Kurs Rupiah Ditutup Menguat di Level Rp 16.279/USD
JAKARTA, investortrust.id - Berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), kurs rupiah ditutup menguat tipis 3 poin ke level Rp 16.279/USD pada penutupan perdagangan Kamis (6/6/2024). Sebelumnya, rupiah ditutup di posisi Rp 16.282/USD pada Rabu (5/6/2024).
Sementara di pasar spot yang dilansir dari Yahoo Finance, nilai tukar rupiah hingga pukul 16.30 WIB menguat 25 poin ke level Rp 16.254/USD. Pada penutupan perdagangan sebelumnya, rupiah bertengger di posisi Rp 16.279/USD.
Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan, data ketenagakerjaan ADP yang lemah menunjukkan penurunan lebih lanjut di pasar tenaga kerja Amerika Serikat. Data tersebut muncul setelah data lowongan kerja lemah, yang juga membuka kemungkinan data nonfarm payrolls yang lemah, yang akan dirilis pada Jumat besok.
Indikator ekonomi lainnya juga menunjukkan adanya perlambatan di negara dengan perekonomian terbesar di dunia ini, yang dapat memberikan prospek inflasi yang lebih lemah dan memberikan kepercayaan diri yang lebih besar kepada The Fed untuk mulai menurunkan suku bunganya.
"Hampir dua pertiga ekonom kini memperkirakan The Fed akan menurunkan suku bunga pada bulan September nanti, menurut jajak pendapat Reuters pada tanggal 31 Mei-5 Juni. Ini mengimbangi berita penurunan pasokan baru-baru ini," kata Ibrahim dalam keterangan pada Kamis (6/6/2024).
Meski demikian, kemungkinan penurunan suku bunga berpotensi diperlemah oleh aktivitas sektor jasa AS. Sektor jasa menyumbang sebagian besar output perekonomian AS, yang kembali tumbuh pada Mei setelah kontraksi pada April 2024.
Saat ini, lanjut dia, pelaku pasar tengah menantikan pertemuan Bank Sentral Eropa (ECB) pada hari Kamis waktu setempat. Bank sentral tersebut diperkirakan akan menurunkan suku bunga depositonya dari rekor tertinggi sebesar 4%.
Saat ini, lanjut dia, pelaku pasar tengah menantikan pertemuan Bank Sentral Eropa (ECB) pada hari Kamis waktu setempat. Bank sentral tersebut diperkirakan akan menurunkan suku bunga depositonya dari rekor tertinggi sebesar 4%.
Selain itu, disebut Ibrahim, sentimen terhadap Tiongkok memburuk dalam beberapa sesi terakhir. Ini karena para pedagang menunggu lebih banyak isyarat mengenai rencana negara tersebut untuk menopang pertumbuhan ekonomi. Update data perdagangan utamanya akan tersedia pada minggu ini.
Baca Juga

