Pendapatan Pasar Smartphone Global Tembus Rekor US$ 109 Miliar, Apple Melesat 22% pada Kuartal II-2026
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Pendapatan pasar smartphone global mencapai rekor US$ 109 miliar pada kuartal II-2026, atau naik 7% secara tahunan (year-on-year/YoY). Kenaikan terjadi meski pengiriman smartphone menurun, didorong lonjakan harga jual rata-rata (ASP) dan meningkatnya permintaan perangkat premium.
Dikutip dari laporan Counterpoint, Kamis (6/8/2026), ASP smartphone global naik 17% YoY menjadi US$ 400 atau tertinggi untuk kuartal kedua. Kenaikan dipicu harga komponen yang lebih mahal serta strategi vendor yang beralih ke perangkat dengan spesifikasi dan kapasitas penyimpanan lebih tinggi.
Senior Analyst Counterpoint Research, Shilpi Jain mengatakan, industri smartphone kini memasuki fase baru. "Pertumbuhan tidak lagi ditopang volume penjualan, melainkan nilai transaksi melalui perangkat premium dan kenaikan harga," jelasnya.
Apple menjadi merek dengan pertumbuhan pendapatan tercepat di antara pemain utama. Pendapatan perusahaan naik 22% YoY dan menguasai 49% pangsa pendapatan global, sekaligus menjadi pencapaian tertinggi Apple pada kuartal II.
Kinerja itu ditopang kenaikan pengiriman iPhone sebesar 13% dan pertumbuhan ASP 8%. Tingginya permintaan terjadi pada lini iPhone 17, terutama iPhone 17 dan iPhone 17 Pro Max yang menjad pendorong utama tanpa perlu menaikkan harga secara signifikan.
Baca Juga
Pasar Smartphone Tetap Bergairah Jelang Lebaran, Ini Saran untuk Konsumen
Samsung berada di posisi kedua dengan pangsa pendapatan 16%. Pendapatan dan pengiriman Samsung sama-sama tumbuh 9% YoY, didukung permintaan Galaxy A Series serta berlanjutnya momentum Galaxy S26 Series, terutama di Amerika Utara serta Timur Tengah dan Afrika.
Sebaliknya, Xiaomi mencatat penurunan pengiriman paling tajam di antara lima merek terbesar, yakni 26% YoY. Pendapatannya turun 17% meski ASP naik 13%, akibat melemahnya permintaan di segmen entry-level dan menengah.
OPPO dan vivo juga membukukan penurunan pendapatan masing-masing 10% dan 11% YoY. Keduanya berhasil meningkatkan ASP, namun belum mampu mengimbangi penurunan volume penjualan di segmen yang sensitif terhadap kenaikan harga.
Counterpoint memperkirakan tekanan biaya komponen, khususnya memori, masih akan berlanjut hingga paruh kedua 2026. Kondisi tersebut diperkirakan mendorong produsen kembali menaikkan harga, menambah porsi perangkat premium, dan membuat pengiriman smartphone global semakin tertekan.
