Kerja Sama RI-China Bisa Hasilkan 9.500 Ton Ikan per Tahun
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Indonesia menjalin kerja sama dengan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) atau China melalui skema Technical Cooperation Guidelines (TCG). Program ini dilakukan guna membuka kesempatan kerja, pengalaman, peningkatan keterampilan, serta peluang peningkatan kesejahteraan bagi awak kapal perikanan Indonesia.
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengatakan, realisasi kerja sama Indonesia-Tiongkok melalui skema TCG tidak semata diarahkan untuk meningkatkan produksi ikan, tetapi juga harus memberikan nilai tambah bagi Indonesia melalui penyerapan tenaga kerja dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
“Kerja sama ini harus memberikan nilai tambah bagi Indonesia, baik melalui peningkatan aktivitas ekonomi, penguatan industri perikanan, penyerapan tenaga kerja, peningkatan kapasitas pelaku usaha, maupun pengembangan teknologi dan rantai pasok perikanan nasional,” kata Menteri Trenggono dalam keterangan tertulisnya, Minggu (27/9/2026).
KKP mulai mengimplementasikan kerja sama RI-RRT melalui TCG dengan menyiapkan 33 kapal perikanan berbendera Indonesia untuk mengoptimalkan potensi sumber daya ikan di WPPNRI 718 atau perairan Arafura.
Sebanyak 669 tenaga kerja terlibat dalam operasional 33 kapal tersebut. Armada tersebut diproyeksikan menghasilkan sekitar 9.500 ton ikan per tahun sesuai kuota yang telah ditetapkan. Selain itu, dari kerja sama tersebut diperkirakan memberikan kontribusi terhadap PNBP sekitar Rp65 miliar.
Dalam kesempatan tersebut, Mualim I KM SMMRF 88, Erwin Agung Triono, mengatakan program tersebut memberikan manfaat bagi awak kapal, terutama dalam membangun sumber daya manusia perikanan yang lebih berkualitas, mandiri, dan memiliki kemampuan untuk bersaing secara global.
“Jangan hanya berhenti di sini, tapi berkelanjutan. Saya harap bisa mencetak sumber daya manusia kelautan yang berwawasan, mempunyai kemampuan, skill, dan bisa bersaing dengan negara-negara luar,” ujar Erwin
Dia menilai keberlanjutan program juga penting untuk proses regenerasi tenaga kerja perikanan. Pengalaman dan keterampilan yang diperoleh awak kapal saat ini diharapkan dapat ditularkan kepada generasi berikutnya.
Harapan serupa disampaikan Marito, nelayan asal Kebumen, Jawa Tengah. Menurutnya, program TCG turut membuka kesempatan kerja bagi masyarakat, khususnya di tengah kebutuhan penyerapan tenaga kerja di sektor perikanan. “Tenaga semakin banyak yang menganggur akhirnya bisa terserap dalam rangka mengikuti program TCG ini,” tambah Marito.
Dari sisi kesejahteraan, awak kapal mendapatkan gaji, bonus atau premi berdasarkan hasil tangkapan, serta perlindungan asuransi kesehatan kerja, kematian, dan ketenagakerjaan. Skema tersebut membuat awak kapal memiliki insentif yang berkaitan langsung dengan produktivitas penangkapan.
