ASEAN Raup Rekor FDI US$244 Miliar, Indonesia Hanya Kebagian 8,8%
Oleh: Primus Dormulu
Jakarta, Investortrust — Asia Tenggara semakin menegaskan posisinya sebagai salah satu pusat pertumbuhan investasi dunia. Ketika pemulihan investasi global masih rapuh dan terkonsentrasi pada segelintir negara serta industri strategis, negara-negara ASEAN justru menerima investasi asing langsung atau foreign direct investment (FDI) sebesar US$243,91 miliar sepanjang 2025, tertinggi sepanjang sejarah.
Nilai itu meningkat 9,7% dibandingkan US$222,27 miliar pada 2024. ASEAN menyerap sekitar 15% dari total FDI global dan 27,1% dari FDI yang mengalir ke negara-negara berkembang. FDI global sendiri naik sekitar 6% menjadi US$1,6 triliun pada 2025, menurut World Investment Report 2026 UNCTAD.
Namun, aliran dana investasi global tersebut belum dinikmati secara merata. Singapura menyerap US$150,90 miliar atau 61,9% dari seluruh FDI ASEAN. Indonesia, negara dengan wilayah, jumlah penduduk, dan produk domestik bruto terbesar di kawasan, hanya menerima US$21,44 miliar atau 8,8% dari total FDI ASEAN. Artinya, setiap US$100 FDI yang masuk ke Asia Tenggara, hampir US$62 berlabuh di Singapura dan kurang dari US$9 masuk ke Indonesia.
Singapura Kuasai Hampir 62% FDI ASEAN
Berdasarkan data UNCTAD yang dipublikasikan kembali oleh laman resmi investasi ASEAN, Singapura menempati peringkat pertama penerima FDI ASEAN pada 2025 dengan US$150,90 miliar, naik 10,8% dari US$136,20 miliar pada 2024.
Indonesia berada di posisi kedua dengan US$21,44 miliar. Akan tetapi, FDI Indonesia justru turun 13,6% dibandingkan US$24,82 miliar pada 2024. Vietnam berada sangat dekat di posisi ketiga dengan US$20,35 miliar, disusul Thailand US$19,10 miliar dan Malaysia US$15,39 miliar.
Data historis tersebut berasal dari seri UNCTAD dan ASEAN Secretariat. Sebagian angka lama telah mengalami revisi sehingga dapat berbeda tipis dari angka yang tercantum dalam edisi awal ASEAN Investment Report. Namun, arah pergerakannya jelas: sejak 2021, FDI ASEAN secara konsisten berada di atas US$200 miliar per tahun, dibandingkan rata-rata kurang dari US$130 miliar pada dekade sebelumnya.
Kekuatan ASEAN ditopang relokasi rantai pasok global, pertumbuhan industri semikonduktor dan elektronik, pusat data, ekonomi digital, kendaraan listrik, mineral kritis, serta energi terbarukan. Integrasi melalui ASEAN Economic Community juga memperluas daya tarik kawasan sebagai satu jaringan produksi.
Meski FDI aktual meningkat, nilai proyek investasi baru atau announced greenfield investment ASEAN justru turun 10,1% menjadi US$105,6 miliar pada 2025. Di Indonesia, proyek greenfield yang diumumkan merosot 31% dari US$22,3 miliar menjadi US$15,4 miliar. Penurunan komitmen baru tersebut menjadi sinyal bahwa pertumbuhan FDI pada tahun-tahun berikutnya tidak otomatis terjamin.
Arus Portofolio Tidak Bisa Dijumlahkan seperti FDI
Berbeda dari FDI, sampai September 2026 belum tersedia satu angka resmi dan final yang merangkum investasi portofolio asing bersih ke seluruh negara ASEAN selama 2025 maupun 2026 dengan cakupan yang seragam.
FDI relatif mudah dibandingkan karena UNCTAD menyediakan satu basis data lintas negara. Investasi portofolio jauh lebih kompleks. Ada negara yang melaporkan arus melalui neraca pembayaran, ada yang hanya mencatat transaksi asing di bursa saham, perubahan kepemilikan obligasi pemerintah, atau arus ke surat berharga bank sentral. Singapura sebagai pusat pengelolaan dana internasional juga mencatat transaksi aset dan kewajiban portofolio lintas batas yang sangat besar sehingga tidak dapat langsung dibandingkan dengan pembelian bersih saham di Bursa Efek Indonesia.
