Agus Martowardojo Berbagi Kisah di Era Krisis Moneter 1998
JAKARTA, investortrust.id – Bankir senior dan mantan Gubernur Bank Indonesia (BI), Agus Martowardojo berbagi pengalaman ketika menjadi direktur utama Bank Mandiri pada saat krisis moneter 1998. Ia mengisahkan bagaimana tantangan dan kesulitan dalam proses tersebut, serta bagaimana ia berhasil mengembalikan kinerja bank dan kepercayaan publik.
Agus Martowardojo mengatakan, ia pernah terlibat dalam dua proses merger bank, yaitu merger Bank Exim dengan Bank Mandiri pada tahun 1998, dan merger lima bank swasta menjadi Bank Permata pada tahun 2002. Kedua proses merger tersebut, menurut dia, dilakukan sebagai bagian dari upaya pemulihan sistem perbankan nasional yang terkena dampak “krisis moneter”.
“Kalau kita menggunakan referensi krisis moneter 1998, saya diundang menjadi Dirut Bank Exim untuk merger dengan Bank Mandiri. Akhirnya, sesuai amanat pemerintah dan IMF, selama 7 bulan ditambah biaya sebesar Rp147 triliun untuk penggabungan 4 bank,” kata Agus Martowardojo pada acara "Top 100 CEO & The Next Leader Forum 2023" di Jakarta, Selasa (5/12/2023).
Baca Juga
Sentil Bank Indonesia, Jokowi: Kok Peredaran Uang untuk Pelaku Usaha Makin Kering?
“Kemudian, 5 bank swasta (Bank Bali, Universal dan lain-lain) dimerger pada tahun 2002 ini dimerger menjadi Bank Permata, prosesnya 5,5 bulan,” lanjut Agus Martowardojo.
Saat menjadi Dirut Bank Mandiri pada tahun 2005, dia menemukan banyak permasalahan yang harus diselesaikan, mulai dari tingginya non performing loan NPL), lemahnya penerapan good corporate governance (GCG), manajemen risiko, sistem audit, hingga moral karyawan dan nasabah yang sedang jatuh. Tak hanya itu, dia pun menghadapi tekanan dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Kejaksaan Agung yang melakukan penyelidikan terkait kasus kredit bermasalah.
“Saya di tahun 2005 diundang kembali oleh Bank Mandiri, mereka mengalami krisis, besar sekali kredit bermasalahnya, non performing loan (NPL) gross-nya sebesar 25% atau sekitar Rp27 triliun. Sedangkan, net NPL-nya sebesar 15%, padahal kata regulator saat itu net NPL tidak lebih dari 5%,” ujar Agus Martowardojo.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Agus Martowardojo mengatakan, perlunya membangun sebuah strategi dengan visi yang baik, yaitu menjadikan Bank Mandiri sebagai regional champion melalui dominant multispecialist bank. Strategi tersebut meliputi pemisahan good bank dan bad bank, pengembangan bisnis segmen-segmen terpilih, transformasi budaya, dan aliansi strategis.
Baca Juga
Bank Mandiri (BMRI) Optimistis Catat Kinerja Positif di Akhir 2023
"Dari sisi culture kita yakinkan bahwa organisasi ini performance management system kita jalankan serta menjunjung tinggi trust, integrity and profesionalism," ujarnya.
Agus Martowardojo menjelaskan, pada tahun 2005, regulator menerbitkan aturan yang berbunyi, untuk menilai suatu kualitas kredit, tidak hanya dalam ketepatan membayar kredit tetapi juga kondisi keuangan debitur dan prospek dari perusahaan. Aturan ini membuat banyak kredit yang statusnya tidak baik. Dia pun mengumumkan 30 grup debitur yang menjadi permasalahan di kredit bermasalah sebagai nasabah yang nakal karena tidak kooperatif.
“Setelah itu apa yang terjadi? Akhirnya NPL gross yang tadinya 25% turun menjadi 16% dalam waktu 1 tahun. Lalu turun lagi 1 tahun berikutnya di 7%, dan kondisi net NPL yang tadinya 15% dalam 2 tahun menjadi 1,5%. Selain transformasi bisnis, transformasi budaya (culture) harus dilakukan. Keuntungan naik dengan sangat tajam yang tadinya drop sampai Rp600 miliar, naik menjadi Rp2,4 triliun, lalu naik lagi Rp4 triliun sampai dengan Rp5 triliun,” tutup Agus Martowardojo. (CR-3)

