Pertamina Siapkan Minyak Jelantah SPPG untuk Bahan Baku SAF
Poin Penting
|
CILACAP, investortrust.id – Minyak jelantah dari dapur satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) berpeluang masuk ke rantai produksi bahan bakar penerbangan ramah lingkungan. Pertamina menyiapkan skema pengumpulan used cooking oil (UCO) atau minyak jelantah dari berbagai sumber untuk kemudian diolah menjadi bahan baku sustainable aviation fuel (SAF).
Executive GM RU Cilacap Hermawan Budiantoro mengatakan pengumpulan UCO dilakukan melalui dua skema bisnis, yakni business-to-customer (B2C) dan business-to-business (B2B). Skema tersebut disiapkan untuk memperluas sumber pasokan minyak jelantah sekaligus mengejar kebutuhan bahan baku dalam jumlah besar.
Baca Juga
"Iwak" Hasil Kerja Jebolan Pertamuda Bikin Penghasilan Nelayan di Cilacap Terkerek 68%
“Untuk skema bisnisnya, dari UCO sendiri ada beberapa skema. Yang pertama itu adalah skema business-to-customer ya, jadi dari masyarakat, komunitas, perwira, ya kita collecting UCO-nya, minyak jelantah tadi,” kata Hermawan dalam acara Pertamax Journey di Cilacap, Kamis (10/9/2026).
Dalam skema B2C, Pertamina mengumpulkan minyak jelantah dari masyarakat, komunitas, hingga pekerja perusahaan. Pengumpulan dilakukan melalui sejumlah dispenser khusus UCO yang telah tersedia di lingkungan kilang maupun jaringan marketing operation region (MOR).
“Ada dispenser-dispenser untuk mengumpulkan, barangkali Bapak Ibu pernah lihat baik itu di kilang maupun di MOR. Dikumpulkan nah kemudian nantinya akan kita gunakan untuk treatment,” ujarnya.
Kendati demikian, pengumpulan dari masyarakat saja dinilai belum cukup untuk memenuhi kebutuhan bahan baku dalam skala besar. Pertamina juga membuka skema B2B dengan menggandeng pelaku usaha yang memiliki kapasitas pengumpulan UCO lebih masif.
Hermawan menyebut sumber UCO dalam skema tersebut, antara lain berasal dari SPPG, hotel, restoran, dan katering (horeka), Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), serta pemasok UCO. Kolaborasi dengan berbagai pihak ini diharapkan mempercepat konsolidasi pasokan minyak jelantah.
“Kemudian juga skema business-to-business, jadi dari SPPG, horeka, KDMP, UCO supplier collecting. Jadi kalau kita barangkali mengumpulkan dari masyarakat mungkin tidak bisa cepat, kapasitasnya terbatas sehingga kita juga bekerja sama nanti dengan usaha-usaha lain yang memang mereka lebih masif untuk mengumpulkan minyak jelantah tadi,” jelas Hermawan.
Baca Juga
Kilang Cilacap Pertamina Disiapkan Jadi 'Green Refinery' untuk Produksi SAF
Setelah terkumpul, UCO dari kedua skema tersebut tidak langsung masuk ke proses pengolahan. Minyak jelantah terlebih dahulu menjalani tahap lain untuk memastikan kualitas bahan baku sesuai dengan kebutuhan proses di kilang. “Nah kemudian dari kedua skema tadi itu kita treatment, pretreatment, kemudian kita olah untuk co-processing,” tutur Hermawan.
Pemanfaatan UCO melalui skema tersebut menjadi bagian dari pengembangan green refinery di Cilacap. Minyak jelantah yang sebelumnya menjadi limbah dari aktivitas rumah tangga maupun usaha makanan dapat diubah menjadi bahan baku bernilai tambah untuk mendukung produksi bahan bakar penerbangan yang lebih berkelanjutan.
