Persetujuan RKAB Tambang Bertambah, Kinerja United Tractors (UNTR) Tidak Bisa Langsung Pulih
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) produksi batu bara oleh pemerintah belum serta-merta mendongkrak kinerja penjualan alat berat PT United Tractors Tbk (UNTR) pada semester II-2026.
Direktur Keuangan United Tractors Vilihati Surya mengatakan, hingga Agustus 2026, penjualan alat berat Komatsu masih mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan terjadi baik pada segmen big machine maupun small machine.
“Kalau ditanya untuk second half this year sampai akhir 2026, kelihatannya RKAB-RKAB yang baru disetujui hingga Agustus itu masih belum berimbas banyak ke perusahaan kontraktor tambang,” ujar Vilihati dalam Astra Media Day 2026 di Catur Dharma, Menara Astra, Rabu (23/9/2026).
Menurut dia, RKAB produksi batu bara nasional yang telah disetujui pemerintah hingga Agustus 2026 diperkirakan mencapai 750 juta ton-780 juta ton. Persetujuan tersebut menjadi sinyal positif bagi industri pertambangan batubara, termasuk bisnis kontraktor pertambangan dan anak usaha United Tractors, PT Tuah Turangga Agung (TTA).
TTA sendiri mencatat kenaikan target produksi batu bara dari sekitar 7,4 juta ton menjadi 12,4 juta ton. Namun, dampak positif ini terhadap penjualan alat berat United Tractors dinilai membutuhkan waktu.
Baca Juga
Pendapatan United Tractors (UNTR) Capai Rp 58,3 Triliun pada Semester I-2026, Bagaimana Labanya?
Vilihati menjelaskan, perusahaan tambang dan kontraktor pertambangan saat ini cenderung mengoptimalkan alat berat yang sudah tersedia sebelum kembali melakukan pembelian unit baru. Hal ini dilakukan lantaran sebelumnya terjadi penurunan kuota produksi batu bara yang berdampak terhadap utilisasi alat berat milik kontraktor. “Jadi mereka mulai memanfaatkan existing unitnya dulu. Baru mereka melakukan pembelian,” jelasnya.
Dia mencontohkan kondisi tersebut juga terjadi di PT Pamapersada Nusantara (PAMA), anak usaha United Tractors yang bergerak di bidang kontraktor pertambangan. Sebagai direktur keuangan, Vilihati mewajarkan PAMA yang terlebih dahulu mengoptimalkan unit yang sudah dimiliki, sebelum menambah belanja modal untuk pembelian alat berat.
Pasalnya, saat aktivitas operasional tambang terdampak penurunan RKAB, sebagian unit alat berat kontraktor menjadi idle. Vilihati menyebut tingkat unit idle tersebut sempat mencapai sekitar 30%.
“Jadi kalau kita lihat kemarin impact RKAB yang turun itu memang berimbas semua mining contracting. Customer United Tractors mulai ngerem beli Komatsu dan ternyata unit-unit mereka masih idle,” katanya.
Sementara penjualan Komatsu United Tractors hingga Agustus 2026 turun 21% menjadi 2.689 unit dibandingkan periode Januari-Agustus 2025. Penurunan terutama berasal dari penjualan big machine yang merosot 49% menjadi 436 unit.
“Unfortunately tahun ini memang karena impact dari RKAB, indirectly customer-customer-nya di divisi sales terutama di coal mining itu ngerem pembelian alat berat,” ujar Vilihati.
Meski penjualan alat berat masih tertekan, bisnis suku cadang dan jasa United Tractors relatif lebih stabil. Hingga Agustus 2026, pendapatan bersih dari bisnis spare parts dan services naik sekitar 1% (yoy) menjadi Rp 5,5 triliun.
Pemulihan Bertahap Mulai 2027
Sepanjang 2026, United Tractors masih mempertahankan target penjualan alat berat sekitar 4.000 unit, dengan penjualan big machine diperkirakan sekitar 800 unit.
Baca Juga
Revisi RKAB Jadi Katalis, Saham UNTR Berpeluang Menuju Rp 30.600?
Vilihati mengatakan, pemulihan penjualan alat berat diperkirakan berlangsung secara bertahap mulai 2027. Namun, peningkatannya diperkirakan belum terlalu signifikan karena perusahaan masih akan melihat perkembangan RKAB produksi batu bara. “Di 2027 mungkin ada kenaikan tetapi not extraordinary sambil kita melihat RKAB,” ujarnya.
Menurut dia, jika RKAB produksi batubara terus meningkat, kondisi tersebut berpotensi menjadi katalis bagi penjualan alat berat United Tractors. Namun, kebutuhan penggantian (replacement) alat berat di industri pertambangan juga akan menjadi faktor yang perlu diperhatikan.
“Kalau RKAB-nya naik terus? Itu benar-benar keberuntungan buat United Tractors dan bisa nanti bertambah,” pungkas Vilihati.
