Ketum Kadin di Hadapan Presiden: Sudah Banyak Produk Indonesia yang Masuk Rantai Pasok Dunia
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Sudah banyak sekali produk Indonesia yang menjadi bagian dari rantai pasok (global supply chain) dunia. Mulai dari produk pertahanan, komponen industri, alas kaki, hingga produk konsumsi, hasil karya pelaku usaha nasional kini digunakan oleh berbagai perusahaan multinasional terkemuka seperti Tesla, Airbus, Kia, hingga IKEA.
Untuk memperkuat posisi Indonesia dalam jaringan produksi global tersebut, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menginisiasi sebuah platform teknologi dan perdagangan bertajuk We Buy From Indonesia, yang bukan sekadar katalog produk ekspor, melainkan sebuah sistem digital yang memetakan hubungan rantai pasok Indonesia dengan pasar dunia.
Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie menyampaikan hal itu saat memimpin sekitar 150 pengurus Kadin Indonesia Pusat, Kadin Provinsi, serta asosiasi dan himpunan pengusaha dari seluruh Indonesia dalam audiensi dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta, Jumat (31/07/2026).
Dalam pertemuan tersebut turut hadir sejumlah menteri Kabinet Merah Putih, antara lain Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani, Menteri Perdagangan, Menteri Perindustrian, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait, Menteri Pertanian, Menteri Ketenagakerjaan, Seskab Teddy Indra Wijaya, serta para pimpinan kementerian dan lembaga lainnya.
Dari jajaran Kadin Indonesia, antara lain, hadir Wakil Ketua Umum Koordinator Organisasi Komunikasi dan Pemberdayaan Daerah Saudara Erwin Aksa, Wakil Ketua Umum Koordinator Pangan Saudara Mulyadi Jayabaya, Wakil Ketua Umum Koordinator Luar Negeri Saudara James Riady, Wakil Ketua Umum Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Carmelita Hartoto, Wakil Ketua Umum Koordinator Investasi Hilirisasi Energi dan Lingkungan Hidup Saudara Bobby Gafur Umar, Wakil Ketua Umum Koordinator Sosial Saudari Diah Anita Prihapsari, Wakil Ketua Umum Koordinator Pembangunan Manusia, Kebudayaan dan Pembangunan Berkelanjutan Saudara Saudari Shinta Wijaya Kamdani, Wakil Ketua Umum Koordinator Politik dan Keamanan Saudara Bambang Susatyo, Wakil Ketua Umum Koordinator Hukum dan HAM Sarana dan Prasarana Saudara M. Aziz Samsudin.
Anindya mengatakan, selama ini dunia sering memandang Indonesia hanya sebagai pengekspor komoditas primer. Padahal, kenyataannya jauh lebih luas. Banyak produk manufaktur dan komponen industri yang dibuat di Indonesia telah menjadi bagian penting dari proses produksi perusahaan-perusahaan global.
“Ini bukan saja sebuah katalog, tetapi sebuah platform teknologi dan juga perdagangan. Di sini digambarkan bahwa banyak sekali produk-produk dunia dan Indonesia yang sudah menjadi bagian dari supply chain dunia dan dibuat di Indonesia,” ujar Anindya di hadapan Presiden.
Ia mencontohkan berbagai produk yang diproduksi di Indonesia, mulai dari produk PT Pindad, sepatu On Cloud, hingga berbagai produk UMKM, telah masuk ke dalam mata rantai industri global yang memasok kebutuhan perusahaan-perusahaan kelas dunia seperti Tesla, Airbus, Kia, IKEA, dan berbagai perusahaan internasional lainnya.
Menurut Anindya, platform We Buy From Indonesia dibangun melalui kolaborasi dengan berbagai pihak menggunakan pendekatan berbasis data dan teknologi. Platform tersebut memetakan hubungan antara eksportir nasional dengan jaringan pembeli internasional sehingga peluang perdagangan dapat diperluas secara lebih terukur.
