Investasi Transisi Energi Global Tembus US$ 2,3 Triliun, RI Incar Rantai Pasok Industri Hijau
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Sekretaris Utama Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Mohammad Rudy Salahuddin, mengungkap tren investasi transisi energi dunia mengalami lonjakan signifikan. Ia menyebut investasi transisi energi global menembus angka US$ 2,3 triliun pada 2025 berdasarkan riset BloombergNEF, atau tumbuh sebesar 8% dibandingkan tahun sebelumnya.
Menurut Rudy sektor transportasi terdekarbonisasi atau terelektrifikasi menjadi pendorong terbesar dengan nilai US$ 893 miliar, disusul sektor energi terbarukan sebesar US$ 690 miliar, serta jaringan listrik senilai US$ 483 miliar.
Ia membeberkan lonjakan investasi global ini mengubah lanskap industri dunia secara mendasar. Lokasi industri, rantai pasok, penerapan teknologi, hingga penyerapan tenaga kerja kini kian terikat erat dengan ketersediaan energi bersih.
"Negara yang mampu menyediakan energi bersih sekaligus membangun ekosistem industri akan semakin kompetitif dalam menarik investasi baru," ujar Rudy dalam Seminar Nasional Green Economy 2045 yang digelar Investortrust di Hotel Aryaduta, Jakarta, Selasa (29/9/2026).
Baca Juga
Rudy menegaskan, pengembangan ekonomi hijau bagi Indonesia bukan sekadar agenda penurunan emisi karbon. Lebih dari itu, momentum ini menjadi peluang emas bagi Indonesia untuk memperkuat ekosistem manufaktur, rantai pasok domestik, inovasi, serta penciptaan lapangan kerja bernilai tambah berbasis keberlanjutan.
Untuk menangkap peluang dari pasar transisi energi global, Indonesia dinilai telah memiliki basis yang kuat. Data perdagangan UN Comtrade Environmental Goods List menunjukkan nilai perdagangan kendaraan listrik dan baterai secara global melonjak tajam dari US$ 90 miliar pada 2019 menjadi sekitar US$ 450 miliar pada 2025. Pada periode yang sama, perdagangan teknologi energi terbarukan meroket dari US$ 210 miliar menjadi lebih dari US$ 350 miliar.
Untuk merespons peluang tersebut, Kementerian ESDM mencatat potensi energi baru terbarukan (EBT) nasional yang telah dimutakhirkan mencapai 3.687 gigawatt (GW), dengan potensi tenaga surya mencapai 3.294 GW. Namun hingga 2026, kapasitas EBT yang dimanfaatkan baru sekitar 16,3 GW atau kurang dari 0,5 persen dari total potensi.
"Artinya, ruang investasi kita masih sangat besar, baik pada sektor pembangkitan, jaringan transmisi, penyimpanan energi (BESS), maupun industri manufaktur pendukungnya," jelas Rudy.
Target Hilirisasi dan Mitra Jangka Panjang
Untuk mendorong percepatan hilirisasi rendah karbon, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM telah memetakan 28 komoditas strategis di 8 sektor utama dengan potensi investasi mencapai USD 618,1 miliar hingga tahun 2040. Proyek ini diproyeksikan mampu membuka lebih dari 3 juta lapangan kerja baru.
Ketersediaan pasokan energi bersih juga diyakini dapat menjadi daya tarik utama bagi sektor industri masa depan, seperti kawasan industri hijau, pusat data (data center), amonia hijau, teknologi carbon capture and storage (CCS/CCUS), hingga pasar karbon.
Baca Juga
Airlangga Ungkap Modal US$ 20 Miliar untuk 'Green Economy', RI Bidik Peluang Digital US$ 600 Miliar
Pemerintah menekankan bahwa Indonesia tidak ingin sekadar menjadi pemasok bahan mentah. Oleh karena itu, Indonesia terus menjaring kemitraan global yang tidak hanya membawa modal, tetapi juga transfer teknologi, kompetensi, serta komitmen jangka panjang.
"Kecepatan transformasi ini ditentukan oleh sinergi erat antara pemerintah, BUMN, swasta, lembaga keuangan, dan investor global. Realisasi investasi yang masuk harus berujung pada nilai tambah, lapangan kerja berkualitas, serta pertumbuhan ekonomi yang inklusif," pungkasnya.
