Dubes Singapura: Majukan Pariwisata, Indonesia Harus Perkuat Konektivitas dan Kolaborasi Swasta
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Kedutaan Besar Singapura, mendorong Indonesia memperkuat kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta untuk mengembangkan pariwisata nasional.
Menurut Duta Besar Singapura untuk Indonesia, Kwok Fook Seng, pengembangan sektor pariwisata tidak cukup hanya mengandalkan kerja sama antarpemerintah atau government to government (G2G), melainkan juga membutuhkan peran aktif dunia usaha.
Ia menilai perkembangan pariwisata Indonesia saat ini menunjukkan adanya ruang besar untuk meningkatkan konektivitas, investasi, dan kualitas destinasi melalui kemitraan pemerintah dengan sektor swasta.
Ia mencontohkan pengembangan Labuan Bajo sebagai salah satu destinasi yang mendapat dorongan khusus dari pemerintah. Pengembangan ini, antara lain dilakukan melalui pembangunan hotel dan perbaikan infrastruktur lokal dengan melibatkan sejumlah entitas, termasuk Danantara dan InJourney.
Menurut Kwok Fook Seng, pola kolaborasi serupa telah dilakukan Singapura dan Indonesia melalui economic working group yang telah berjalan selama 16 tahun. Salah satu sub pilar kerja sama tersebut secara konsisten berfokus pada sektor pariwisata.
“Ketika Pak James Riady berbicara tentang pariwisata sebagai mesin pertumbuhan, dengan keberadaan InJourney, kita telah berjalan dengan sangat bersinergi dan struktural selama lebih dari 16 tahun,” ujarnya pada Kadin Indonesia Monthly Economic Diplomacy Breakfast (K-MED), Jumat (11/9/2026).
Kwok menilai konektivitas menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan arus wisatawan. Ia mencontohkan jaringan penerbangan Singapore Airlines Group yang menghubungkan 18 titik di Indonesia dengan Bandara Changi di Singapura. Selain itu, terdapat pula penerbangan ke Belitung sebanyak dua kali dalam sepekan.
Konektivitas ke Labuan Bajo juga terus berkembang. Kwok menuturkan bahwa AirAsia melayani rute dari Kuala Lumpur, sementara Scoot dari Singapura kini memiliki penerbangan ke Labuan Bajo sebanyak dua hingga tiga kali dalam sepekan.
Baca Juga
James Riady: Indonesia Tak Kekurangan Destinasi, tapi Kemampuan Mengubah Potensi Menjadi Devisa
Ia mengatakan peningkatan konektivitas tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan pariwisata dapat dimulai dari hal mendasar, yakni ketersediaan akses penerbangan.
Kwok kemudian mencontohkan perkembangan konektivitas Singapura dengan Maladewa. Ia mengatakan di Malé terdapat sebuah jalan yang bernama Singapore Street.
Nama tersebut, menurut dia, memiliki latar belakang yang praktis karena pada masa lalu Singapura menjadi satu-satunya koneksi penerbangan ke Malé. Alhasil sebagian barang yang masuk ke wilayah tersebut melalui kargo pesawat yang berasal dari Singapura.
“Dulu itu dua kali saja dalam sepekan. Tapi hari ini, terdapat tiga penerbangan sehari dari Singapura ke Malé,” sambungnya.
Menurut Kwok, pengalaman tersebut menunjukkan besarnya potensi yang dapat dibangun ketika akses penerbangan dibuka dan ditingkatkan. Karena itu, ia mendorong Indonesia untuk terus memperluas konektivitas ke berbagai destinasi wisata potensial.
Selain konektivitas, ia menekankan pentingnya memperkuat keterlibatan sektor swasta dalam ekosistem pariwisata. Ia mencontohkan Changi Airport Group yang beroperasi sebagai entitas komersial dan memiliki kemitraan dengan Garuda Indonesia. Keduanya melakukan pemasaran serta meningkatkan trafik penerbangan dari Changi ke Indonesia.
Singapore Airlines dan Garuda Indonesia juga memiliki joint venture yang tidak hanya berbentuk kerja sama berbagi kode penerbangan atau codeshare, tetapi juga mencakup pembagian keuntungan. Menurut Kwok, kolaborasi tersebut turut membantu memperluas konektivitas penerbangan ke berbagai wilayah Indonesia.
Kolaborasi sektor swasta juga dilakukan Singapore Tourism Board dengan Traveloka. Menurut Kwok, platform digital tersebut memiliki peran penting karena banyak transaksi produk pariwisata kini dilakukan secara online.
“Pihak swasta ini sangat kaya ketika kita (pemerintah) memiliki kemampuan atau insentif untuk memberi mereka ruang bertumbuh,” tegasnya.
Di sisi lain, ia memaparkan bahwa Indonesia dan Singapura juga tengah mengembangkan wisata kapal pesiar atau cruise tourism. Kedua pihak masih menggodok bagaimana mengembangkan trafik wisatawan yang datang melalui Singapura untuk kemudian mengunjungi berbagai destinasi di Indonesia.
Baca Juga
Airlangga Sebut US$ 6,7 Miliar Duit Wisatawan RI Mengalir ke Luar Negeri
Menurut dia, pengembangan cruise tourism memiliki tantangan tersendiri karena kapasitas kapal pesiar terus meningkat. Infrastruktur yang sebelumnya dirancang untuk kapal dengan kapasitas sekitar 4.000 hingga 5.000 penumpang dan kru kini harus mengantisipasi kapal berkapasitas 7.000 hingga 8.000 orang.
Kondisi tersebut membutuhkan operator inbound yang mampu membawa wisatawan dari kapal menuju berbagai destinasi dalam waktu singkat, baik setengah hari maupun satu hari. Tantangan tersebut menjadi bagian dari kerja sama yang telah dilakukan Indonesia dan Singapura selama beberapa tahun terakhir.
“Ini adalah perjalanan yang harus dilakukan. Dan kita akan melihat bagaimana kita mengembangkan potensi tersebut,” pungkasnya.
