Pertamina Percepat Ekosistem Hidrogen dari Sumatra hingga Papua
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – PT Pertamina (Persero) mempercepat pembangunan ekosistem hidrogen nasional melalui berbagai proyek dari Sumatra hingga Papua. Langkah tersebut untuk memperkuat ketahanan energi sekaligus mempercepat transisi menuju energi bersih melalui pengembangan produksidan pemanfaatan hidrogen secara terintegrasi.
Salah satu proyek utama yang tengah dikembangkan berada di Sei Mangkei dan Kuala Tanjung, Sumatra Utara. Di kawasan tersebut, Pertamina membangun hydrogen hub dengan kapasitas produksi hingga 4.000 kilogram hidrogen per hari sebagai fondasi awal pembentukan ekosistem hidrogen nasional.
Baca Juga
ESDM: Hidrogen Tak Gantikan Mobil Listrik, Segmennya Berbeda
Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Oki Muraza mengatakan hidrogen akan menjadi salah satu sumber energi strategis yang melengkapi bauran energi nasional pada masa depan. Pengembangan hidrogen tidak dapat dilakukan sendiri sehingga membutuhkan kolaborasi lintas sektor agar tercipta ekosistem yang kuat dan berkelanjutan.
"Ekosistem hidrogen ini akan menjadi capaian baru transformasi energi di Indonesia, sebagaimana keberhasilan biodiesel B50 yang telah diresmikan pemerintah," kata Oki saat menjadi pembicara pada Global Hydrogen Ecosystem Summit & Exhibition (GHES) di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, dikutip Kamis (23/7/2026).
Menurut Oki, Pertamina tidak hanya berfokus pada peningkatan kapasitas produksi hidrogen, tetapi juga membangun fondasi ekosistem yang mencakup penguatan regulasi, pengembangan teknologi, dukungan pembiayaan, serta penyediaan infrastruktur yang saling terintegrasi.
"Khusus untuk infrastruktur, kami berharap dapat mengoptimalkan pemanfaatan aset-aset strategis nasional sehingga pengembangan hidrogen dapat dilakukan secara lebih efisien, kompetitif, dan ekonomis," katanya.
Pertamina juga memperluas proyek hidrogen ke sejumlah daerah sebagai bagian dari strategi membangun rantai pasok energi bersih nasional. Di Plaju, Sumatra Selatan, Pertamina mengembangkan proyek percontohan produksi hidrogen berbasis energi surya dengan kapasitas 20 kilogram per hari. Proyek tersebut menjadi salah satu uji coba pemanfaatan energi terbarukan untuk menghasilkan green hydrogen atau hidrogen yang diproduksi menggunakan sumber energi rendah emisi.
Sementara itu, di Lampung, Pertamina tengah membangun fasilitas produksi green hydrogen berbasis panas bumi. Fasilitas tersebut ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada November 2026 dengan kapasitas produksi mencapai 100 kilogram hidrogen per hari.
Di Pulau Jawa, Pertamina bersama sejumlah mitra mengembangkan ekosistem hydrogen mobility di Jakarta. Konsep ini memanfaatkan hidrogen sebagai bahan bakar transportasi untuk mendukung pengurangan emisi karbon di sektor mobilitas.
Di Jawa Barat, perusahaan juga memperoleh dukungan hibah dari Pemerintah Korea untuk mengembangkan proyek pengolahan sampah dan limbah cair menjadi biogas yang kemudian diproses lebih lanjut menjadi hidrogen. Proyek tersebut diharapkan mampu mendorong pemanfaatan limbah menjadi sumber energi bernilai tambah.
Dorong Ketahanan Energi dan Peluang Ekspor
Pengembangan hidrogen Pertamina juga menjangkau kawasan timur Indonesia. Di Sulawesi, perusahaan mengembangkan potensi hidrogen alami yang tersedia di sejumlah wilayah.
Baca Juga
Hidrogen dan Baterai Bisa Bersinergi Pangkas Biaya Pembangkit hingga 75%
Sementara itu, di Maluku dan Papua, Pertamina bersama mitra strategis mengembangkan proyek blue ammonia, yaitu amonia yang diproduksi dari gas alam dengan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon untuk menekan emisi. Produk tersebut diproyeksikan dapat memenuhi kebutuhan industri domestik sekaligus membuka peluang ekspor ke pasar internasional.
Melalui berbagai proyek tersebut, Pertamina optimistis hidrogen akan menjadi salah satu pilar penting dalam memperkuat ketahanan energi nasional. Perusahaan juga menilai pengembangan ekosistem hidrogen yang terintegrasi akan mempercepat transisi energi Indonesia sekaligus meningkatkan daya saing sektor energi nasional di tengah meningkatnya permintaan energi rendah karbon di pasar global.
