RI Ditargetkan Punya 10.000 Bus Listrik pada 2030, Strateginya Bisa Tiru India
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Chief Executive Officer (CEO) Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa mengusulkan Indonesia meniru strategi India dalam mengembangkan transportasi publik ramah lingkungan melalui program nasional elektrifikasi bus. Dikatakan, pendekatan tersebut dapat mendorong efisiensi anggaran negara sekaligus mempercepat transisi energi Tanah Air.
Fabby menyebutkan, pemerintah perlu membentuk national bus electrification fund untuk membantu pembiayaan pengadaan bus listrik, terutama bagi pemerintah daerah (pemda) yang memiliki keterbatasan anggaran belanja modal (capitalexpenditure/Capex).
Baca Juga
Damri dan Transjakarta Luncurkan Rute 1W Ancol–Blok M dengan Armada Bus Listrik
"Saya kira tantangan hari ini, kalau dari pengalaman kami juga membantu banyak pemda, masalahnya juga sama, mereka kan tidak punya dana untuk capex-nya. Jadi instead of ngasih subsidi listrik, kita harus bangun national bus electrification fund," kata Fabby dalam diskusi Transportasi Publik dan Transisi Energi yang diselenggarakan ITDP Indonesia di Jakarta, Rabu (5/8/2026).
Ia menjelaskan, sumber pendanaan tersebut dapat berasal dari potensi penghematan subsidi energi yang dihitung berdasarkan target nasional pengadaan 10.000 bus listrik hingga 2030. Menurut Fabby, penghematan subsidi itu dapat dikonversi menjadi sumber pendanaan untuk mempercepat elektrifikasi transportasi publik.
Fabby mendorong pemerintah melakukan pengadaan (procurement) atau lelang bus listrik dalam skala besar agar harga pembelian lebih efisien. Ia mencontohkan India yang mampu menekan harga bus listrik melalui pengadaan publik berskala nasional. "Mengacu ke India, India itu bisa lebih murah sekitar 20-30% dari produk bus Tiongkok," ungkap dia.
Menurut Fabby, keberhasilan India didorong kepastian permintaan melalui program nasional yang memiliki target jangka panjang. Dengan adanya proyeksi kebutuhan pasar, industri dapat meningkatkan kapasitas produksi dan membangun rantai pasok sehingga harga per unit menjadi lebih rendah.
"Kalau satu pabrik bisa memproyeksi pasarnya, karena dia yakin pasti ada dan membangun kapasitas pabrik, rantai pasoknya dan lain-lain, itu harga per unit-nya pasti lebih murah," jelas Fabby.
Baca Juga
Selain pengadaan dalam jumlah besar, Pemerintah India juga memberikan berbagai insentif bagi industri manufaktur lokal. Fabby menilai pendekatan tersebut bisa menjadi referensi bagi Indonesia, mengingat industri baterai nasional telah berkembang dan teknologi kendaraan listrik dinilai tidak kompleks.
Ihwal itu, Fabby berharap pemerintah menetapkan program nasional dengan target 10.000 bus listrik hingga 2030 yang didukung pembentukan dana nasional elektrifikasi bus yang memberikan multipliereffect bagi daerah.
"Saya berharap ada national program tadi. Karena dampaknya pada penurunan subsidi, dampaknya pada impor BBM, dampaknya pada perbaikan kualitas udara, itu lebih besar daripada nilai yang harus dikeluarkan," tutur Fabby.

