Bahlil Pastikan Revisi RKAB Dibuka Terukur, Produksi Tambang Jangan Rontokkan Harga Minerba
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Pemerintah memastikan revisi rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) batu bara tetap dibuka secara terukur dengan mempertimbangkan keseimbangan antara kebutuhan pasar domestik dan kondisi harga komoditas global. Langkah ini ditempuh agar peningkatan produksi tidak justru memicu kelebihan pasokan yang berujung pada penurunan harga batu bara.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan, evaluasi RKAB dilakukan secara hati-hati dengan mempertimbangkan aspek permintaan dan penawaran. Menurutnya, tujuan utama pemerintah bukan hanya meningkatkan volume produksi, tetapi juga menjaga agar komoditas tambang Indonesia tetap memiliki nilai ekonomi yang optimal.
Baca Juga
Sejak 2023 RKAB Batu Bara Tembus 1 Miliar Ton, ESDM Tetap Kendalikan Produksi
"RKAB kita lakukan dengan penuh rasa hati-hati dengan memperhatikan permintaan dan penawaran. Idealnya kita menambang banyak, tetapi harganya juga harus tetap bagus," ujar Bahlil saat ditemui di Sekretariat Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (3/8/2026).
Bahlil menilai produksi yang berlebihan tanpa mempertimbangkan kondisi pasar hanya akan merugikan negara. Selain menekan harga jual komoditas, eksploitasi yang tidak terkendali juga berpotensi mengurangi manfaat sumber daya alam bagi generasi mendatang.
"Kita selalu bicara pertambangan yang berkelanjutan. Kita maknai negara ini dikelola tidak hanya kita yang melakukan, tapi ada generasi kita berikutnya. Kalau hari ini kita melakukan dengan penuh tidak kehati-hatian, itu dampaknya adalah satu, harga bisa terkoreksi di bawah. Yang kedua, harusnya tambang kita bisa jual dengan harga yang baik dengan waktu yang panjang, itu juga bisa terpotong,” papar dia.
Karena itu, pemerintah menerapkan kebijakan relaksasi RKAB secara selektif. Persetujuan tambahan produksi akan disesuaikan dengan kebutuhan dalam negeri sekaligus mempertimbangkan dinamika harga di pasar internasional.
Dia mencontohkan komoditas batu bara yang volume perdagangan globalnya hanya sekitar 1,3 miliar ton per tahun. Indonesia sendiri menyumbang sekitar 43% dari total pasokan batu bara yang diperdagangkan di pasar internasional. Dalam kondisi tersebut, peningkatan produksi secara berlebihan dinilai berisiko menciptakan kelebihan pasokan dan menekan harga global.
"Kalau perdagangan dunia hanya sekitar 1,3 miliar ton lalu produksinya dipaksakan menjadi 1,5 miliar ton, harganya pasti turun. Saya tidak ingin komoditas Indonesia justru dihargai murah karena kebijakan kita sendiri," tegas Bahlil.
Baca Juga
ESDM Buka Revisi RKAB Batu Bara 2026, Pasokan PLN Jadi Prioritas
Bahlil mengakui revisi RKAB memang akan mengalami perubahan jumlah volume produksi. Namun, dia enggan mengungkapkan besaran tambahan kuota produksi karena informasi tersebut dinilai dapat memengaruhi sentimen pasar dan memicu gejolak harga komoditas.
"Ada perubahan, itu saya jawab ada. Tetapi jangan tanya saya berapa angkanya. Karena begitu saya sampaikan, keluar di media, harga bisa gejolak lagi. Jadi tidak semua hal harus saya sampaikan,” sebut mantan Menteri Investasi tersebut.
