Rosan Pastikan Danantara Terus Pangkas BUMN hingga Tersisa 200 Perusahaan
JAKARTA, investortrust.id — Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) terus menggenjot penataan dan pemangkasan (streamlining) terhadap ratusan entitas BUMN. Langkah ini diambil demi mendorong efisiensi, sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus CEO Danantara, Rosan Roeslani, mengungkapkan dari total 1.074 perusahaan BUMN, pihaknya telah memangkas sekitar 260 perusahaan hingga saat ini.
Baca Juga
Prabowo Klaim Keuntungan dan Dividen BUMN Naik Pascatransformasi
"Per hari ini kita sudah menurunkan jumlahnya dari sekitar 260 perusahaan yang sudah kami tutup melalui divestasi, merger, likuidasi, hingga konsolidasi vertikal," ujar Rosan dalam konferensi kers RAPBN & Nota Keuangan Tahun Anggaran 2027 di Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Rosan menjelaskan, pola penyederhanaan ini dilakukan dengan mengintegrasikan lini bisnis sejenis yang sebelumnya tersebar di berbagai induk BUMN.
Di sektor keuangan, Danantara menggabungkan perusahaan manajer investasi (asset management) yang sebelumnya dimiliki oleh masing-masing bank dan lembaga keuangan pelat merah menjadi satu wadah terintegrasi.
Langkah serupa juga diterapkan pada sektor pelayanan kesehatan dan pariwisata. Danantara melakukan konsolidasi pada unit bisnis rumah sakit serta menggabungkan pengelolaan tak kurang dari 137 hotel yang berada di bawah naungan BUMN.
"Dengan program konsolidasi yang terus berjalan ini, target kami pada akhir tahun ini BUMN dapat dirampingkan hingga menyisakan kurang lebih 200 perusahaan," tegasnya.
Rosan tak menampik proses restrukturisasi dan perampingan skala besar ini menghadirkan tantangan yang sangat kompleks bagi manajemen Danantara.
"Kami harus akui ini pekerjaan yang tidak mudah dan sangat-sangat berat, karena harus dilihat dari semua aspeknya. Namun, ini memang target kami untuk streamlining sehingga kita bisa menciptakan efisiensi, meningkatkan produktivitas, dan mengoptimalkan aset-aset yang ada," terang Rosan.
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya berjanji akan memangkas lebih banyak badan usaha milik negara (BUMN). Pada akhir 2026, pemerintah menargetkan hanya ada 300 BUMN. Prabowo mengaku terkejut saat mengetahui jumlah total BUMN mencapai 1.074 perusahaan.
“Pada 31 Desember 2026, kita targetkan hanya akan memiliki paling banyak 300 BUMN. Sekitar 750 BUMN akan kita tutup,” kata Prabowo pada Sidang Tahunan MPR RI, Sidang Bersama DPR RI-DPD, dan Rapat Paripurna DPR tentang RAPBN 2027, di kompleks parlemen, Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Baca Juga
Prabowo menjelaskan, per hari ini pemerintah telah menutup 290 BUMN. Perampingan BUMN ini berhasil menghemat biaya overhead (beban operasional) sekitar Rp50 triliun yang berasal dari gaji direksi, komisaris, sewa gedung, sewa mobil, dan perjalanan dinas.
“Targetnya 31 Desember kita harus menghemat Rp 70 triliun lebih,” ujar dia.

