MRT Jakarta Kembangkan Konsep Placemaking untuk Hidupkan Kawasan TOD
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT MRT Jakarta (Perseroda) menilai pengembangan kawasan berbasis transit oriented development (TOD) tidak cukup hanya dengan membangun infrastruktur dan ruang fisik. Kawasan tersebut juga harus memiliki aktivitas yang membuat masyarakat datang dan menggunakan ruang tersebut.
Kepala Divisi Business Planning & Expansion Division MRT Jakarta, R. Samuel Ryan Pradipta Pranowo menyatakan, hal tersebut menjadi bagian dari konsep placemaking yang dikembangkan MRT Jakarta.
"Bukan cuma bentuknya saja indah, yang bagus, tapi bagaimana sebetulnya sebuah kawasan TOD itu, atau kawasan apa pun sebetulnya, enggak hanya TOD, itu bisa dihidupkan," kata Samuel dalam MRTJ Fellowship Program 2026 di Jakarta, Rabu (9/9/2026).
Menurut Samuel, placemaking tidak hanya berkaitan dengan pembangunan ruang fisik. Sebuah kawasan harus memiliki tema, identitas, dan daya tarik yang membuat masyarakat memiliki keterikatan dengan tempat tersebut.
"Jadi kalau mau disingkat, bagaimana sebuah tempat itu bisa dikasih soul-nya. Jiwanya apa nih tempat ini? Supaya orang akan selalu ingat dan setiap mau melakukan aktivitas akan pergi ke tempat itu," ujarnya.
Samuel mengatakan, salah satu kunci untuk menghidupkan kawasan adalah melalui activity generation partnership. Konsep ini mendorong adanya aktivitas yang melibatkan masyarakat, komunitas, maupun penyelenggaraan berbagai acara.
Ia mencontohkan kegiatan yang digelar di kawasan Blok M melalui JSD Blok M Festival. Berbagai aktivitas, seperti sneakers, konser, toys, hingga beauty dihadirkan untuk mengakomodasi masyarakat yang ingin berkumpul dan beraktivitas.
Baca Juga
MRT Jakarta Dapat Hibah Rp 2,86 Triliun pada 2027, Lintas Timur-Barat Dikebut
Menurut Samuel, konsep placemaking tersebut sebelumnya telah dikembangkan di kawasan Blok M, Jakarta Selatan. Meski revitalisasi Blok M belum sepenuhnya selesai, kawasan tersebut saat ini telah berkembang menjadi tempat berkumpul dan beraktivitas, terutama bagi kalangan generasi muda. "Blok M akan dibuat jauh lebih rapi dan lebih bagus lagi," paparnya.
Meski demikian, MRT Jakarta tetap mempertahankan unsur nostalgia dalam pengembangan Blok M agar kawasan tersebut juga dapat dinikmati generasi yang lebih tua.
Selain aktivitas, lanjut Samuel, sebuah kawasan juga perlu memiliki akses dan keterhubungan yang baik, fasilitas yang nyaman, aman, bersih, serta citra yang positif.
"Placemaking itu harapannya bisa membuat kotanya memang hidup lagi, livable city. Tapi enggak cuma kota yang livable atau nyaman ditinggali, tapi juga loveable," ujarnya.
Kota Tua Jadi Sasaran Berikutnya
Konsep placemaking juga akan diterapkan MRT Jakarta dalam pengembangan kawasan Kota Tua seiring pekerjaan proyek MRT Fase 2 (Bundaran HI-Kota).
Samuel menyampaikan, pengembangan Kota Tua akan tetap mempertahankan identitas kawasan, termasuk heritage Chinatown dan Little Amsterdam. "Jadi heritage Chinatown-nya, Little Amsterdam-nya, itu enggak hilang, tapi tetap areanya akan dibuat hidup dengan kombinasi retail, komunitas, dan lain sebagainya," katanya.
Ia menjelaskan, konsep tersebut merupakan bagian dari strategi MRT Jakarta untuk mengembangkan kawasan di sekitar stasiun, tidak hanya dari sisi pembangunan fisik, tetapi juga aktivitas masyarakat dan ekonomi.
Samuel menekankan, MRT Jakarta ingin berperan sebagai City Regenerator, yakni menghidupkan kembali simpul-simpul ekonomi di perkotaan yang sebelumnya sempat sepi atau mengalami penurunan aktivitas.
Baca Juga
Hak Penamaan Stasiun MRT Benhil dan Haji Nawi Mulai Dilirik, Siapa Peminatnya?
Ia mencontohkan sejumlah kawasan di Jepang yang memiliki identitas berbeda-beda. Akihabara, misalnya, dikenal dengan anime dan hobi, sedangkan kawasan lainnya memiliki identitas yang berbeda. Konsep serupa ingin dikembangkan di sejumlah kawasan yang menjadi bagian dari pengembangan MRT Jakarta.
Samuel menjelaskan, placemaking merupakan konsep untuk merancang dan mengelola ruang ketiga atau third place, yakni tempat masyarakat beraktivitas setelah berada di rumah dan tempat tujuan utama seperti kantor atau sekolah.
Ihwal itu, kata Samuel, placemaking tidak hanya membuat sebuah ruang, tetapi juga menciptakan sense of place atau makna yang melekat pada suatu tempat.
