Harga Emas 'Rebound' Setelah Minyak Brent Turun dari US$ 100, The Fed Jadi Penentu
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Harga emas menguat pada perdagangan Jumat (24/6/2026) setelah harga minyak mentah Brent turun dari level di atas US$ 100 per barel. Pelaku pasar kini mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah serta dampaknya terhadap inflasi menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve Amerika Serikat (AS) atau The Fed pada pekan depan.
Harga emas spot naik 0,3% menjadi US$ 4.060,47 per ons pada pukul 14.20 EDT. Kenaikan tersebut terjadi setelah sempat merosot sekitar 2% pada sesi sebelumnya. Sepanjang pekan ini, harga emas telah menguat lebih dari 1% berkat aksi beli investor ketika harga terkoreksi di awal pekan. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus naik 0,3% menjadi US$ 4.061,70 per ons.
Baca Juga
Harga Emas Antam (ANTM) Naik Rp 34.000 Sentuh Rp 2,635 Juta per Gram
"Emas dan perak sedang membentuk basis di sekitar US$ 3.950 dan US$ 55. Meskipun pergerakan stop-loss di bawah level tersebut masih mungkin terjadi apabila perang meningkat tajam, emas tampaknya siap kembali menguat. Jika The Fed benar-benar mempertahankan suku bunga pada pertemuan minggu depan, hal itu akan menjadi sentimen positif," kata pedagang logam independen Tai Wong dilansir CNBC.
Penguatan emas terjadi setelah harga minyak mentah Brent anjlok hampir 4%. Pada sesi sebelumnya, Brent sempat melonjak lebih 7% hingga ditutup di atas US$ 100 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei. Lonjakan tersebut dipicu pernyataan kelompok Houthi yang didukung Iran mengenai serangan terhadap dua kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah.
Meski demikian, secara keseluruhan harga emas masih berada sekitar 23% di bawah level sebelum perang yang didukung AS dengan Iran dimulai pada akhir Februari. Penurunan itu dipengaruhi ekspektasi bahwa tekanan inflasi akibat konflik dapat membuat suku bunga bertahan tinggi dalam periode yang lebih panjang.
Emas selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi. Namun, kenaikan suku bunga biasanya mengurangi daya tarik logam mulia karena emas tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen berbunga.
Fokus investor kini tertuju pada hasil rapat kebijakan Federal Reserve pekan depan. Bank sentral Amerika Serikat tersebut secara luas diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar memperkirakan terdapat peluang sekitar 80% bahwa Federal Reserve akan mulai menaikkan suku bunga pada September.
Baca Juga
Analis ING dalam risetnya menyebut penguatan harga emas belakangan ini lebih banyak didorong oleh aksi beli saat harga turun serta penutupan posisi jual atau short covering setelah koreksi tajam dari rekor tertinggi yang dicapai pada awal tahun. "Namun, harga minyak yang masih tinggi dan kenaikan imbal hasil obligasi kemungkinan akan membatasi ruang pemulihan emas. Level US$ 4.000 per ons menjadi area kunci yang perlu diperhatikan dalam jangka pendek," tulis analis ING.
Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot naik 1,2% menjadi US$ 58,38 per ons. Sebaliknya, platinum turun 0,5% menjadi US$ 1.592,12 per ons per ons, sedangkan paladium melemah 0,7% menjadi US$ 1.248,02 per ons.
