ASDP Beberkan Biang Macet di Ketapang-Gilimanuk, Ada Truk ODOL hingga Terbatasnya Kapal Besar
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) mengungkap sejumlah faktor yang menyebabkan kepadatan kendaraan di lintasan Ketapang-Gilimanuk pada 30 Agustus hingga 5 September 2026. Salah satunya adalah dominasi truk Over Dimension Over Load (ODOL) yang membuat proses pemuatan kendaraan terkonsentrasi di satu dermaga.
Corporate Secretary ASDP, Windy Andale menyatakan, kendaraan logistik menjadi salah satu faktor dominan yang berdampak terhadap antrean di lintasan Ketapang-Gilimanuk.
Dikatakan, kondisi tersebut semakin menjadi persoalan karena tidak seluruh dermaga di Ketapang-Gilimanuk dapat mengakomodasi kendaraan dengan berat lebih dari 20 ton.
"Karena dari seluruh dermaga yang ada di Ketapang-Gilimanuk, kebetulan yang bisa mengakomodir lebih dari 20 ton itu hanya ada satu dermaga," kata Windy dalam media briefing di Kantor Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Jakarta Pusat, Jumat (11/9/2026).
Kondisi tersebut membuat kendaraan ODOL terkonsentrasi di Dermaga Landing Craft Mechanized (LCM). Menurut Windy, kendaraan berukuran dan berbobot besar membutuhkan pola muat serta manuver khusus sehingga proses pemuatan menjadi lebih lama.
"Karena kendaraan ini berukuran besar dan berberat besar melebihi kapasitas dermaga, sehingga hanya terkonsentrasi bisa di satu pasang dermaga," ujarnya.
Windy mengatakan, kondisi tersebut menjadi salah satu bottleneck di sisi pelabuhan karena seluruh kendaraan dengan karakteristik tersebut harus masuk ke Dermaga LCM.
Baca Juga
Pemerintah Sepakat Tambah Anggaran Layanan Angkutan Perintis Rp 209 Miliar untuk ASDP
Kapal Besar Terbatas
Selain persoalan kendaraan ODOL, ASDP juga menyoroti kapasitas kapal yang beroperasi di lintasan Ketapang-Gilimanuk.
Windy juga menyampaikan, terdapat sekitar 56 kapal yang siap beroperasi di lintasan tersebut. Namun, hanya delapan kapal yang memiliki kapasitas lebih dari 2.000 gross tonnage (GT). "Kapal yang beroperasi di lintasan ini memang kapal yang relatif lebih kecil," ucapnya.
Dikatakan Windy, kondisi tersebut perlu dievaluasi bersama pemerintah dan pemangku kepentingan agar kapasitas kapal dapat mengikuti pertumbuhan trafik kendaraan di lintasan Ketapang-Gilimanuk.
"Supaya bisa mengikuti dari pertumbuhan trafik yang terjadi, mengimbangi pertumbuhan trafik yang terjadi," imbuhnya.
ASDP mencatat produksi kendaraan di lintasan Ketapang-Gilimanuk meningkat hingga 19% dalam tiga tahun terakhir. Windy menilai, peningkatan tersebut salah satunya berkaitan dengan pembangunan jalan tol Probolinggo-Banyuwangi (Probowangi) yang membuat laju kendaraan menjadi lebih cepat.
Kapasitas Dermaga Turut Berkurang
Di tengah peningkatan trafik tersebut, kapasitas dermaga juga mengalami keterbatasan. ASDP saat ini tengah menjalankan program peningkatan kapasitas dermaga yang membuat satu pasang dermaga di Ketapang dan Gilimanuk belum dapat digunakan secara penuh.
Selain itu, Dermaga Bulusan di sisi Ketapang juga belum dapat digunakan kembali setelah ditabrak kapal pada periode angkutan Lebaran.
Padahal, kata Windy, Dermaga Bulusan sebelumnya menjadi salah satu solusi untuk mengalihkan sebagian kendaraan logistik saat periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) serta Lebaran.
"Pada saat Lebaran kemarin, qadarullah ya, ditabrak oleh kapal, sehingga belum ada perbaikan yang dilakukan oleh Pemprov setempat untuk membuat dermaga Bulusan ini bisa digunakan kembali," beber Windy. Kondisi tersebut membuat daya tampung kendaraan di sisi Ketapang atau Banyuwangi berkurang.
Lebih jauh, Windy mengatakan, kombinasi peningkatan produksi kendaraan, keterbatasan kapasitas dermaga, serta pola operasi kapal menyebabkan antrean kendaraan sepanjang belasan kilometer (km) pada periode 30 Agustus hingga 5 September 2026.
Pada dua hingga tiga hari pertama periode tersebut, lonjakan kendaraan tercatat sekitar 16% dibandingkan bulan sebelumnya. Secara tahunan (year-on-year/yoy), peningkatan produksi mencapai sekitar 8%.
Selama periode tersebut, kata Windy, ASDP mengoperasikan sekitar 176 kapal dengan 1.210 trip, termasuk penerapan pola Tiba-Bongkar-Balik (TBB).
"Jadi ini sebetulnya evaluasi kenapa kemarin sampai terjadi antrean. Ini menurut kami adalah dampak dari beberapa hal yang terjadi secara bersamaan, baik itu produksi, kapasitas dermaga, maupun pola operasi kapal, sehingga kemudian terjadi antrean puncaknya itu di 13 km," katanya.
"Kalau ada penyampaian sampai 30 km, dapat kami sampaikan dan buktikan itu tidak tepat," sambung Windy.
Saat ini, ASDP mengklaim antrean kendaraan di jalan sudah tidak terjadi. Kendaraan yang sebelumnya mengantre telah terkonsentrasi di area Bulusan untuk selanjutnya dimuat melalui dermaga yang tersedia.
ASDP juga menyiapkan kapal bantuan sebagai bagian dari penanganan kepadatan, yakni KMP Jatra 1 untuk lintasan Ketapang-Gilimanuk dan KMP Portlink untuk lintasan Tanjung Wangi-Lembar.
