Harga Emas Turun ke US$4.275, Pasar Antisipasi Kenaikan Bunga The Fed
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas dunia turun mendekati US$ 4.275 per troy ounce pada sesi awal Asia, Jumat (25/9/2026), tertekan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada Oktober. Tekanan terhadap emas menguat setelah yield obligasi AS naik dan harga minyak kembali meningkat sehingga risiko inflasi menjadi perhatian pasar.
Dilansir FX Street, Pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada Oktober mencapai sekitar 67,5%, naik dari 55,4% sepekan sebelumnya berdasarkan CME FedWatch.
Harga emas dalam denominasi dolar AS sensitif terhadap perubahan suku bunga dan yield obligasi. Ketika imbal hasil aset berbunga meningkat, emas yang tidak memberikan bunga menjadi relatif kurang menarik bagi sebagian investor.
Tekanan tersebut juga tercermin dalam pergerakan emas sepanjang pekan. Pada Kamis (24/9/2026), harga spot emas berada di sekitar US$ 4.291,48 per troy ounce, sementara emas berjangka AS untuk pengiriman Desember berada di US$ 4.326,30.
Yield Treasury 10 tahun sempat berada di sekitar 5,16% pada Kamis, level tertinggi sejak 2007, sementara yield Treasury 30 tahun mencapai sekitar 5,446%, tertinggi sejak 2004.
Baca Juga
Peluang Emas Indonesia di Asian Games 2026 Terbuka, 14 Final Partai Menanti
Kenaikan yield tersebut terjadi setelah data aktivitas ekonomi AS menunjukkan ketahanan ekonomi yang lebih kuat dari perkiraan. Data S&P Global Composite Purchasing Managers' Index (PMI), indikator aktivitas bisnis sektor manufaktur dan jasa, mencapai 58,4 pada September, level tertinggi sejak Juli 2021.
Harga minyak juga kembali menjadi perhatian. Pemulihan harga minyak setelah pembicaraan Amerika Serikat dan Iran belum menunjukkan kemajuan berarti meningkatkan kekhawatiran bahwa biaya energi dapat kembali mendorong inflasi.
Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams dan Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland Beth Hammack dijadwalkan berbicara pada Jumat (25/9/2026). Pernyataan keduanya menjadi perhatian pasar untuk melihat arah kebijakan suku bunga berikutnya.
Pejabat The Fed Makin Hawkish
Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland Beth Hammack mengatakan pada Kamis (24/9/2026) bahwa tekanan inflasi masih tinggi. Menurut dia, semakin lama inflasi bertahan pada level tinggi, semakin sulit mengembalikannya ke target.
Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams juga mengatakan inflasi perlu dikembalikan ke target secara tepat waktu dan membuka kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan sebelum akhir tahun.
Pergerakan dolar AS juga menjadi faktor yang diperhatikan investor emas. Pada pekan ini, dolar telah menguat ke level tertinggi dalam sekitar dua bulan, sehingga ikut menekan permintaan terhadap emas dalam denominasi dolar.
Di tengah tekanan dari kebijakan moneter AS, permintaan fisik dari China menjadi salah satu penopang utama pasar emas pada 2026.
Analis Commerzbank mencatat data otoritas bea cukai China menunjukkan impor emas negara tersebut telah melampaui 1.000 ton dalam delapan bulan pertama 2026. Jumlah tersebut bahkan telah melampaui total impor sepanjang tahun sebelumnya.
Baca Juga
Harga Emas Turun di Bawah US$ 4.300, Peluang Kenaikan Suku Bunga The Fed Naik
Pembelian oleh sektor resmi juga memperkuat permintaan. Menurut analisis Commerzbank yang dikutip dalam laporan pasar, bank sentral China membeli sekitar 80 ton emas sepanjang Januari hingga Agustus 2026.
Pembelian tersebut meningkat dalam beberapa bulan terakhir dan mencapai level tertinggi dalam hampir tiga tahun pada Agustus. Kondisi ini membuat permintaan China menjadi salah satu faktor utama yang diperhatikan pelaku pasar emas pada tahun ini.