Karena itu, tidak tepat menyebut total dana asing ke ASEAN pada 2025 sebagai hasil penjumlahan US$243,9 miliar FDI dengan angka transaksi saham dan obligasi yang dihimpun dari sumber berbeda. Angka yang sudah dapat dipastikan untuk 2025 adalah FDI sebesar US$243,9 miliar. Total investasi asing setelah memasukkan portofolio baru dapat dihitung jika seluruh negara telah menerbitkan neraca pembayaran tahunan dengan klasifikasi seragam.
Hal yang sama berlaku pada peringkat investasi portofolio. Belum tersedia peringkat resmi seluruh anggota ASEAN untuk 2025 maupun 2026. Data pasar yang lebih cepat biasanya hanya mencakup Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, Vietnam, dan kadang-kadang Singapura. Negara seperti Brunei, Laos, Kamboja, dan Myanmar memiliki pasar modal yang kecil atau data frekuensi tinggi yang tidak sebanding.
Data LSEG yang dikutip Reuters menunjukkan bursa-bursa Asia Tenggara mengalami net sell asing sekitar US$4,16 miliar hanya pada kuartal I-2025. Pada bulan-bulan berikutnya dana asing sempat kembali, tetapi pergerakannya sangat fluktuatif akibat perubahan ekspektasi suku bunga Amerika Serikat, kebijakan tarif, pergerakan dolar AS, serta rotasi dana menuju saham-saham teknologi Asia Timur.
Indonesia Hanya 8,8% FDI ASEAN
Dari FDI ASEAN sebesar US$243,91 miliar pada 2025, bagian Indonesia hanya US$21,44 miliar atau 8,79%. Angka tersebut jauh lebih kecil dibandingkan bobot Indonesia yang mencapai sekitar 40% terhadap perekonomian ASEAN dan sekitar 41% terhadap jumlah penduduk kawasan.
Dengan demikian, bagian Indonesia terhadap FDI ASEAN hanya sekitar seperlima dari bobot ekonominya. Sementara itu, Singapura—dengan penduduk kurang dari 1% populasi ASEAN—menguasai hampir 62% FDI kawasan.
Untuk investasi portofolio, persentase bagian Indonesia terhadap total ASEAN belum dapat dihitung secara bertanggung jawab karena tidak tersedia angka agregat regional dengan definisi identik. Demikian pula, persentase Indonesia terhadap gabungan FDI dan portofolio tidak dapat ditentukan hanya dengan menjumlahkan data UNCTAD, transaksi bursa, SBN, dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia.
Bagaimana Prospek 2026?
UNCTAD belum menerbitkan angka FDI setahun penuh 2026 karena tahun masih berjalan. UNCTAD hanya memperkirakan FDI global dapat meningkat secara moderat apabila kondisi pembiayaan membaik dan aktivitas merger serta akuisisi lintas negara pulih. Namun, ketegangan geopolitik, proteksionisme, tarif, dan kebijakan industri berbasis subsidi tetap menjadi risiko utama.
Dengan menjadikan realisasi 2025 sebagai titik awal dan menggunakan kisaran pertumbuhan nol sampai 5%, Investortrust memperkirakan FDI ASEAN pada 2026 berpotensi berada di kisaran US$244 miliar hingga US$256 miliar. Ini merupakan estimasi skenario, bukan proyeksi resmi UNCTAD.
Peringkat 2026 belum dapat ditentukan sebelum data setahun penuh diterbitkan. Namun, berdasarkan posisi awal, Singapura diperkirakan tetap menjadi tujuan terbesar. Indonesia, Vietnam, Thailand, dan Malaysia akan bersaing ketat untuk posisi berikutnya, terutama dalam investasi pusat data, semikonduktor, elektronik, kendaraan listrik, baterai, dan energi bersih.
Untuk Indonesia, realisasi PMA versi BKPM mencapai Rp250 triliun pada kuartal I-2026 dan Rp257,7 triliun pada kuartal II-2026. Dengan demikian, PMA semester I-2026 mencapai sekitar Rp507,7 triliun. Jika laju ini bertahan, realisasi PMA administratif sepanjang 2026 berpeluang menembus Rp1.000 triliun atau sekitar US$59 miliar–US$62 miliar, tergantung kurs.
Sekali lagi, proyeksi tersebut tidak identik dengan FDI neraca pembayaran versi UNCTAD. Dengan mempertimbangkan penurunan net FDI pada awal tahun, pemulihan investasi pada kuartal II, dan basis US$21,44 miliar pada 2025, FDI Indonesia versi neraca pembayaran untuk seluruh 2026 secara indikatif diperkirakan berada di sekitar US$19 miliar–US$23 miliar.
