Wamenlu Havas: Transisi Energi Berbasis Kelapa Sawit Tegaskan Posisi Indonesia di Ekonomi Global
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Arif Havas Oegroseno menyampaikan bahwa transisi energi berbasis kelapa sawit bukan sekadar alat ketahanan energi, melainkan bagian dari posisi strategis Indonesia dalam lanskap ekonomi dan geopolitik global.
"Tujuan utama kita adalah mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil impor, mengembalikan nilai tambah yang lebih tinggi bagi ekonomi nasional, memperkuat penerimaan negara, serta membangun kapabilitas industri domestik,” kata Havas dalam keterangan resminya, dikutip Selasa (22/6/2026).
Havas menyebut bahwa konsep ketahanan energi saat ini telah bergeser. Dahulu, kata dia, ketahanan energi hanya berfokus pada akses pasokan minyak dan gas. Kini fokusnya mencakup pembangunan rantai nilai, daya tahan (resilience), penguasaan teknologi, serta kemandirian pemanfaatan sumber daya industri secara bertanggung jawab.
Terkait dinamika perdagangan dan regulasi keberlanjutan internasional, Havas menegaskan posisi Indonesia yang menuntut penerapannya dilakukan secara adil, ilmiah, dan non-diskriminatif.
Havas menyoroti beberapa poin aturan diskriminatif di World Trade Organization (WTO) terkait perlakuan terhadap minyak nabati berbasis sawit. Menurutnya, Indonesia tidak pernah menolak prinsip perlindungan lingkungan, namun menolak standar ganda yang digunakan sebagai alat proteksionisme geografis.
"Standar lingkungan tidak boleh menjadi proksi untuk proteksi geografis seolah minyak nabati dari satu kawasan dianggap benar, sementara dari kawasan lain dianggap bermasalah," ujar dia.
Havas menegaskan bahwa prinsip keberlanjutan harus diberlakukan secara setara, baik untuk minyak sawit di Indonesia, minyak kedelai di Brazil, maupun minyak nabati yang diproduksi di Eropa. Penilaian dampak lingkungan harus mengukur kondisi riil di lapangan serta memperhitungkan keadilan bagi para petani kecil.
“Melalui posisi diplomasi yang lebih kuat, Indonesia mendorong dialog internasional untuk menyusun kerangka kerja keberlanjutan yang transparan, terukur secara sains, serta proporsional guna mendukung perdagangan biofuel global yang adil,” ujar dia.
Dalam pidato pembukaannya, Vice Chairperson Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI) Catra Aradea de Thouars menjelaskan bahwa pasar energi global saat ini tengah menghadapi tantangan dalam menjaga kedaulatan energi sembari menekan emisi karbon.
Di kawasan Asia Tenggara, pengembangan bahan bakar nabati berbasis sawit dinilai terbukti efektif mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil.
"Di Asia Tenggara, kemajuan kita terlihat nyata. Indonesia terus memelopori mandat pencampuran tinggi melalui transisi dari B40 menuju B50, sementara Malaysia dan Thailand turut memperluas program domestik mereka. Biodiesel sawit bukan lagi sekadar bahan bakar alternatif, melainkan fondasi kemandirian energi dan stabilitas ekonomi," ujar Catra.
Baca Juga
Gapki: Teknologi Pangkas Downtime, Industri Sawit Makin Efisien
Catra menambahkan, ekspansi industri kini tidak hanya berfokus pada kendaraan darat, tetapi juga mulai merambah ke pengembangan bioetanol, B100 konsentrasi tinggi, hingga bahan bakar penerbangan berkelanjutan (Sustainable Aviation Fuel/SAF).
Dalam forum 6th Palm Biodiesel Conference 2026 pekan lalu, Atase Pertanian Kedutaan Besar Brasil di Jakarta, Carlos Alberto Turchetto Jr. mengungkapkan bahwa keberhasilan negaranya menjadi benchmark global bioetanol tidak dicapai secara instan, melainkan melalui proses pengujian teknologi, penyempurnaan kebijakan, hingga adaptasi pasar sejak 1931.
"Kunci terbesar keberhasilan program bioetanol di Brazil adalah memberikan pilihan (choice) dan fleksibilitas bagi konsumen," ujar Turchetto.
Turchetto membeberkan bahwa pengembangan bioetanol Brazil sempat menemui jalan buntu dan krisis hebat pada akhir 1980-an akibat ketergantungan pada kontrol harga, subsidi, serta ketiadaan diversifikasi bahan baku.
Namun, titik balik industri terjadi pada 2003 seiring lahirnya inovasi teknologi mesin Flex-Fuel yang diinisiasi oleh industri otomotif. Teknologi ini memungkinkan kendaraan mengonsumsi bensin, etanol, maupun campuran keduanya dalam proporsi 0% hingga 100%.
