Bertemu Prabowo, Gubernur BI dan Menteri Era SBY Berbagi Pengalaman saat Krisis 2008
JAKARTA, investortrust.id - Presiden Prabowo Subianto menerima sejumlah mantan pejabat era Presiden ke-6 RI, Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (22/5/2026). Para pejabat era SBY yang hadir dalam pertemuan itu, di antaranya Gubernur Bank Indonesia (BI) periode 2003-2008, Burhanuddin Abdullah, Menteri PPn/ Kepala Bappenas 2005-2009 Paskah Suzetta, Wakil Menteri PPN/ Wakil Kepala Bappenas Lukita Dinarsyah Tuwo, dan Duta Besar Indonesia untuk China 2005-2009, Sudrajat.
Dalam pertemuan dengan Prabowo, para pejabat era SBY itu berbagi pengalaman saat pemerintah menghadapi krisis 2008.
"Dalam pertemuan tadi disampaikan beberapa hal yang menjadi pengalaman mereka saat menghadapi krisis di tahun 2008. Kebetulan mereka rata-rata di periodenya antara 2004 sampai 2014," kata Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto dalam keterangannya seusai mendampingi Presiden Prabowo Subianto dalam pertemuan tersebut. .
Baca Juga
Rupiah Terus Melemah, Purbaya Sebut Kondisi Saat Ini Beda dengan Krisis 1998
Airlangga mengatakan, dalam pertemuan itu, para pejabat era SBY menyampakan sejumlah catatan ketika masa krisis ekonomi di tahun 2005 dan 2008. Pada 2005, kata Airlangga, harga minyak melonjak hingga US$ 140 per barel. Krisis minyak itu mendorong pemerintah menyesusaikan harga hingga terjadi inflasi mencapai 27%.
Airlangga, menekankan, fondasi ekonomi nasional saat ini relatif lebih baik dibanding saat krisis 2008. Meski demikian, pemerintah terus mengantisipasi dinamika global dengan belajar dari krisis 2008.
"Kalau kita cek dengan konteks hari ini relatif situasi makro kita lebih baik. Fundamental lebih kuat, dan depresiasi rupiah itu sekitar 5%, jadi jauh lebih rendah dari berbagai kasus sebelumnya. Dan dari situ sebetulnya kita belajar bagaimana mengantisipasi dan apa yang diperlukan untuk menghadapi situasi-situasi ke depan," katanya.
Dalam kesempatan itu, Prabowo juga meminta Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa untuk memonitor regulasi yang dapat memperkuat keuangan negara.
"Dan juga menjaga prudensial dari perbankan kita. Kita memang jumlah perbankan banyak, dan mungkin kita perlu kaji bagaimana permodalannya untuk diperkuat," kata dia.
Baca Juga
Krisis Energi Global Memanas, Akademisi: Pasokan LNG Domestik Harus Jadi Prioritas
Secara terpisah, Burhanuddin mengaku diskusi bersama Presiden Prabowo terkait konodisi ekonomi. Dia menceritakan kondisi krisis ekonomi di masa lalu. Krisis ekonomi pada 2005 memaksa pemerintah menaikkan harga BBM hingga 126%.
"Cuma beda sumbernya saja, sekarang eksternal, dulu di dalam negeri yang menaikkan. Itu juga karena eksternal kan, faktornya maksud saya eksternal kan. Terus kemudian dampaknya kan sama seperti sekarang," ujar Burhanuddin.

