Prabowo Bidik Pelelangan 'Giant Sea Wall' Tahun Depan, Teluk Jakarta Makan Waktu 8 Tahun
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Presiden Prabowo Subianto menargetkan, pembagian kontrak pembangunan alias pelelangan Giant Sea Wall (GSW) atau tanggul laut raksasa di Pantai Utara (Pantura) Jawa mulai dilakukan pada awal 2027. Pembangunan di wilayah Teluk Jakarta diperkirakan membutuhkan waktu hingga delapan tahun.
"Yang sangat penting bagi kita adalah Giant Sea Wall. Jadi kita harus selamatkan Pantai Utara Jawa. Nanti di awal tahun 2027 mungkin kita sudah akan membagi kontrak-kontrak itu. Sudah ada yang berminat dan sudah ada yang mau finance (menaruh investasi, red) juga. Jadi ini salah satu proyek strategis yang harus kita jalankan," kata Prabowo dalam program Presiden Prabowo Menjawab, Kamis (17/9/2026)..
Proyek GSW tersebut akan membentang dari Tangerang hingga Jawa Timur dengan total panjang mencapai 575 kilometer (km). Pembangunan akan dibagi menjadi 15 segmen.
Ia menyampaikan, pembangunan Giant Sea Wall akan menjadi perlindungan terhadap kenaikan muka air laut di sepanjang Pantura Jawa. "Jadi kita harus bikin perlindungan terhadap naiknya laut. Jadi Giant Sea Wall istilahnya," ucap Kepala Negara.
Untuk wilayah Jakarta, pembangunan Giant Sea Wall diperkirakan membutuhkan waktu sekitar delapan tahun. Sementara pembangunan di Semarang disebut dapat berlangsung lebih cepat. "Ini programnya tidak cepat. Ke Jakarta saja mungkin delapan tahun kita perkirakan. Semarang mungkin lebih cepat," beber Prabowo.
Secara keseluruhan, penyelesaian Giant Sea Wall sepanjang 575 km diperkirakan membutuhkan waktu sekitar 20 tahun. Adapun estimasi tercepat pembangunan seluruh proyek tersebut sekitar 10-15 tahun.
"Tapi kalau selesainya itu semua saya perkirakan mungkin 20 tahun. Paling cepat mungkin 15 atau 10 tahun. Jadi saya tidak tahu nanti presiden mana yang menyelesaikan," papar Prabowo.
Baca Juga
Giant Sea Wall RI Makin Nyata, Menko AHY Cari Partner dari Luar Negeri
Menurutnya, pembangunan GSW menjadi proyek strategis karena kawasan Pantura Jawa memiliki banyak aktivitas ekonomi. Di kawasan tersebut terdapat 70 kawasan industri, lima kawasan ekonomi, dan poros logistik nasional. "Pembangunan Giant Sea Wall akan lindungi 50 juta rakyat kita. Dan juga mengamankan 38% PDB Indonesia," ungkap Prabowo.
Ia menambahkan, pembangunan GSW akan mencakup tanggul pantai, tanggul laut, hingga breakwater. "Di Pantai Utara Jawa ada 70 kawasan industri, lima kawasan ekonomi dan poros logistik nasional. Jadi ini sangat strategis," tutur Prabowo.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko IPK) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengungkap titik-titik lokasi yang menjadi tantangan paling sulit dalam pembangunan tanggul laut raksasa atau GSW di Pantura Jawa.
Ia menyebut kawasan Teluk Jakarta serta wilayah Semarang, Kendal, dan Demak di Jawa Tengah menjadi kawasan dengan tantangan paling berat dalam proyek tersebut.
"Memang tantangan paling sulit berada di Jakarta dan kawasan sekitar Kendal, Semarang, dan Demak. Di kawasan ini tentu terdapat pula desa atau kawasan nelayan," kata AHY di sela-sela Forum Koordinasi Penanganan Kawasan Kumuh Terpadu di kantor BRIN, Jakarta Pusat, Senin (14/9/2026).
AHY menyampaikan, pemerintah saat ini masih mematangkan masterplan proyek GSW yang dirancang untuk melindungi kawasan Pantura Jawa sepanjang 575 km. "Yang jelas saat ini kita terus mematangkan master plan-nya. 575 km ini adalah project yang luar biasa besar," ujar dia.
Menurut AHY, kawasan Semarang, Kendal, dan Demak menjadi wilayah yang paling terdampak persoalan penurunan muka tanah atau landsubsidence serta banjir rob. "Kemudian di Jawa Tengah itu yang paling terdampak land subsidence dan juga banjir rob tentu di wilayah Semarang, Kendal, dan Demak," imbuh dia.
Setelah kawasan yang paling rentan ditangani, pemerintah akan membagi proyek GSW ke dalam sejumlah segmen dari barat ke timur. AHY mengklaim, pemerintah juga menyiapkan tahapan sebelum pembangunan fisik GSW.
Baca Juga
Menurutnya, terdapat rencana groundbreaking program yang kemudian dilanjutkan dengan groundbreaking fisik. Namun, AHY belum memastikan tahapan dan jadwal pembangunan tersebut.
Pembangunan GSW menjadi salah satu program dalam klaster Infrastruktur, Perumahan, dan Ketahanan Bencana yang ditetapkan sebagai salah satu dari delapan Program Kerja Prioritas Nasional (PKPN) dalam RAPBN 2027.
Berdasarkan Buku Nota II Keuangan beserta RAPBN Tahun Anggaran 2027, belanja Kementerian/Lembaga untuk klaster Infrastruktur, Perumahan, dan Ketahanan Bencana pada 2027 direncanakan sebesar Rp 27,156 triliun. Proyek tersebut diperkirakan membutuhkan waktu 15-20 tahun dengan kebutuhan investasi sebesar US$ 100 miliar atau sekitar Rp 1.784 triliun dengan asumsi kurs Rp 17.842 per dolar AS.
