Investasi US$ 1,1 Miliar, Biorefinery Cilacap Ditargetkan Produksi 887 KL Biofuel per Hari
Poin Penting
|
CILACAP, investortrust.id – Pertamina menyiapkan investasi sekitar US$ 1,1 miliar untuk pembangunan kilang biorefinery di Cilacap, Jawa Tengah. Proyek tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada September 2029 dengan kapasitas produksi bahan bakar ramah lingkungan mencapai sekitar 887 kiloliter (KL) per hari.
Executive GM RU Cilacap Hermawan Budiantoro mengatakan proyek tersebut merupakan bagian dari pengembangan Refinery Development Master Plan (RDMP) Cilacap. Milestone project ini telah dimulai dari tahun 2025 dengan penyusunan untuk rencana pengadaan dan pra-tender.
“Kemudian di tahun 2026 ini sedang dilakukan FID (Final Investment Decision) dan proses partnership untuk menentukan barangkali licensor nanti mana yang paling tepat untuk bekerja sama membangun kilang bioref ini,” kata Hermawan dalam acara Pertamax Journey di Cilacap, Kamis (10/9/2026).
Setelah tahapan FID dan penentuan mitra teknologi selesai, konstruksi ditargetkan dimulai pada 2027. Proyek ini kemudian diharapkan masuk tahap on-stream pada 2029, dengan pembangunan dilakukan di lahan sekitar 17,5 hektare yang berdampingan dengan kilang RU IV Cilacap.
“Mulai EPC-nya (Engineering, Procurement, and Construction) targetnya adalah di tahun 2027, jadi planning procurement and construction ya, kemudian harapannya nanti on-stream-nya di tahun 2029. Dengan nilai total investasi estimasinya kira-kira mencapai sekitar US$ 1,1 miliar,” ujarnya.
Hermawan mengatakan kehadiran biorefinery tersebut akan meningkatkan kapasitas produksi biofuel Cilacap secara signifikan. Saat ini produksi biofuel dari unit Treated Distillate Hydro Treating (TDHT) masih sekitar 27 KL per hari, sedangkan proyek baru ditargetkan meningkatkan kapasitas hingga sekitar 887 KL per hari.
“Kilang ini harapannya dapat meningkatkan produksi biofuel dari saat ini kita masih terbatas dari kilang Cilacap ya TDHT tadi sekitar 27 KL per day menjadi 887 KL per day,” tutur Hermawan.
Baca Juga
Maret, Pertamina Patra Niaga Mulai Produksi SAF di Kilang Cilacap
Proyek tersebut memanfaatkan used cooking oil (UCO) atau minyak jelantah sebagai bahan baku. Kebutuhan UCO diperkirakan mencapai sekitar 318.000 ton per tahun, yang akan diproses dengan kapasitas sekitar 6.000 barel per hari dan menghasilkan produk sekitar 232.000 ton per tahun.
Menurut Hermawan, pemanfaatan minyak jelantah memberikan nilai tambah sekaligus mendukung ketahanan energi. Limbah yang sebelumnya berpotensi dibuang dapat diolah kembali menjadi bahan bakar bernilai ekonomi tinggi.
“Manfaatnya proyek ini adalah untuk ketahanan energi melalui pemanfaatan UCO atau waste feedstock. Jadi bahan yang sudah tidak dipakai lagi. Biasanya ini mungkin dibuang kalau minyak jelantah, biasanya kan kalau sudah pakai dibuang mungkin ya menjadi limbah gitu ya, nah ini kita olah lagi menjadi bahan yang bermanfaat dan bernilai tinggi,” jelasnya.
Sebelumnya, groundbreaking fase kedua Green Refinery Cilacap telah dilakukan pada Februari 2026. Fasilitas tersebut diarahkan sebagai single plant dedicated green refinery pertama di Indonesia yang memproduksi bahan bakar ramah lingkungan dalam skala besar, khususnya untuk mendukung kebutuhan SAF nasional.
Produk SAF dari proyek tersebut nantinya direncanakan didistribusikan ke dua bandara internasional, yakni Bandara Soekarno-Hatta di Cengkareng dan Bandara I Gusti Ngurah Rai di Denpasar. Proyek ini ditargetkan mulai on-stream sekitar September 2029.
