AI Mengubah Kebutuhan Perusahaan Indonesia terhadap Jaringan
Oleh: Haris Izmee (Managing Director, Equinix Indonesia) dan Reich Stenitho (Lead Sales Engineer, Equinix)
INVESTORTRUST - Ekonomi digital Indonesia terus membuka peluang baru bagi perusahaan untuk melayani pelanggan, meningkatkan operasional, dan menghadirkan layanan digital baru. Sebagai salah satu pasar digital terbesar dan paling dinamis di Asia Tenggara, Indonesia kini semakin bergerak dari sekadar pertumbuhan digital menuju layanan dan model bisnis yang didukung oleh kecerdasan buatan (AI). 1
Seiring perusahaan mempercepat transformasi digital, banyak yang juga mulai mengeksplorasi bagaimana generative AI dapat mendukung berbagai area, seperti layanan pelanggan, deteksi penipuan, manajemen rantai pasok, dan pengambilan keputusan. Namun, keberhasilan dalam mengembangkan AI tidak hanya bergantung pada pemilihan model yang tepat atau peningkatan kapasitas komputasi. Dibutuhkan pula fondasi jaringan yang tepat.
Bagi perusahaan di Indonesia, beban kerja AI kemungkinan tidak akan berada di satu lokasi. Data perusahaan dapat tetap berada di Indonesia, sementara model AI, lingkungan cloud, mitra, dan pelanggan beroperasi di Singapura, Malaysia, Australia, Jepang, dan pasar global lainnya. Satu layanan berbasis AI dapat melibatkan data perusahaan, aplikasi, platform cloud, model AI pihak ketiga, dan mitra bisnis yang tersebar di berbagai lokasi. Hal ini menciptakan lingkungan yang semakin kompleks bagi perusahaan, terutama ketika mereka perlu menyeimbangkan performa, keamanan, biaya, dan tata kelola.
Dalam konteks ini, jaringan tidak lagi dapat dipandang sekadar sebagai infrastruktur yang memindahkan data dari satu titik ke titik lainnya. Jaringan kini menjadi bagian yang semakin penting dalam bagaimana perusahaan menerapkan, mengelola, dan mengembangkan AI.
Konektivitas Jadi Pertimbangan Strategis
Aplikasi AI bergantung pada kemampuan untuk mengakses data, model, dan berbagai tools secara cepat dan aman. Seiring perusahaan mengadopsi lebih banyak layanan cloud dan terhubung dengan ekosistem penyedia layanan serta mitra yang semakin luas, kebutuhan ini juga akan terus meningkat.
Bagi para pemimpin bisnis, hal ini berarti konektivitas tidak lagi sekadar menjadi urusan IT. Konektivitas secara langsung memengaruhi pengalaman pelanggan, kepatuhan terhadap regulasi, efisiensi operasional, serta biaya untuk mengembangkan inisiatif AI.
Semua ini merupakan hasil bisnis yang ingin dicapai perusahaan, bukan sekadar kebutuhan jaringan. Namun, hasil tersebut hanya dapat dicapai ketika infrastruktur digital yang mendasarinya mampu mendukungnya.
Hal ini menjadi semakin penting ketika perusahaan beralih dari tahap eksperimen dengan generative AI menuju penerapan use case yang lebih maju. Agentic AI, misalnya, memungkinkan sistem AI berinteraksi dengan berbagai tools, sumber data, dan aplikasi untuk menyelesaikan tugas. Meskipun pendekatan ini dapat meningkatkan produktivitas, kebutuhan akan visibilitas dan kontrol terhadap bagaimana data dan beban kerja berpindah di berbagai lingkungan juga semakin besar.
Tata Kelola AI Lampaui Lapisan Aplikasi
Seiring penerapan AI menjadi semakin terhubung, tata kelola tidak dapat berhenti pada lapisan aplikasi atau model. Perusahaan juga perlu mempertimbangkan di mana beban kerja diproses, bagaimana data berpindah, serta apakah koneksi yang digunakan cukup aman dan andal untuk mendukung use case yang dijalankan.
Ini bukan berarti setiap perusahaan perlu membangun jaringan yang sepenuhnya baru sebelum mengadopsi AI. Namun, strategi jaringan perlu menjadi bagian dari pembahasan mengenai AI sejak awal.
Para pemimpin bisnis dan teknologi perlu mempertimbangkan beberapa pertanyaan berikut:
- Apakah kita dapat menghubungkan data, aplikasi, lingkungan cloud, dan model AI secara aman?
