Dubes Italia Sarankan Investasi Infrastruktur Nonmaterial untuk Perkuat Pariwisata Indonesia
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Duta Besar Republik Italia untuk Republik Indonesia, Roberto Colaminè mendorong pengembangan infrastruktur nonmaterial dan layanan pendukung pariwisata, sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas industri wisata Indonesia.
Menurut Colaminè, infrastruktur pariwisata tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik, tetapi juga mencakup layanan informasi, kesehatan, keselamatan, dan pengelolaan destinasi.
Pandangan tersebut disampaikan dalam Kadin Indonesia Monthly Economic Diplomacy Breakfast (K-MED) yang mempertemukan perwakilan pemerintah, dunia usaha, dan diplomat negara mitra.
Ia mengatakan Italia memiliki sekitar 150.000 wisatawan yang berkunjung ke Indonesia setiap tahun. Jumlah tersebut dinilai cukup besar bagi Kedutaan Besar Italia dan menunjukkan adanya potensi yang perlu terus dikembangkan.
Menurut Colaminè, tingginya jumlah wisatawan juga menghadirkan tantangan, khususnya terkait kebutuhan terhadap layanan pendukung ketika wisatawan menghadapi situasi darurat selama berada di Indonesia.
Oleh karena itu, ia menyarankan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia untuk tidak hanya melihat infrastruktur material, tetapi juga mengeksplorasi peluang pengembangan infrastruktur nonmaterial atau infrastruktur layanan yang dibutuhkan wisatawan.
Baca Juga
Salah satu sektor yang dinilai memiliki potensi investasi adalah penyediaan dan penyebaran informasi kepada wisatawan, khususnya dalam situasi darurat. Colaminè mencontohkan pengalaman dari daerah asalnya di Italia yang berada di dekat Gunung Vesuvius, salah satu gunung berapi paling terkenal di dunia.
Menurutnya, risiko bencana merupakan hal yang perlu diperhitungkan dalam pengembangan pariwisata, terutama di negara dengan wilayah geografis yang sangat luas seperti Indonesia. Karena itu, sektor swasta dapat mengambil peran untuk membantu pemerintah dalam menyediakan dan menyebarkan informasi kepada wisatawan ketika terjadi kondisi krisis.
“Jika terjadi keadaan darurat karena ini mungkin terjadi, ini memang terjadi, sehingga ada ruang untuk menandatangani dan membantu otoritas pemerintah dalam menyebarkan informasi selama masa krisis dan juga dilakukan melalui beberapa kegiatan swasta yang dapat membantu pemerintah,” ujar Colaminè di Kantor Kementerian Pariwisata, Jumat (11/9/2026)..
Ia menilai kebutuhan tersebut semakin penting, mengingat luas wilayah Indonesia yang membentang sekitar 3.500 kilometer dari utara ke selatan. Kondisi geografis tersebut membuat sistem informasi dan layanan darurat menjadi bagian penting dalam memastikan keamanan, serta kenyamanan wisatawan.
Selain informasi kebencanaan, Colaminè melihat layanan kesehatan sebagai sektor lain yang berpotensi dikembangkan melalui investasi swasta. Menurutnya, wisatawan membutuhkan kepastian bahwa biaya layanan kesehatan dapat diakses, baik melalui pembayaran langsung maupun sistem asuransi yang disiapkan sebelum atau selama perjalanan.
Colaminè pun menyoroti pentingnya ketersediaan ruang hiperbarik atau hyperbaric chamber untuk mendukung pengembangan wisata olahraga selam. Menurut dia, keberadaan fasilitas ini dapat menjadi salah satu parameter penting untuk meningkatkan kepercayaan wisatawan, khususnya wisatawan yang tertarik dengan aktivitas menyelam.
Baca Juga
James Riady: Indonesia Tak Kekurangan Destinasi, tapi Kemampuan Mengubah Potensi Menjadi Devisa
Pasalnya penggunaan ruang hiperbarik memang relatif jarang, meski wisatawan tentu berharap fasilitas tersebut tidak perlu digunakan. Namun, keberadaan fasilitas yang dapat diakses ketika dibutuhkan dapat menjadi nilai tambah bagi destinasi wisata selam.
“Keberadaan ruang hiperbarik dan fakta bahwa ruang tersebut dapat diakses dapat menjadi elemen lain untuk menyampaikan misi ini kepada pasar khusus seperti ini,” tandasnya.
Jaga Warisan Budaya
Colaminè juga menyinggung pentingnya menjaga keseimbangan antara pengembangan pariwisata dan pelestarian warisan budaya. Menurutnya, pengelolaan situs bersejarah dapat menjadi salah satu contoh terbaik dalam menciptakan keseimbangan antara pelestarian, restorasi, dan kebutuhan wisatawan untuk menikmati destinasi.
Ia menilai pengelolaan warisan budaya yang baik memungkinkan wisatawan memperoleh pengalaman yang maksimal, tanpa mengorbankan kelestarian situs yang menjadi daya tarik utama.
Bagi Colaminè, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pengembangan pariwisata berkualitas membutuhkan pendekatan yang lebih luas.
Dia menggarisbawahi bahwa pemerintah tetap memiliki peran penting dalam membangun regulasi dan infrastruktur dasar, tetapi sektor swasta dapat mengambil bagian dalam menyediakan berbagai layanan yang meningkatkan pengalaman dan keamanan wisatawan.
Masukan tersebut diharap dapat membuka ruang bagi pelaku usaha Indonesia untuk melihat sektor pariwisata dari perspektif yang lebih luas, termasuk peluang investasi pada layanan informasi, kesehatan, keselamatan, dan pengelolaan destinasi.
“Saya harap saya juga telah memberikan kontribusi dalam hal apa yang dapat dilakukan oleh sektor swasta untuk wisatawan dan untuk negara itu sendiri,” pungkasnya.
