Dukung Swasembada Energi, PLN Operasikan 24 'Green Hydrogen Plant' dengan Produksi 203,6 Ton per Tahun
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – PT PLN (Persero) mempercepat pembangunan ekosistem hidrogen nasional sebagai bagian dari upaya mendukung swasembada energi dan transisi menuju energi bersih. Langkah tersebut diperkuat melalui kolaborasi pemerintah, badan usaha milik negara (BUMN), industri, akademisi, dan mitra internasional untuk membangun rantai industri hidrogen dari hulu hingga hilir.
Komitmen tersebut menjadi salah satu agenda utama dalam Global Hydrogen Ecosystem Summit and Exhibition (GHES) 2026 yang digelar di Jakarta pada Selasa (21/7/2026). Adapun PLN operasikan 24 green hydrogen plant dengan kapasitas produksi mencapai 203,6 ton per tahun.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan hidrogen merupakan energi alternatif yang memiliki peran strategis dalam mendukung transisi energi, memperkuat ketahanan energi nasional, sekaligus mendorong hilirisasi sumber daya alam sesuai Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.
"Pengembangan hidrogen sejalan dengan arahan Asta Cita Bapak Presiden Prabowo. Hidrogen merupakan energi alternatif yang sangat penting di tengah kondisi geopolitik global yang tidak menentu. Karena hidrogen ini dihasilkan dari air, gas, batu bara, biomassa, bahan baku hidrogen yang ada pada bangsa kita itu tidak perlu diragukan lagi," kata Bahlil dikutip Jumat (24/7/2026).
Menurutnya, pembangunan ekosistem hidrogen yang terintegrasi akan menghasilkan manfaat ekonomi yang lebih luas. Selain menyediakan energi bersih, pengembangan industri tersebut juga dapat menciptakan nilai tambah di dalam negeri, meningkatkan daya saing industri nasional, menarik investasi, membuka lapangan kerja, dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Namun, Bahlil menilai percepatan pengembangan industri hidrogen memerlukan dukungan empat faktor utama, yakni kesiapan teknologi, terbentuknya pasar, ketersediaan investasi, dan regulasi yang mampu mempercepat implementasi proyek.
"Yang pertama adalah memang teknologi, yang kedua adalah pasar, yang ketiga memang kita butuh investor, dan yang keempat dalam rangka melakukan percepatan itu dibutuhkan regulasi. Nah pada konteks ini, silakan kita pemerintah, khususnya Kementerian ESDM, sangat terbuka dalam rangka melakukan diskusi-diskusi, regulasi apa yang dibutuhkan untuk melakukan percepatan yang lebih efisien," jelasnya.
Baca Juga
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mengatakan pemerintah terus mendorong pengembangan hidrogen untuk mendukung dekarbonisasi sektor industri, transportasi, dan ketenagalistrikan, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
"Saat ini kami mempunyai 93 inisiatif pengembangan ekosistem hidrogen yang proyek-proyeknya tersebar di seluruh Indonesia dan melahirkan investasi sebesar Rp 32 triliun," ujar Eniya.
Sejalan dengan kebijakan pemerintah, Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo menegaskan pengembangan hidrogen menjadi bagian dari komitmen perseroan dalam mendukung visi swasembada energi nasional.
"Hidrogen merupakan solusi transisi dari energi fosil ke energi masa depan. PLN siap memimpin pengembangan ekosistem hidrogen nasional secara terintegrasi melalui kolaborasi dengan pemerintah, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), pelaku industri, akademisi, hingga mitra internasional," kata Darmawan.
PLN Operasikan 24 Green Hydrogen Plant
Sebagai langkah nyata, sejak 2023 PLN telah mengoperasikan green hydrogen plant (GHP) pertama di Indonesia yang berlokasi di Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Muara Karang, Jakarta. Hingga kini, jumlah fasilitas tersebut telah bertambah menjadi 24 unit yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Darmawan mengatakan seluruh fasilitas tersebut memiliki kapasitas produksi hidrogen hijau mencapai 203,6 ton per tahun. Dari jumlah tersebut, sekitar 75 ton dimanfaatkan untuk kebutuhan pendingin generator pembangkit listrik, sedangkan sisanya sebanyak 128 ton per tahun siap digunakan untuk mendukung berbagai sektor strategis.
"PLN siap all out mengekspansi apa yang sudah kami awali di setiap lini, sehingga ekosistem hidrogen nasional dapat terakselerasi. Ini adalah komitmen PLN sebagai pionir ekosistem hidrogen end-to-end di Indonesia," ujarnya.
Selain memproduksi hidrogen hijau, PLN juga membangun berbagai infrastruktur pendukung, antara lain Hydrogen Refueling Station (HRS) atau stasiun pengisian hidrogen dan Hydrogen Center, pusat riset serta pengembangan kompetensi hidrogen pertama di Indonesia.
Baca Juga
PLN Luncurkan Diskon Tambah Daya 50% Sambut Hari Anak Nasional
PLN juga memperluas kolaborasi dengan berbagai pihak. Salah satunya melalui kerja sama dengan PT Pupuk Kujang dalam produksi green ammonia yang dimanfaatkan sebagai bahan co-firing di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Labuan, Banten.
Perseroan turut melakukan sejumlah kajian bersama atau joint study, antara lain pengembangan Jakarta Hydrogen Mobility bersama Kementerian ESDM, TransJakarta, dan Damri, serta pengembangan produksi hidrogen hijau di Jambi dan Gresik bersama PT Pupuk Indonesia dan mitra lainnya.
Menurut Darmawan, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci untuk mempercepat terbentuknya ekosistem hidrogen nasional yang berkelanjutan. "Bagi PLN, hidrogen bukan sekadar energi bersih, tetapi industri masa depan yang akan memperkuat ketahanan energi, menarik investasi, dan meningkatkan daya saing Indonesia. Karena itu, kami terus mempercepat kolaborasi agar Indonesia menjadi pemain utama dalam ekonomi hidrogen global," pungkas Darmawan.
