Pemerintah Targetkan 1 Juta Sambungan Jargas Rampung 2028
Poin Penting
|
GRESIK, Investortrust.id - Pemerintah mempercepat pengoperasian jaringan gas bumi rumah tangga (jargas) di Gresik, Jawa Timur, sebagai bagian target 1 juta sambungan rumah (SR) hingga 2028. Kepala Staf Kepresidenan Jenderal TNI Purnawirawan Dudung Abdurachman meninjau kesiapan fasilitas tersebut pada Jumat (18/9/2026), dengan progres fisik pembangunan telah mencapai 95,4%.
Kunjungan Dudung dilakukan di Metering Regulating Station (MRS) jargas dan dilanjutkan dengan dialog bersama calon penerima manfaat. Pemerintah menargetkan pembangunan 119.379 sambungan rumah di 15 kabupaten dan kota pada tahap 2025–2026.
“Saya memastikan untuk hadir dalam rangka kesiapan pengoperasian jargas rumah tangga yang dibangun melalui APBN di Kabupaten Gresik,” kata Dudung dikutip Senin (21/9/2026).
Baca Juga
Percepatan pembangunan dilakukan melalui koordinasi lintas kementerian dan lembaga yang difasilitasi Kantor Staf Presiden (KSP) untuk mengurai hambatan dalam proses pembangunan dan pengoperasian jargas. Dudung menyebut proses tersebut mencakup penyelesaian sejumlah persoalan perizinan yang sebelumnya menahan operasional jaringan gas.
“Kendala perizinan selama ini yang menahan pengoperasian sudah terselesaikan. Persetujuan lingkungan hidup UKL-UPL (Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup) juga telah terbit untuk kedua kabupaten, rekomendasi teknis ruas jalan Kabupaten Gresik telah dikeluarkan, dan rekomendasi teknis perlintasan sungai juga telah ditandatangani,” ujar Dudung.
Progres fisik jargas di Gresik tercatat 95,4%, atau sekitar 4,6% lebih cepat dibandingkan rencana. Pemerintah juga telah mengalokasikan 7.363 sambungan rumah untuk Gresik dan 7.223 sambungan rumah untuk Sidoarjo. Dengan demikian, kedua kabupaten tersebut memperoleh total 14.586 sambungan rumah.
Kejar 1 Juta Sambungan
Pemerintah menempatkan pembangunan jargas sebagai bagian dari program prioritas nasional untuk memperluas penggunaan gas bumi di tingkat rumah tangga. Program tersebut diarahkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap LPG impor sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap jaringan energi berbasis pipa.
“Kunjungan kali ini adalah tugas saya mengawal program prioritas nasional sesuai arahan Bapak Presiden, khususnya mengawal swasembada energi dan pengurangan ketergantungan pada impor LPG,” kata Dudung.
Ia menyebut pembangunan jaringan gas perkotaan juga masuk dalam Program Kerja Prioritas Nasional pada Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2027. Pembangunan jaringan gas perkotaan tersebut berstatus Proyek Strategis Nasional berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2025.
Setelah persoalan perizinan di Gresik dan Sidoarjo terselesaikan, pemerintah mulai mengalihkan fokus ke tahap pengoperasian. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral diminta menetapkan badan usaha pengelola sekaligus menerbitkan izin usaha niaga gas bumi.
Sementara itu, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) diminta memastikan alokasi gas dan titik serah. Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi atau BPH Migas juga diminta menyiapkan harga gas rumah tangga yang lebih murah dibandingkan LPG tabung 3 kilogram.
Dudung mengatakan pembangunan jargas akan terus diperluas untuk mengejar target 1 juta sambungan rumah pada 2028. Pemerintah juga meminta proses perizinan di wilayah berikutnya disiapkan sejak tahap perencanaan agar tidak menjadi hambatan ketika pembangunan fisik telah selesai.
“Pembangunan jaringan gas akan terus berlanjut menuju sasaran 1 juta sambungan rumah. Karena itu, dukungan setiap kementerian dan lembaga tetap dibutuhkan agar perizinan pada lokasi berikutnya disiapkan sejak perencanaan dan diproses secara paralel. Tujuannya untuk mengurangi impor LPG,” ujarnya.
Baca Juga
Menurut Dudung, sekitar 80% kebutuhan LPG nasional masih dipenuhi melalui impor. Dengan beroperasinya 14.586 sambungan rumah di Gresik dan Sidoarjo, konsumsi LPG 3 kilogram bersubsidi diperkirakan berkurang sekitar 36.600 tabung per bulan.
Dudung juga menilai penggunaan jargas dapat memberikan manfaat bagi rumah tangga dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM melalui akses gas yang tersalurkan langsung lewat jaringan pipa.
“Otomatis kalau misalnya gas itu dengan harga yang tadi saya sebutkan Rp 70.000, terutama bagi perekonomian, UMKM, yang kemudian akhirnya cuma Rp 20.000, ini akan sangat membantu, artinya meringankan beban masyarakat. Mudah-mudahan ke depannya lagi akan dikembangkan semakin banyak Jargas,” katanya.
Ketika ditanya mengenai target penyelesaian pembangunan 1 juta sambungan rumah, Dudung memberikan target 2028. “2028. 2028 selesai,” ujarnya.
