Waspadai 3 Dampak Geopolitik, BI Singgung Komoditas, Finansial, hingga Perdagangan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Bank Indonesia (BI) mewaspadai tiga jalur yang berpotensi terdampak akibat meningkatnya tensi geopolitik global. Deputi Gubernur Senior BI, Aida S. Budiman menjelaskan tiga jalur tersebut adalah harga komoditas, finansial, dan perdagangan.
Aida mengatakan gejolak geopolitik berdampak ke harga minyak yang volatil. Harga minyak mentah dunia, sempat menembus US$ 130 per barel. Meski akhirnya turun di bawah US$ 100 per barel. “Year to date itu, kalau kita hitung Brent sekitar US$ 92 per barel,” kata Aida, saat Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, di kantor BI, Jakarta, Rabu (23/9/2026).
Baca Juga
Aida menjelaskan kondisi ini berdampak ke jalur finansial. Harga komoditas tersebut tidak hanya memengaruhi sentimen, tetapi imbal hasil surat utang Amerika Serikat (AS), yaitu US Treasury 10 tahun. “Tadinya (imbal hasil) dia (US Treasury) masih di bawah sekitar 4,5%, sekarang sudah 5,2%. Itu yang terjadi,” ujar dia.
Selain itu, Fed Fund Rate (FFR) juga mulai bergerak naik. Kenaikan juga terjadi pada suku bunga Bank Sentral Eropa atau European Central Bank (ECB) dan Bank of Japan (BoJ). “Artinya sudah terjadi dampak dari harga-harga komoditas tersebut kepada inflasi,” kata dia.
Sementara itu, Aida mencatat adanya dua dampak, yaitu kenaikan harga impor migas dan mengerek harga komoditas ekspor, semisal minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO), batu bara, dan nikel. “Sehingga PDB (produk domestik bruto) kita yang juga tadi memang sedikit terpengaruh, tapi kita punya domestic demand, konsumsi, dan investasi,” ujar dia.
Selain optimistis pertumbuhan ekonomi, Aida menyebut bahwa inflasi masih terjaga. Berpatokan ke inflasi inti 2,92% pada Agustus 2026, BI yakin inflasi tetap sesuai target sebesar 2,5% plus minus 1%.
“Kita masih punya ruang yang cukup baik dalam menjaga dampak dari global ke inflasi dan kemudian masih dalam target inflasi kita. Proyeksi yang kami lihat ini semuanya masih di bawah 3,5% dan bahkan masih sekitar 3%. Jadi, inflasinya masih baik,”kata dia.
Baca Juga
Aida melihat yang perlu menjadi perhatian ke depan, yaitu Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) atau balance of payment. Sebab, NPI pada kuartal II-2026 mengalami defisit yang cukup tinggi sebesar 3,3% karena account deficit.
“Meski reserve (cadangan devisa) kita itu masih terjaga di US$ 146,5 miliar. Cukup untuk 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri. Jadi dari itu semua, tampaknya secara fundamental kita masih cukup bagus,” ucap dia.
