Brent Spot Tembus US$ 141, Tertinggi Sejak Krisis Finansial 2008
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Harga spot minyak mentah Brent untuk pengiriman fisik melonjak tajam menjadi US$141,36 per barel pada Kamis (2/4/2026), level tertinggi sejak krisis finansial global 2008, menurut data S&P Global.
Baca Juga
Ancaman Trump ke Iran Kerek Harga Minyak Mentah dan Dolar AS
Harga spot mencerminkan permintaan minyak untuk pengiriman dalam 10 hingga 30 hari ke depan. Lonjakan tajam ini menunjukkan ketatnya pasokan fisik akibat gangguan besar yang dipicu penutupan Selat Hormuz oleh Iran.
Harga tersebut tercatat US$ 32,33 lebih tinggi dibandingkan kontrak berjangka Brent untuk pengiriman Juni yang ditutup di US$ 109,03 per barel.
Founder Energy Aspects, Amrita Sen, menilai harga futures saat ini justru memberikan gambaran yang menyesatkan mengenai kondisi pasar. “Pasar finansial seolah menutupi ketatnya pasokan nyata yang terjadi di lapangan,” ujarnya, seperti dikutip CNBC.
Ia menambahkan bahwa harga minyak diesel di Eropa kini hampir mencapai US$ 200 per barel, mencerminkan tekanan ekstrem di pasar energi global.
Peringatan serupa sebelumnya disampaikan oleh CEO Chevron, Mike Wirth, yang menyebut harga futures belum sepenuhnya mencerminkan gangguan pasokan akibat penutupan Selat Hormuz.
Dalam konferensi energi CERAWeek oleh S&P Global di Houston pada 23 Maret, Wirth menegaskan bahwa pasar saat ini bergerak berdasarkan informasi terbatas dan persepsi, bukan kondisi riil.
“Dampak fisik dari penutupan Selat Hormuz sangat nyata dan belum sepenuhnya tercermin dalam kurva harga minyak,” katanya.
Baca Juga
Minyak Brent Melonjak, Pasar Energi Global Masuk Fase Darurat
Perbedaan tajam antara harga spot dan futures menjadi sinyal kuat bahwa krisis pasokan energi global lebih dalam dari yang terlihat di pasar keuangan.

