
