Gaet Turis Mancanegara, Gubernur Sumbar Dorong Penguatan Konektivitas dan Pengalaman Wisata
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Gubernur Sumatera Barat (Sumbar) Mahyeldi Ansharullah, mendorong penguatan konektivitas dan kualitas layanan pariwisata untuk meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara ke Sumatera Barat.
Menurutnya, Sumbar memiliki kekayaan alam, budaya, sejarah, dan kuliner yang dapat dikembangkan menjadi pengalaman wisata terpadu, namun masih membutuhkan dukungan kolaborasi untuk meningkatkan aksesibilitas dan kualitas destinasi.
“Kami ingin mengajak Bapak Ibu semua membayangkan sebuah perjalanan dari ombak Samudera Hindia di Mentawai, kemudian menuju Mandeh, naik ke dataran Minangkabau, kemudian bertemu dengan masyarakat yang memiliki budaya dan kekayaan kuliner. Itulah Sumatera Barat,” ujar Mahyeldi pada Kadin Indonesia Monthly Economic Diplomacy Breakfast (K-MED), Jumat (11/9/2026).
Menurut dia, Samudera Hindia bagi Sumatera Barat bukan sekadar batas geografis, melainkan ruang perjalanan, perdagangan, pertemuan, dan kerja sama. Karena itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumbar mengajak mitra dari berbagai negara untuk mengeksplorasi potensi kerja sama pariwisata, melalui pengalaman yang ditawarkan daerah tersebut.
“Kami tidak ingin wisatawan hanya datang, mengambil foto, kemudian pulang. Kami ingin mereka bergerak dari laut ke pegunungan, dari alam ke kebudayaan, dari destinasi ke kehidupan masyarakat,” sambungnya.
Ia menyatakan, Sumatera Barat sebenarnya tidak memulai pengembangan pariwisata dari pasar yang kosong. Mengingat, pada Januari hingga Juli 2026, Sumatera mencatat sekitar 14,6 juta perjalanan wisata domestik, dengan pertumbuhan sektor akomodasi serta makanan dan minuman 17,7%.
Baca Juga
Namun, jumlah wisatawan internasional yang masuk melalui Bandara Internasional Minangkabau masih relatif rendah, yakni sekitar 43.000 kunjungan. Kondisi ini menunjukkan adanya ruang besar untuk meningkatkan daya tarik Sumatera Barat di pasar internasional.
Salah satu destinasi yang dinilai memiliki kekuatan besar di pasar global adalah Kepulauan Mentawai. Mahyeldi mengatakan, nama Mentawai bahkan dalam sejumlah pasar internasional lebih dikenal dibandingkan nama Sumatera Barat, terutama karena reputasinya sebagai salah satu destinasi selancar (surfing) kelas dunia.
Namun, menurut dia, potensi Mentawai tidak hanya terletak pada ombaknya. Kepulauan tersebut juga memiliki hutan tropis, kekayaan alam, serta kehidupan masyarakat Mentawai yang dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata.
“Inilah perpaduan antara world class nature and living culture,” ujarnya.
Tantangan Sumatra Barat
Guna mengembangkan potensi tersebut, Mahyeldi mengakui masih terdapat sejumlah tantangan, terutama dalam hal aksesibilitas dan kualitas layanan. Bandara Mentawai saat ini memiliki landasan pacu sepanjang 1.500 meter, tetapi konektivitas antarpulau, akomodasi, aspek keselamatan, pemandu wisata, hingga standar pelayanan perlu dikembangkan secara terintegrasi.
Ia berharap kerja sama dengan berbagai pihak dapat membantu Sumatera Barat mengatasi tantangan tersebut sehingga destinasi-destinasi potensial dapat lebih mudah diakses wisatawan dan memberikan pengalaman berkualitas.
Selain Mentawai, Mahyeldi menilai kekayaan kuliner dan budaya Minangkabau dapat menjadi pintu masuk untuk memperpanjang lama tinggal wisatawan. Menurutnya, wisatawan dapat diajak mengunjungi pasar tradisional, belajar memasak, tinggal bersama masyarakat, serta mengenal rumah gadang dan tradisi yang masih hidup di tengah masyarakat.
“Bagi kami rendang bukan akhir dari cerita. Rendang adalah the beginning of the journey,” tandas dia.
Rangkaian perjalanan tersebut kemudian dapat dilanjutkan ke Sawahlunto yang memiliki warisan tambang batubara yang telah diakui UNESCO sebagai warisan dunia. Dengan kombinasi tersebut, Sumatera Barat diklaim memiliki peluang mengembangkan berbagai bentuk pariwisata, mulai dari wisata warisan budaya, perjalanan kuliner, pemandu lokal, produk kreatif, hingga pengalaman berbasis komunitas.
Mahyeldi menekankan, keberhasilan pariwisata tidak semata-mata diukur dari jumlah wisatawan yang datang. Lebih penting lagi adalah berapa lama wisatawan tinggal, seberapa banyak layanan yang mereka gunakan, dan seberapa besar manfaat ekonomi yang diterima masyarakat lokal.
Karena itu, Sumatera Barat membutuhkan kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk mitra internasional.
