PHR Genjot Hampir 650 Sumur per Tahun demi Tahan Laju Penurunan Produksi Migas
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) terus menggenjot aktivitas pengeboran secara masif untuk menahan laju penurunan alami (natural decline) produksi minyak dan gas bumi (migas). Langkah tersebut menjadi strategi utama perusahaan dalam menjaga produksi migas nasional tetap stabil di tengah karakteristik lapangan yang terus mengalami penurunan produksi setiap tahun.
Direktur Utama PHR Muhammad Arifin mengatakan PHR memikul tanggung jawab strategis, baik sebagai bagian dari Subholding Upstream Pertamina maupun dalam memenuhi target produksi yang ditetapkan pemerintah melalui SKK Migas. Untuk itu, PHR telah menyusun strategi jangka panjang melalui rolling plan lima tahunan agar setiap tahapan pengembangan lapangan dapat dijalankan secara terukur.
"Karena tugas yang diemban oleh PHR cukup berat dan strategis, baik dari Subholding Upstream dari Pertamina, dan juga dari negara, dari SKK Migas, tentu saja kami di PHR membuat rumah strategi untuk memastikan bahwa kita punya rolling plan jangka panjang lima tahun ke depan yang kita pastikan langkah-langkahnya step by step itu kita lakukan," ujar Arifin dalam Media Gathering PHR, Kamis (30/7/2026).
Menurutnya, tantangan terbesar industri hulu migas adalah menjaga agar produksi tidak terus menurun akibat penurunan alami reservoir. Tanpa adanya kegiatan pengembangan, produksi minyak dapat turun hingga sekitar 30% hanya dalam satu tahun.
Baca Juga
PHR Sumbang Sepertiga Produksi Minyak Nasional, Hasilkan Hampir 200 Ribu Barel per Hari
"Kalau kita bicara produksi ini di PHR tadi hampir 200 ribu BOPD dan 700 MMSCFD itu kalau kita nggak ngapa-ngapain tuh ceritanya itu decline turun. Jadi kalau setahun kita produksi 200.000 terus kita hanya buka tutup valve, tahun depannya tuh udah hilang 30%-nya. Jadi produksi kita tinggal sekitar 140.000. Tahun berikutnya lagi 40%-nya lagi hilang," jelas Arifin.
Karena itu, PHR memilih strategi agresif dengan meningkatkan aktivitas pengeboran sumur pengembangan di seluruh wilayah operasinya. Arifin mengungkapkan, di Zona Rokan saja perusahaan mampu mengebor hampir 500 sumur setiap tahun. Sementara di Zona 4 jumlah pengeboran mencapai sekitar 100 sumur, sedangkan Zona 1 berkisar 40 hingga 50 sumur per tahun.
"Nah untuk menjaga itu tidak terjadi decline maka kami cukup agresif untuk memastikan bahwa baseline itu terjaga. Nah supaya baseline ini bisa terjaga kita lakukan pengeboran-pengeboran yang cukup masif," ujarnya.
Dia menambahkan, aktivitas pengeboran di Sumatera relatif lebih mudah dilakukan karena sebagian besar lapangan berada di daratan dengan akses yang baik. Kondisi tersebut berbeda dengan wilayah Indonesia Timur yang didominasi lapangan lepas pantai dan memiliki tingkat kompleksitas jauh lebih tinggi.
Baca Juga
PHR Temukan Sumur Berpotensi Produksi 2.035 BOPD di Blok Rokan
"Kalau kita bicara geografi Sumatera termasuk yang aksesnya mudah, sumurnya dekat di darat. Kalau di Indonesia Timur itu dalam-dalam. Sumur terdalam lautnya yang pernah kita lihat dibor itu sekitar 2.000 meter. Sudah kebayanglah,” tutur Arifin.
Dengan strategi pengeboran yang agresif tersebut, PHR berharap dapat menjaga tingkat produksi eksisting sekaligus memperkuat kontribusinya terhadap target peningkatan produksi migas nasional dan ketahanan energi Indonesia.
