PHR Sumbang 31% Lifting Minyak Nasional Capai 177 Ribu Barel, Ini Strateginya
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), pengelola kegiatan hulu migas Regional 1 Pertamina, mempertahankan produksi minyak di tengah natural decline atau penurunan produksi alami pada lapangan-lapangan yang telah lama beroperasi. Hingga semester pertama 2026, Regional 1 menyumbang sekitar 31% lifting minyak nasional atau sekitar 177 ribu barel per hari dan menjadi salah satu penopang utama produksi migas nasional.
Direktur Utama PT Pertamina Hulu Rokan Muhamad Arifin mengatakan Regional 1 juga berkontribusi besar terhadap produksi minyak dan gas Subholding Upstream Pertamina. Kontribusinya mencapai 39% untuk produksi minyak dan 27% untuk produksi gas.
Baca Juga
PHR Temukan Sumur Berpotensi Produksi 2.035 BOPD di Blok Rokan
Pada semester pertama 2026, Regional 1 mencatat produksi minyak sebesar 178,03 ribu barel per hari atau 87% dari target. Produksi gas tercatat 746,80 juta standar kaki kubik per hari atau MMSCFD, setara 98% dari target. Sementara itu, lifting minyak mencapai 177,47 ribu barel per hari atau 86% dari target. Lifting gas tercatat 545,25 MMSCFD atau 98% dari target.
"Menjaga produksi dari lapangan mature membutuhkan upaya yang semakin kompleks. Karena itu kami menjalankan strategi yang tidak hanya mempertahankan baseline produksi, tetapi juga menciptakan sumber pertumbuhan baru agar ketahanan energi nasional tetap terjaga," kata Arifin dalam Media Gathering PHR Regional 1 2026 di Sentul, Bogor pekan lalu dikutip Senin (3/8/2026).
Salah satu lapangan mature yang menjadi perhatian PHR adalah Blok Rokan. Lapangan tersebut telah berproduksi sejak 1952 dan mengalami natural decline lebih dari 30% setiap tahun. Untuk menghadapi kondisi tersebut, PHR menjalankan strategi yang menggabungkan pengelolaan produksi eksisting dengan pencarian sumber pertumbuhan baru. Pendekatan ini diarahkan untuk menjaga produksi dari aset lama sekaligus membuka peluang tambahan produksi.
PHR membagi strategi pengembangan bisnis ke dalam tiga arah utama, yakni energy security, energy transition, serta new business & strengthening enablers. Ketiganya menjadi kerangka perusahaan dalam menjaga pasokan energi, menjalankan transisi menuju energi yang lebih berkelanjutan, dan membangun sumber pertumbuhan baru. Strategi tersebut kemudian diterapkan melalui lima pilar, yakni maintain baseline, production growth, energy transition, competitiveness, serta value added & new business.
Salah satu teknologi yang dikembangkan adalah chemical enhanced oil recovery (CEOR), metode peningkatan perolehan minyak dengan menggunakan bahan kimia untuk membantu mendorong minyak keluar dari reservoir. PHR telah menerapkan CEOR secara komersial di Minas Area A sejak Desember 2025.
Kejar Sumber Produksi Baru
Di sisi lain, PHR mempercepat pertumbuhan produksi melalui pilar production growth. Perusahaan mengembangkan struktur baru dan melakukan eksplorasi di sejumlah wilayah prospektif, termasuk Astrea, Pinang East, dan Mustang Hitam. Kegiatan tersebut telah memberikan tambahan produksi sekitar 1.000-2.000 barel minyak per hari. PHR juga memperkuat eksplorasi di cekungan mature maupun wilayah kerja baru yang masih memiliki potensi sumber daya migas.
PHR juga mulai mengembangkan ekosistem carbon capture, utilization, and storage (CCUS), teknologi yang memungkinkan karbon dioksida ditangkap, dimanfaatkan, atau disimpan. Pengembangan tersebut diposisikan sebagai salah satu sumber pertumbuhan bisnis pada masa mendatang.
Dari sisi cadangan, Regional 1 telah menyelesaikan 3 sumur eksplorasi hingga Juni 2026 atau melampaui target. Pada periode yang sama, PHR telah merealisasikan 163 sumur eksploitasi. Kegiatan tersebut juga menghasilkan tambahan cadangan terbukti atau P1 sebesar 6,26 juta barel setara minyak atau MMBOE. Selain itu, PHR membukukan temuan sumber daya 2C sebesar 16,49 MMBOE.
Hingga Juni 2026, kinerja proyek Regional 1 mencatat schedule performance index (SPI) sebesar 0,960 dan cost performance index (CPI) sebesar 1,133. SPI mengukur kinerja proyek terhadap jadwal, sementara CPI mengukur efisiensi biaya proyek.
Akuisisi data seismik 3D juga mencapai 140 kilometer persegi atau 140% dari target. Data seismik digunakan untuk memetakan struktur bawah permukaan dan membantu perusahaan menentukan lokasi yang memiliki prospek migas. Dari aspek keselamatan kerja, hingga Juni 2026 Regional 1 mencatat zero fatality dan total recordable injury rate (TRIR) sebesar 0,00. Perusahaan juga membukukan 74,97 juta jam kerja aman.
Baca Juga
PHR Perkuat Transisi Energi, Gas Bumi dari Sumatra Mulai Dilirik untuk Pasok CNG
Arifin mengatakan inovasi teknologi menjadi salah satu faktor penting dalam menghadapi tantangan lapangan mature. PHR mengembangkan digitalisasi, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), internet of things (IoT), otomasi, CEOR, hingga teknologi untuk pengembangan minyak nonkonvensional atau MNK.
"Kami meyakini kombinasi inovasi teknologi, investasi yang berkelanjutan, serta eksplorasi agresif akan menjadi kunci menjaga produksi migas nasional di tengah tantangan lapangan mature sekaligus memperkuat ketahanan energi Indonesia," ujar Arifin.
