Pakai Strategi Ini, VinFast Klaim Biaya Kepemilikan EV Bisa Hemat 19%
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - VinFast Indonesia menawarkan strategi pemasaran kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di Indonesia dengan mengedepankan konsep Total Cost of Ownership (TCO). Merek otomotif asal Vietnam itu mengklaim pendekatan ini mampu memangkas biaya kepemilikan kendaraan hingga 19% dalam periode empat hingga lima tahun.
Head of Training Department VinFast Indonesia, Rinaldi Ramdani mengatakan, konsumen kini tidak hanya mempertimbangkan harga beli kendaraan. Biaya operasional, perawatan, hingga nilai jual kembali dinilai menjadi faktor utama dalam keputusan membeli mobil listrik.
“Memiliki mobil listrik itu bukan hanya memikirkan harga di awal. Tapi secara total berapa yang harus dikeluarkan dan berapa yang bisa dihemat,” kata Rinaldi dalam acara Vin Talks di GIIAS 2026, ICE BSD, Tangerang, Senin (3/8/2026).
Menurutnya, pendekatan TCO mulai diperkenalkan VinFast sejak Juni 2026 melalui kampanye Drive Worry-Free. Respons konsumen dinilai positif karena mulai memahami bahwa biaya kepemilikan kendaraan tidak hanya ditentukan oleh harga pembelian.
Perusahaan menghitung TCO berdasarkan sejumlah komponen utama, seperti biaya pengisian daya, biaya perawatan berkala, serta biaya kepemilikan selama empat hingga lima tahun. Perhitungan itu belum memasukkan faktor nilai jual kembali kendaraan.
“Kalau dibandingkan dengan mobil EV lain, kita bisa hemat hingga 19% dalam kurun waktu empat sampai lima tahun. Ini belum menghitung resale value,” ungkap Rinaldi.
Baca Juga
VinFast Gandeng Danamon, Perkuat Pembiayaan Dealer untuk Kebut Ekspansi EV
Program Resale Value Guarantee
Ia menjelaskan penghematan dapat meningkat apabila nilai jual kembali ikut diperhitungkan. VinFast saat ini menawarkan program Resale Value Guarantee yang menjamin nilai jual kendaraan hingga 80% setelah empat tahun.
Selain itu, perusahaan juga mengembangkan ekosistem pendukung melalui program Drive Worry-Free. Program tersebut mencakup pengisian daya gratis hingga Maret 2029, langganan baterai gratis selama dua tahun, jaringan lebih dari 3.200 stasiun pengisian daya, serta layanan purna jual di lebih dari 100 titik.
Pengamat otomotif, Yannes Martinus Pasaribu, menilai persaingan kendaraan listrik kini mulai bergeser. "Konsumen tidak lagi hanya mencari teknologi terbaru, tetapi juga memperhitungkan biaya kepemilikan dan kualitas layanan setelah pembelian," jelas Yannes.
Dosen ITB itu juga mengatakan, ekosistem layanan akan menjadi faktor pembeda di tengah semakin ketatnya persaingan pasar EV. Karena itu, strategi yang mengedepankan TCO dinilai berpotensi mempercepat adopsi kendaraan listrik di Indonesia.
