ESDM Sebut Kontribusi Tambang ke PDB 9%-12,5%, Hilirisasi Jadi Penguat
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menilai hilirisasi mineral semakin strategis bagi ketahanan energi dan posisi industri Indonesia, seiring kebutuhan bahan baku serta rantai pasok energi yang terus meningkat.
Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Tri Winarno mengatakan hilirisasi tidak lagi hanya berkaitan dengan peningkatan nilai ekonomi komoditas tambang, tetapi juga menyangkut kemandirian industri dan posisi strategis Indonesia.
Baca Juga
PNBP Minerba Naik Tembus Rp 108 Triliun Meski RKAB Dipangkas
"Ketahanan energi ke depan tidak hanya ditentukan oleh sumber energi, ketahanan energi juga ditentukan apakah kita menguasai bahan baku, teknologi rantai pasok, dan juga dari industri energi tersebut," kata Tri dalam seminar "Industri Mineral dan Batu Bara: Kondisi Saat Ini dan Kontribusinya Bagi Masa Depan Bangsa dan Negara" dalam rangka HUT ke-36 Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) di Jakarta, Kamis (10/9/2026).
Menurut dia, sektor pertambangan dan penggalian memiliki kontribusi yang signifikan terhadap perekonomian nasional. Kontribusinya terhadap produk domestik bruto (PDB) berada di kisaran 9%-12,5%.
Tri menilai hilirisasi menjadi salah satu mesin transformasi sektor mineral karena mendorong penciptaan nilai tambah di dalam negeri. Pengembangan industri pengolahan juga dinilai dapat memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.
Menurut dia, hilirisasi telah diarahkan untuk membangun berbagai industri strategis, mulai baterai kendaraan listrik, alumina, stainless steel, tembaga, logam mulia hingga berbagai produk turunan mineral lainnya.
Kebutuhan energi yang semakin besar juga akan meningkatkan permintaan terhadap sejumlah mineral. Tembaga, misalnya, menjadi salah satu bahan penting dalam jaringan dan distribusi listrik.
Baca Juga
Tri mengatakan kebutuhan terhadap tembaga akan semakin besar seiring meningkatnya konsumsi listrik dan pembangunan infrastruktur energi. Pada saat yang sama, tantangan dalam pengelolaan komoditas tersebut dapat memengaruhi pasokan dan harga.
Pemerintah juga mendorong perbaikan tata kelola sejumlah komoditas mineral, termasuk timah. Tri menyebut perbaikan tata kelola dan kebijakan terkait komoditas tersebut telah memberikan ruang bagi peningkatan nilai ekonominya.
