Rupiah Dibuka Melemah ke Rp 16.124/USD, Cina Defisit FDI US$ 27,9 Miliar
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada Selasa pagi (14/5/2024). Mata uang hard currency euro juga terkoreksi terhadap greenback.
Kurs mata uang Garuda terhadap greenback tercatat Rp 16.124/USD hingga pukul 09.15 WIB. Merujuk data Yahoo Finance, rupiah melemah 50 poin atau 0,31%. Secara year to date nilai tukar rupiah masih melemah 4,82%.
Baca Juga
Pelemahan rupiah ini seiring dengan menguatnya indeks dolar AS yang bertengger di 105,27. Berdasarkan data CNBC, DXY exchange ini naik 0,06 poin atau 0,05% dibanding kemarin.
"Pelaku pasar bersikap risk off menanti indeks harga produsen (PPI) AS periode April 2024, yang diperkirakan naik 2,2% year on year (previous 2,1%). Realisasi PPI dapat berpengaruh terhadap pergerakan pasar," kata analis Cheril Tanuwijaya saat membeberkan hasil analisis Tim Riset InvestasiKu, Jakarta, Selasa (14/5/2024).
Semalam, lanjut dia, wakil Gubernur Bank Sentral AS Philip Jefferson memberi komentar bahwa kondisi suku bunga saat ini sudah tepat hingga ada tanda-tanda meyakinkan bahwa inflasi turun ke level 2%, sesuai target The Fed. Selain data
inflasi AS, malam ini, pelaku pasar juga akan mencermati komentar Gubernur The Fed Jerome Powell sebagai konfirmasi atas beragamnya komentar dari para pejabat The Fed di akhir pekan lalu.
Tiongkok Digeser Jerman
Sedangkan euro tercatat melemah 0,0004 poin atau 0,0432% terhadap dolar AS ke level 0,9269/USD. Secara year to date nilai tukarnya masih melemah 2,48%.
Dari Asia, mata uang yuan juga melemah terhadap USD. Hingga pukul 10.01 WIB, nilai tukarnya tercatat terkoreksi 0,0050 poin atau 0,0691% ke level 7,2371/USD.
Tiongkok melaporkan surplus neraca transaksi berjalan periode kuartal I-2024 turun ke US$ 39,2 miliar. Nilai surplus itu terendah sejak defisit yang terjadi di tahun 2020.
"Hal ini disebabkan oleh defisit pada foreign direct investment sebesar US$ 27,9 miliar. Data ini direspons negatif investor di Asia," paparnya.
Cina juga untuk kini tidak lagi menjadi mitra dagang terbesar AS. Posisinya digantikan Jerman.
Baca Juga
Berbalik, Asing Sudah Net Sell Saham Rp 0,53 Triliun Ytd, BI Tambah Likuiditas Rp 115 Triliun

