Kawasan "Kunci Bersama" Bidik PDRB Rp 592 Triliun, AHY Dorong Integrasi 10 Daerah
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko IPK), Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mendorong kawasan "Kunci Bersama" di Jawa Barat-Jawa Tengah menjadi model pengembangan kawasan berbasis aglomerasi polisentris. Konsep tersebut dapat mengacu pada sejumlah kawasan yang telah berkembang di Belanda, China, hingga Jerman.
Kawasan kunci bersama memiliki total produk domes6ik regional bruto (PDRB) Rp 592 triliun.
Menko AHY menjelaskan, kawasan tersebut lahir dari aspirasi kepala daerah yang menghadapi keterbatasan fiskal, infrastruktur, dan konektivitas antardaerah.
Baca Juga
Menko AHY Sebut Infrastruktur Jadi Kunci Sukses Transisi Kendaraan Listrik
"Kunci Bersama memiliki sebuah visi besar. Waktu itu saya bisa menangkap sebuah dorongan yang kuat dari masing-masing kepala daerah. Di sana-sini menyampaikan keterbatasan fiskal, keterbatasan infrastruktur, dan konektivitas yang menghubungkan antarwilayah. Di situlah saya tergerak untuk mendorong hadirnya Kunci Bersama Summit 2026 ini," kata AHY dalam acara Kunci Bersama Summit 2026 di Jakarta Pusat, Senin (27/7/2026).
Ada sebanyak 10 daerah di Jawa Barat dan Jawa Tengah yang tergabung dalam Kunci Bersama, yakni Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Majalengka, serta Kabupaten Kuningan. Disusul, Kabupaten Ciamis, Kota Banjar, Kabupaten Pangandaran, Kabupaten Brebes, dan Kabupaten Cilacap.
AHY juga menggarisbawahi, pengembangan kawasan tidak cukup hanya membangun proyek infrastruktur secara terpisah, melainkan harus dilakukan secara terintegrasi agar saling mendukung.
"Memang tidak mudah membangun proyek itu tidak sama dengan mengembangkan kawasan yang terintegrasi. Seringkali kita terjebak pada ego sektoral. Kita membangun sebuah proyek besar, tapi tidak berpikir panjang bagaimana mengintegrasikan itu dengan kawasan-kawasan di sekitarnya," terangnya.
AHY kemudian mencontohkan sejumlah kawasan aglomerasi di berbagai negara. Di Belanda terdapat kawasan Randstad Holland yang terdiri dari Amsterdam, Rotterdam, Den Haag, dan Utrecht dengan fungsi ekonomi yang berbeda-beda.
Dikatakan, Amsterdam berkembang sebagai pusat institusi keuangan dan ekonomi kreatif, Rotterdam menjadi pusat pelabuhan, Utrecht sebagai pusat pendidikan dan logistik, sementara Den Haag berperan sebagai pusat pemerintahan dan hukum.
Selain itu, AHY juga menyinggung Greater Bay Area (GBA) di China yang menghubungkan Hong Kong, Shenzhen, Guangzhou, dan kota-kota lain dengan spesialisasi masing-masing. "Shenzhen sekarang menjadi pusat teknologi inovasi. Guangzhou manufaktur, Zhuhai high-tech manufacturing, Dongguan industri elektronik. Jadi ini dikembangkan dan masing-masing spesifik, tidak saling bersaing satu sama lain," paparnya.
AHY juga mencontohkan kawasan metropolitan Rhein-Ruhr di Jerman yang mengembangkan klaster ekonomi berbeda di setiap kota, mulai dari pusat media, keuangan, teknologi informasi, hingga energi.
Ia menerangkan, konsep tersebut sejalan dengan teori aglomerasi polisentris, yakni mengembangkan banyak pusat pertumbuhan yang saling terhubung, bukan hanya bertumpu pada satu kota utama.
"Polisentris artinya mengembangkan bukan hanya satu pusat kota, tapi mengembangkan sejumlah pusat kota yang saling terhubung satu sama lain. Tidak harus satu dibikin besar segala-galanya, kemudian yang lainnya hanya menjadi supporting unit saja," terang AHY.
Ihwal itu, AHY menegaskan, konsep serupa dapat diterapkan di kawasan Kunci Bersama yang terdiri atas 10 kabupaten dan kota dengan pembagian fungsi ekonomi sesuai potensi masing-masing.
AHY mengungkapkan, wilayah Indramayu dan Brebes dapat dikembangkan sebagai koridor agro Pantura, Cirebon sebagai pusat jasa aglomerasi, distribusi, pendidikan, dan pusat data, Majalengka sebagai pusat industri dirgantara dan maintenance, repair, dan overhaul (MRO), Kuningan, Ciamis, serta Banjar sebagai koridor hijau dan pangan. Sedangkan wilayah Pangandaran dan Cilacap menjadi koridor ekonomi biru berbasis perikanan dan wisata bahari.
Untuk mendukung integrasi kawasan tersebut, AHY menilai optimalisasi Pelabuhan Patimban sebagai gerbang logistik laut dan Bandara Kertajati sebagai gerbang logistik udara perlu dipercepat.
"Pelabuhan Patimban akan terus kita dorong menjadi gerbang laut Jawa Barat. Sedangkan Kertajati harus kita tingkatkan utilitasnya. Saat ini utilisasinya baru 6,42% sehingga masih sangat rendah," ungkapnya.
Selain itu, pemerintah juga akan mendorong pengembangan industri MRO pesawat di Kertajati melalui kerja sama PT Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) dengan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) untuk mendukung pengembangan pesawat N219.
AHY menyebutkan, pemerintah tengah menyiapkan sejumlah langkah prioritas, antara lain penyusunan satu data ekonomi Kunci Bersama melalui dashboard terpadu, penyerapan tenaga kerja lokal, pengembangan koridor logistik hijau, pemetaan industri dan pemasok bagi UMKM, serta perlindungan lingkungan.
Ia menuturkan, keberhasilan pengembangan kawasan nantinya akan diukur melalui pertumbuhan produk domestik regional bruto (PDRB), peningkatan utilisasi Patimban dan Kertajati, penurunan biaya logistik, peningkatan kesejahteraan masyarakat, penyerapan tenaga kerja lokal, hingga terjaganya ketahanan lingkungan.
Baca Juga
"Mari kita terus perkuat sinergi dan kolaborasi antara semua pihak, pemerintah pusat dan daerah, dunia usaha, akademisi, komunitas, masyarakat, dan media agar bisa menghadirkan kemajuan dan kesejahteraan bagi masyarakat, khususnya di kawasan Kunci Bersama," tutur AHY.
Berdasarkan paparan Menko IPK, peta kawasan Cirebon Raya melalui forum Kunci Bersama memiliki total PDRB Rp 592 triliun. Data yang bersumber dari BPS 2026 itu memperlihatkan besaran PDRB serta laju pertumbuhan ekonomi di masing-masing daerah, yakni Indramayu, Majalengka, Cirebon, Kota Cirebon, Kuningan, Ciamis, Kota Banjar, Pangandaran, Brebes, dan Cilacap.
Adapun total populasi penduduk di wilayah Kunci Bersama telah mencapai 13,5 juta jiwa (data BPS 2026). Rincian jumlah penduduk ditampilkan untuk masing-masing daerah, meliputi Indramayu, Majalengka, Cirebon, Kota Cirebon, Kuningan, Ciamis, Kota Banjar, Pangandaran, Brebes, dan Cilacap.
