MRT Jakarta Ungkap 'Multiplier Effect' Event Bisa 4-8 Kali Lipat
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT MRT Jakarta (Perseroda) mengungkapkan, kegiatan ekonomi kreatif hingga konser yang digelar di kawasan berbasis transit oriented development (TOD) dapat menciptakan dampak ekonomi hingga berkali lipat bagi kawasan sekitarnya. Bahkan, di area Gelora Bung Karno (GBK) saja bisa tembus Rp 80 miliar per event.
Kepala Divisi Business Planning & Expansion MRT Jakarta R. Samuel Ryan Pradipta Pranowo memaparkan, kegiatan ekonomi kreatif atau meeting, incentive, convention, and exhibition (MICE) dapat menghasilkan multipliereffect hingga empat sampai lima kali dari nilai ekonomi kegiatan tersebut.
"Kalau kegiatannya itu Rp 10 miliar, sebetulnya multipliereffect-nya itu bisa sampai Rp 40 sampai Rp 50 miliar," kata Samuel dalam MRTJ Fellowship Program 2026 di Jakarta, Rabu (9/9/2026).
Menurut Samuel, dampak ekonomi tersebut tidak hanya berasal dari transaksi yang terjadi dalam kegiatan utama. Aktivitas pengunjung juga dapat menggerakkan sektor usaha lain di sekitar lokasi, mulai dari kuliner, ritel hingga perhotelan.
Baca Juga
Telan Investasi Rp 25,3 Triliun, Progres MRT Bundaran HI-Kota Capai 63%
"Di situ pasti ada transaksi kan, orang belanja sneakers, belanja fashion, dan lain-lain. Tapi jangan lupa, di luar festivalnya sendiri, orang mungkin kuliner di toko-toko yang di sekitar festivalnya. Mungkin juga bahkan ada orang yang datang dari luar kota, mereka bela-belain stay nginep di hotel di sana," ujarnya.
Samuel menyebut dampak ekonomi bisa lebih besar apabila kegiatan tersebut berlangsung di kawasan premium. Dia mencontohkan kegiatan konser di sekitar Gelora Bung Karno yang berdasarkan kajian bersama dapat menghasilkan multipliereffect sekitar tujuh hingga delapan kali. "Kalau di kawasannya yang premium itu bisa sampai 7-8 kali lipat," kata Samuel.
Dikatakan Samuel, dampak tersebut terjadi karena pengunjung konser tidak hanya melakukan transaksi untuk tiket atau kegiatan utama. Pengunjung juga dapat menggunakan hotel, pusat perbelanjaan, restoran hingga berbagai layanan lain di sekitar kawasan.
"Nginepnya ada hotel mahal di situ, terus orang juga dari hotel ternyata nunggu konser ke mal dulu, shopping. Karena transaksinya gede-gede, multiplier-nya bahkan lebih besar lagi," tandasnya.
Sebagai gambaran, total penumpang naik-turun sepanjang 2025 di Stasiun MRT Istora Mandiri tercatat sebanyak 324.950 orang. Stasiun ini termasuk salah satu lima stasiun MRT Jakarta terpadat karena memiliki lokasi strategis yakni persis di dekat akses pintu 7 GBK.
Lebih lanjut, Samuel juga menyampaikan, konsep tersebut menjadi bagian dari pengembangan placemaking MRT Jakarta. Konsep tersebut tidak hanya menitikberatkan pembangunan fisik kawasan, tetapi juga menciptakan aktivitas yang membuat masyarakat datang dan beraktivitas di kawasan tersebut.
"Jadi bagaimana sebuah kawasan TOD setelah dibangun, enggak berhenti sampai di situ. Bukan cuma bentuknya saja indah, tapi bagaimana sebetulnya sebuah kawasan TOD itu bisa dihidupkan," jelasnya.
Salah satu kawasan yang dikembangkan dengan konsep tersebut adalah Blok M. MRT Jakarta menggandeng komunitas, pelaku usaha, penyelenggara acara hingga promotor untuk menciptakan aktivitas di kawasan tersebut.
Samuel mengatakan, kegiatan di Blok M dilakukan secara beragam agar aktivitas kawasan tidak monoton. MRT Jakarta juga aktif menjalin komunikasi dengan event organizer dan promotor, sementara sebagian lainnya datang menawarkan kegiatan untuk digelar di kawasan tersebut. "Jadi MRT juga nyari, cuma yang datang ke kita pun sebenarnya enggak kalah banyak," imbuhnya.
Selain Blok M, konsep placemaking juga akan diterapkan dalam pengembangan Kota Tua Jakarta seiring pekerjaan proyek MRT Fase 2 (Bundaran HI-Kota).
Samuel menekankan, MRT Jakarta akan mempertahankan identitas kawasan, seperti Pecinan, Glodok dan konsep 'LittleAmsterdam,' sembari menambahkan aktivitas seni, film dan ekonomi kreatif.
Baca Juga
Abu Vulkanik Kepung Jakarta, MRT Pastikan Operasional Tetap Normal
Samuel menambahkan, pengembangan kawasan tersebut juga diarahkan untuk mendukung pariwisata Jakarta. "Kenapa enggak ini kita naikin jadi, 'Stay di Jakarta lamaan dikit dong, tiga-empat hari.' Salah satunya ngeksplor dulu Kota Tua, nanti mereka eksplor Blok M," katanya.
Sekadar informasi, pengembangan transportasi publik melalui MRT Jakarta memberikan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi kawasan. Direktur Utama MRT Jakarta periode 2016-2022, William P Sabandar sebelumnya mengungkapkan, sejumlah multipliereffect dari pembangunan MRT Jakarta fase 1 (Lebak Bulus-Bundaran HI) dan fase 2 (Bundaran HI-Kota).
Menurut William, investasi MRT Jakarta menciptakan nilai tambah bagi perekonomian nasional maupun DKI Jakarta. Hal tersebut berdasarkan hasil kajian yang melibatkan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI).
