Harga Emas Naik 1,5%, Investor Tunggu Data Inflasi AS
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas menguat lebih 1% pada Rabu (9/9/2026) karena dolar AS masih berada di bawah tekanan, sementara investor menanti data inflasi Amerika Serikat (AS) yang akan menjadi petunjuk arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed). Kenaikan harga minyak hingga menembus US$ 100 per barel juga membuat pasar memperhitungkan kembali risiko inflasi dan suku bunga.
Harga emas spot melonjak 1,5% menjadi US$ 4.418,71 per ons, sedangkan kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember naik 0,6% menjadi US$ 4.464,30.
Direktur perdagangan logam High Ridge Futures David Meger mengatakan tekanan terhadap dolar menjadi salah satu faktor yang mendukung harga emas. “Ada sedikit skenario yang mendukung pasar emas karena dolar berada di bawah tekanan ringan akhir-akhir ini,” kata Meger dilansir CNBC.
Baca Juga
Emas Antam (ANTM) Turun Rp 17.000 di Tengah Kenaikan Harga Minyak
Dolar AS berfluktuasi di dekat level terendah dalam dua minggu. Kondisi tersebut membuat emas yang dihargai dalam dolar AS menjadi relatif lebih murah bagi pemegang mata uang lain dan meningkatkan daya tarik logam mulia tersebut.
Pergerakan dolar terjadi ketika pasar juga menghadapi lonjakan harga minyak yang menembus US$ 100 per barel. Kenaikan tersebut terjadi di tengah meluasnya perang di Timur Tengah yang meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pengiriman dan rantai pasokan global.
Kepala analisis pasar StoneX Rhona O’Connell mengatakan kenaikan harga minyak kali ini memiliki implikasi berbeda terhadap inflasi karena dipicu gangguan pada pasokan.
“Kali ini, harga yang lebih tinggi minyak memiliki dorongan inflasi, tetapi alasannya, yaitu gangguan pengiriman dan rantai pasokan, menyebabkan suku bunga obligasi yang lebih tinggi karena kebijakan moneter secara keseluruhan lebih diarahkan untuk mengendalikan inflasi daripada yang pernah dilakukan di masa lalu,” kata O’Connell.
Di pasar obligasi, imbal hasil Treasury AS 10 tahun yang menjadi acuan naik ke level tertinggi sejak November 2023 sebelum kemudian kembali mereda. Pergerakan imbal hasil tersebut mencerminkan meningkatnya perhatian investor terhadap prospek inflasi dan kebijakan moneter AS. Imbal hasil obligasi yang lebih tinggi biasanya menjadi tantangan bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil.
Baca Juga
Harga Emas Turun, Investor Cermati Inflasi dan Suku Bunga The Fed
Pelaku pasar selanjutnya menunggu sejumlah indikator ekonomi Amerika Serikat yang dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai arah kebijakan The Fed. Data indeks harga produsen atau Producer Price Index AS dijadwalkan terbit pada Kamis (10/9/2026), sedangkan data inflasi konsumen atau Consumer Price Index akan dirilis pada Jumat (11/9/2026).
Menurut CME FedWatch Tool, pasar memperkirakan sekitar 60% kemungkinan kenaikan suku bunga pada pertemuan kebijakan The Fed pekan depan.