Pada investasi portofolio, Bank Indonesia mencatat net inflow sekitar US$1,8 miliar hingga 14 Agustus 2026, ditopang penerbitan obligasi global pemerintah serta arus masuk ke instrumen domestik. Sebelumnya, kebijakan stabilisasi BI sempat mendorong net inflow sekitar US$5,5 miliar pada kuartal II hingga 18 Mei 2026, setelah terjadi tekanan arus keluar pada kuartal I. Perubahan angka tersebut memperlihatkan cepatnya dana portofolio masuk dan keluar.
Dengan volatilitas global yang masih tinggi, Investortrust memperkirakan investasi portofolio bersih Indonesia sepanjang 2026 berada pada kisaran nol hingga US$5 miliar. Kisaran ini sangat bergantung pada arah suku bunga The Fed, imbal hasil SBN, stabilitas rupiah, kebijakan fiskal, keputusan lembaga pemeringkat, serta persepsi terhadap kualitas dan transparansi pasar saham Indonesia. Data berjalan bersumber dari Tinjauan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Agustus 2026.
Mengapa Indonesia Kalah Jauh dari Singapura?
Besarnya pasar domestik tidak otomatis membuat sebuah negara menjadi penerima FDI terbesar. Investor global bukan hanya mencari jumlah konsumen, tetapi juga kepastian hukum, kebebasan arus modal, kedalaman sistem keuangan, perlindungan hak milik, kecepatan perizinan, kualitas infrastruktur, serta kemudahan memindahkan barang, tenaga ahli, laba, dan data lintas negara.
Singapura menjadi pusat kantor regional, perbankan, pengelolaan aset, asuransi, perdagangan komoditas, teknologi, dan kepemilikan perusahaan multinasional. Negara itu memiliki kepastian hukum tinggi, sistem pajak yang kompetitif, jaringan perjanjian penghindaran pajak berganda, rezim devisa terbuka, pasar keuangan dalam, serta kebijakan yang relatif konsisten. Banyak investasi yang secara statistik masuk ke Singapura kemudian disalurkan ke pabrik, tambang, pusat data, dan proyek infrastruktur di negara ASEAN lain, termasuk Indonesia.
Dengan demikian, sebagian FDI Singapura merupakan fungsi negara itu sebagai financial hub dan conduit economy. Kendati demikian, dominasi tersebut tetap menunjukkan keberhasilan Singapura menguasai fungsi bernilai tambah tinggi: kantor pusat, pembiayaan, teknologi, kepemilikan kekayaan intelektual, serta pengambilan keputusan korporasi.
Indonesia unggul dalam pasar, sumber daya alam, tenaga kerja, serta potensi pertumbuhan. Namun, investor masih memperhitungkan perubahan regulasi yang relatif sering, tumpang tindih aturan pusat dan daerah, pembatasan kepemilikan, kewajiban kandungan lokal, kepastian kontrak dan penegakan hukum, biaya logistik, kualitas tenaga terampil, serta kompleksitas perpajakan dan perizinan.
Di pasar portofolio, masalahnya bertambah dengan rendahnya free float sejumlah emiten besar, konsentrasi kepemilikan, likuiditas yang belum merata, kualitas keterbukaan data, serta persepsi terhadap independensi kebijakan moneter dan disiplin fiskal. Ketidakpastian mengenai metodologi indeks global juga dapat mendorong pengelola dana internasional mengurangi bobot Indonesia meskipun valuasi saham terlihat murah.
Karena itu, persoalan Indonesia bukan kekurangan potensi, melainkan kemampuan mengubah potensi menjadi kepastian imbal hasil. Hilirisasi mineral berhasil mendatangkan investasi besar, tetapi FDI masih terkonsentrasi pada logam dasar dan pertambangan. Indonesia perlu memperluasnya menuju manufaktur bernilai tambah tinggi, semikonduktor, kesehatan, industri hijau, jasa modern, riset, dan teknologi.
Rekor FDI ASEAN pada 2025 menjadi kabar baik bagi kawasan, tetapi sekaligus peringatan bagi Indonesia. Negara terbesar di Asia Tenggara itu tidak cukup hanya menawarkan pasar dan kekayaan alam. Tanpa kepastian hukum, konsistensi kebijakan, pasar modal yang transparan, dan iklim usaha yang kompetitif, Indonesia akan terus menjadi pasar terbesar di ASEAN, sementara Singapura tetap menjadi pintu utama tempat modal global berlabuh. *