- Apakah kita memiliki visibilitas mengenai di mana data sensitif diproses dan bagaimana data tersebut berpindah?
- Apakah infrastruktur kita mampu mendukung performa yang andal seiring meningkatnya beban kerja AI?
- Apakah kita dapat terhubung dengan penyedia cloud, penyedia model AI, dan mitra ekosistem yang dibutuhkan tanpa menciptakan kompleksitas atau vendor lock-in yang tidak perlu?
- Apakah jaringan kita dapat beradaptasi seiring perubahan prioritas bisnis, kebutuhan pengguna, dan kebutuhan AI?
Menjawab pertanyaan-pertanyaan ini sejak awal dapat membantu perusahaan menghindari pendekatan yang menjadikan infrastruktur AI hanya sebagai pertimbangan setelah semuanya sudah terjadi. Hal ini juga dapat memastikan bahwa inisiatif AI dirancang dengan mempertimbangkan ketahanan, keamanan, dan skalabilitas.
Distributed AI
Skala geografis Indonesia dan ekosistem digitalnya yang beragam menjadikan konektivitas yang andal semakin penting. Perusahaan kini tidak hanya perlu menghubungkan infrastruktur mereka sendiri, tetapi juga penyedia cloud, platform AI, ekosistem finansial, penyedia layanan digital, dan mitra bisnis di Indonesia maupun pasar internasional.
Untuk beberapa beban kerja AI, khususnya yang melibatkan data sensitif atau interaksi pengguna secara real-time, internet publik tidak selalu memberikan tingkat prediktabilitas, privasi, atau kontrol yang dibutuhkan perusahaan. Interkoneksi yang bersifat privat dan netral dapat membantu perusahaan membangun koneksi yang lebih langsung dengan layanan digital dan mitra yang mendukung strategi AI mereka.
Pendekatan ini juga memberikan fleksibilitas yang lebih besar bagi perusahaan. Alih-alih bergantung pada satu lingkungan, perusahaan dapat memilih penyedia cloud, model, dan mitra yang paling sesuai dengan kebutuhannya, sembari mempertahankan kontrol yang lebih baik atas konektivitas dan performa.
Mempersiapkan Tahap Berikutnya dalam Adopsi AI
Tahap berikutnya dari adopsi AI tidak hanya akan ditentukan oleh kemampuan model yang semakin canggih, tetapi juga oleh kemampuan perusahaan untuk menerapkannya secara bertanggung jawab dan dalam skala besar.
Bagi perusahaan di Indonesia, hal ini berarti melihat lebih jauh dari sekadar tools AI individual dan mulai mempertimbangkan fondasi digital yang mendukungnya secara keseluruhan. Jaringan akan memainkan peran penting dalam menghubungkan data, aplikasi, model, dan mitra ekosistem yang tepat secara aman, andal, dan sesuai dengan kebutuhan bisnis.
Di Equinix, kami melihat perubahan ini secara langsung. Seiring perusahaan membangun infrastruktur digital yang semakin terdistribusi, mereka mencari cara untuk menghubungkan lingkungan cloud, data, aplikasi, dan koneksi ekosistem melalui interkoneksi yang privat, netral, dan berperforma tinggi. Di Indonesia, Equinix IBX JK1 menyediakan akses ke ekosistem global yang terdiri dari jaringan, penyedia cloud, dan mitra digital. Hal ini memungkinkan perusahaan di Indonesia untuk melakukan interkoneksi secara lokal sekaligus memperluas operasional digital mereka secara global melalui konektivitas yang privat dan aman.
AI akan terus mengubah cara perusahaan Indonesia beroperasi. Perusahaan yang paling siap memanfaatkan peluang tersebut adalah mereka yang memastikan infrastruktur digital, khususnya jaringan, mampu mengikuti perkembangan tersebut.
Seiring ekosistem AI terus berkembang, keunggulan kompetitif tidak hanya akan ditentukan oleh akses terhadap model AI, tetapi juga oleh kemampuan untuk menghubungkan orang, data, aplikasi, dan mitra secara aman di berbagai pasar. Di sinilah infrastruktur digital menjadi pembeda bisnis, bukan sekadar kebutuhan operasional.
Dengan Equinix Fabric Intelligence™, perusahaan dapat memastikan jaringan mereka dapat berbicara dalam bahasa yang sama dengan kebutuhan bisnis, di setiap lapisan dan interaksi.***
