Harga Emas Naik Lagi karena Dolar Loyo dan Inflasi Melandai
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas dunia menguat pada Kamis (30/7/2026) setelah dolar melemah dan inflasi Amerika Serikat (AS) menunjukkan tanda pelonggaran. Sementara pasar mengurangi taruhan terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dalam waktu dekat. Pergerakan tersebut kembali menempatkan emas sebagai aset yang menarik ketika arah kebijakan moneter dan risiko geopolitik masih belum pasti.
Harga emas spot naik 1% menjadi US$ 4.104,59 per ons dan kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus naik 1,6% menjadi US$ 4.160,60 per ons.
Penguatan emas terjadi setelah indeks dolar AS turun 0,8%. Pelemahan mata uang tersebut membuat emas yang dihargai dalam dolar AS menjadi relatif lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.
Baca Juga
Harga Emas Antam (ANTM) Turun Rp 12.000, 'Buyback' Ikut Melemah
Pada saat yang sama, yen Jepang menguat sehingga pasar kembali mencermati kemungkinan intervensi Pemerintah Jepang untuk menopang mata uang tersebut. Pergerakan dolar dan yen menjadi salah satu faktor yang ikut memengaruhi arah perdagangan emas global.
Perhatian investor beralih ke data inflasi AS. Departemen Perdagangan AS melaporkan indeks Personal Consumption Expenditures (PCE), ukuran inflasi yang menjadi salah satu acuan utama The Fed, turun 0,1% secara bulanan pada Juni 2026.
Secara tahunan, inflasi PCE tercatat 3,7%, turun dari 4,1% pada Mei. Sementara itu, PCE inti yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi naik 3,3% secara tahunan dan 0,1% secara bulanan.
"Data PCE terlihat sedikit lebih baik dari yang diperkirakan pasar. Jadi untuk saat ini lingkungan di sisi inflasi kurang lebih stabil. Namun, pasar minyak akan terus menjadi masalah," kata Kepala strategi komoditas global di TD Securities,Bart Melek.
Inflasi kemungkinan terkendali saat ini. "Namun, itu bisa dengan mudah berubah jika kita terus melihat ketidakstabilan di Timur Tengah," tambah Melek.
The Fed Bikin Pasar Menebak
The Fed pada Rabu (29/7/2026) mempertahankan suku bunga acuannya pada kisaran 3,50%-3,75%. Keputusan tersebut diambil meskipun 3 dari 12 anggota komite kebijakan menginginkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin.
Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan komitmennya menurunkan inflasi kembali menuju target 2%. Namun, pernyataan tersebut tidak memberikan petunjuk yang cukup jelas mengenai langkah kebijakan berikutnya.
Setelah keputusan The Fed diumumkan, harga emas spot sempat naik sekitar 2%. Pasar kemudian mengurangi ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga pada September.
Menurut perangkat FedWatch milik CME Group, pelaku pasar melihat peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed 15-16 September berada di sekitar 61%. Angka tersebut turun dari sekitar 77% sebelum pertemuan kebijakan Juli.
Baca Juga
Pasar juga memperoleh sinyal dari data tenaga kerja Amerika Serikat. Klaim awal tunjangan pengangguran meningkat lebih rendah dari perkiraan pada pekan sebelumnya. Kondisi tersebut menunjukkan pasar tenaga kerja masih relatif stabil.
Kenaikan emas juga terjadi bersamaan dengan penguatan sejumlah logam mulia lainnya. Harga perak spot naik 2% menjadi US$ 58,79 per ons, sementara platinum meningkat 2,5% menjadi US$ 1.652,32 per ons. Harga paladium juga menguat 4,4% menjadi US$ 1.301,39 per ons.
