Danantara Tegur Inka Buntut Rugi Rp 677 Miliar dan Utang Rp 4,7 Triliun
JAKARTA, investortrust.id - PT Industri Kereta Api (Persero) atau Inka mendapat teguran keras dari Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) serta Badan Pengaturan (BP) Badan Usaha Milik Negara (BUMN) setelah mencatatkan kinerja keuangan negatif.
Kepala BP BUMN sekaligus Chief Operating Officer (COO) BPI Danantara, Dony Oskaria mengungkapkan, Inka mengalami kerugian hingga Rp 677 miliar. Selain itu, perseroan memiliki unsustain loan atau utang sebesar Rp 4,7 triliun.
Baca Juga
KRL Baru dari Inka Molor, KAI Commuter Ungkap Ada Denda dan Penalti
"Jadi menurut saya, Inka ini tidak dalam kondisi yang baik-baik saja. Kan aneh, Pak, masa kita rugi Rp 677 miliar. Orang perusahaan manufaktur, kemudian juga jelas yang diservisnya siapa. Rugi, terus ada unsustain loan Rp 4,7 triliun itu lawannya apa dulu," ungkap Dony seperti dikutip dalam unggahan Instagram @bumn_id, Rabu (16/9/2026).
Ihwal itu, Dony mendorong perbaikan kinerja keuangan Inka melalui tata kelola yang kuat, perencanaan yang komprehensif, serta benchmark terhadap praktik terbaik di industri. Dikatakan, seluruh jajaran Inka harus memiliki komitmen yang sama untuk memperbaiki kondisi perseroan.
Lebih lanjut, Dony memastikan, pemerintah akan mendorong transformasi total pabrikan kereta nasional itu. Transformasi tersebut mencakup model bisnis, tata kelola, budaya kerja, kualitas produksi, hingga sistem operasional.
Dony menilai, peningkatan kualitas produksi menjadi prioritas utama dalam transformasi Inka. Ia juga meminta perseroan segera menyusun grand plan transformasi.
"Kita butuh Inka ini, butuh buat apa? Untuk employment, untuk industrialisasi. Industrialisasi kereta api. Karena saya maunya itu, ya, kayak tadi kan presiden (Prabowo Subianto) maunya industri kereta api kita ini betul-betul maju," katanya menegaskan.
Terpisah, Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi membuka peluang bagi pabrikan kereta api asing untuk berinvestasi di Indonesia. Kehadiran pabrikan asing dinilai dapat menciptakan kompetisi dan mendorong PT INKA menjadi lebih baik.
Hal itu disampaikannya saat media gathering di Jakarta Pusat, Kamis (10/9/2026). Pernyataan tersebut disampaikan ketika Menhub ditanya mengenai kereta rel listrik (KRL) produksi Inka yang sebelumnya mendapat sorotan publik karena ditarik balik ke pabrik untuk maintenance padahal belum genap setahun melayani masyarakat Jabodetabek.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal (Dirjen) Perkeretaapian Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Allan Tandiono menambahkan, pemerintah tentu membuka ruang bagi investor untuk menciptakan daya saing (competitiveness) di industri perkeretaapian nasional.
"Kalau usul pabrik di luar itu ya harus ada kompetisinya, harus ada 'Inka ke-2'. Supaya kompetisinya bisa membuat mereka lebih baik," jelas Allan.
Dudy melanjutkan, proses tersebut merupakan bagian dari upaya untuk mendewasakan industri perkeretaapian nasional. "Itulah proses mendewasakan industri perkeretaapian. Kayak anak belajar jalan, apakah perlu sambil megang 'kursi jalan'?" tutur dia.
Menurut Dudy, industri luar negeri dapat menjadi sarana pembelajaran bagi industri perkeretaapian dalam negeri.
Dudy pun mempersilakan pabrikan kereta asing yang berminat untuk berinvestasi dan membangun fasilitas produksi di Indonesia.
"Ya, kalau mereka berminat dan menganggap bahwa Indonesia adalah tempat yang bagus untuk investasi ya silakan saja," tandas dia.
Dia juga menyebut investasi pabrikan asing dapat memberikan manfaat berupa transfer teknologi dan penyerapan tenaga kerja.
Tak hanya itu, Allan Tandiono turut menyoroti pengalaman negara China yang menunjukkan bahwa kehadiran pemain asing dapat mendorong perkembangan industri domestik.
Di sisi lain, PT Inka saat ini juga terlibat dalam proses perawatan sarana KRL yang digunakan PT Kereta Commuter Indonesia (KAI Commuter).
KAI Commuter melakukan penyesuaian jadwal perjalanan sejak 7 September 2026 karena perawatan sarana KRL. Sebanyak 17 perjalanan KRL mengalami penyesuaian sehingga total perjalanan KRL atau commuterline Jabodetabek turun dari 1.065 menjadi 1.048 perjalanan per hari.
Baca Juga
PT Inka Tertekan Utang Rp 4,7 Triliun, Danantara Siapkan Transformasi Bisnis
Kemudian, pada Kamis (10/9/2026), KAI Commuter menambah kembali 13 perjalanan commuterline lintas Bogor setelah melakukan evaluasi terhadap kepadatan pengguna. Dengan penambahan tersebut, total perjalanan KRL Jabodetabek menjadi 1.061 perjalanan per hari.
Dalam proses perawatan tersebut, Inka bersama KAI Commuter melakukan General Check Up terhadap rangkaian KRL seri iE305 produksi Inka
Pemeriksaan dilakukan terhadap sejumlah komponen, termasuk sistem bogie, sistem propulsi, serta komponen yang berkaitan dengan aspek keselamatan perjalanan.