Berdasarkan data yang dihimpun Kadin, nilai ekspor Indonesia saat ini mencapai sekitar US$ 300 miliar per tahun. Dari jumlah tersebut, sekitar US$ 60 miliar berasal dari tiga komoditas utama, yakni batu bara, stainless steel, dan kelapa sawit. Sementara sekitar US$ 240 miliar lainnya berasal dari ribuan produk industri manufaktur, komponen, barang konsumsi, serta produk bernilai tambah lain yang selama ini belum banyak diketahui publik.
Di dalam platform tersebut, setiap produk dapat ditelusuri hingga ke jaringan pemasoknya. Dengan demikian, calon pembeli global dapat mengetahui perusahaan Indonesia yang menjadi bagian dari rantai pasok suatu industri maupun merek internasional.
“Tugas kami adalah meningkatkan pembelian dari klien yang sudah ada sekaligus meningkatkan kapasitas para produsen di Indonesia agar semakin banyak yang mampu masuk ke supply chain dunia,” katanya.
Untuk memperluas jangkauan internasional, Kadin menerbitkan buku dan platform We Buy From Indonesia dalam tiga bahasa, yakni Bahasa Indonesia, Inggris, dan Mandarin. Penyusunan datanya juga dilakukan bersama berbagai kementerian, terutama Kementerian Perdagangan, agar informasi ekspor Indonesia semakin akurat sekaligus dapat menjadi basis pengambilan kebijakan pemerintah.
Selain memperkenalkan platform tersebut, Anindya juga menegaskan bahwa Kadin merupakan mitra strategis pemerintah sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1987. Menurutnya, hampir 92% aktivitas perekonomian nasional berasal dari konsumsi masyarakat, investasi swasta, dan ekspor. Karena itu, Kadin memfokuskan seluruh kekuatannya untuk memperkuat tiga mesin utama pertumbuhan ekonomi tersebut.
Ia juga melaporkan empat program quick wins Kadin yang telah dijalankan sejak awal pemerintahan Presiden Prabowo, yakni Satgas Makan Bergizi Gratis (MBG) Gotong Royong yang telah berkontribusi pada 866 dapur, termasuk 128 dapur di wilayah 3T, program Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG), peningkatan kualitas pekerja migran Indonesia, serta renovasi rumah tidak layak huni guna mendukung Program Tiga Juta Rumah.
Dalam bidang diplomasi ekonomi, Kadin juga membentuk Kadin Global Engagement Office (GEO) untuk memperkuat implementasi berbagai perjanjian perdagangan internasional seperti Free Trade Agreement (FTA), Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA), dan kerja sama investasi strategis. Kadin secara rutin menggelar forum diplomasi ekonomi bersama para duta besar guna membuka pasar baru bagi produk Indonesia.
Anindya menilai Indonesia memiliki fondasi ekonomi yang kuat untuk naik kelas menjadi negara maju. Selama dua dekade terakhir, ekonomi nasional mampu tumbuh rata-rata sekitar 5% per tahun dengan inflasi yang tetap terkendali. Namun, untuk keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap), Indonesia harus mampu meningkatkan laju pertumbuhan menuju 8%.
“Kami melihat target itu sangat mungkin dicapai apabila pemerintah dan dunia usaha terus bekerja sama, memperkuat investasi, industrialisasi, serta memperbesar peran Indonesia dalam rantai pasok global,” ujarnya.
Menurut Anindya, penguatan posisi Indonesia dalam global supply chain bukan hanya akan meningkatkan nilai ekspor nasional, tetapi juga memperbesar investasi, memperluas lapangan kerja, memperkuat industri dalam negeri, serta menjadikan Indonesia sebagai salah satu simpul produksi penting dalam ekonomi dunia. Dengan inisiatif We Buy From Indonesia, Kadin ingin menunjukkan bahwa dunia sesungguhnya tidak hanya membeli komoditas Indonesia, tetapi juga semakin bergantung pada produk manufaktur, komponen, dan inovasi yang diproduksi oleh pelaku usaha nasional.
