IHSG Berpeluang Uji 6.515 Seusai BI Tahan Suku Bunga 5,75%
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Indeks harga saham gabungan (IHSG) berpeluang menguji level 6.515 seiring keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan atau BI rate di level 5,75%. Namun, ruang penguatan diperkirakan masih terbatas karena tekanan jual investor asing belum mereda.
Analis pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, mengatakan secara teknikal IHSG masih berpotensi menguji area support MA5 di kisaran 6.238 apabila tekanan jual asing berlanjut. Selama level tersebut mampu dipertahankan, peluang rebound tetap terbuka dengan target resistance di kisaran 6.515.
“Namun apabila support tersebut ditembus disertai berlanjutnya net sell asing dan pelemahan rupiah, maka tekanan koreksi berpotensi kembali meningkat. Untuk itu, investor disarankan tetap mengedepankan strategi selektif dan disiplin dalam mengelola risiko,” kata Hendra kepada investortrust.id Rabu, (22/7/2026).
Baca Juga
Menurut Hendra, keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75% menunjukkan bank sentral masih memilih bersikap wait and see di tengah kondisi global yang belum sepenuhnya kondusif.
Keputusan tersebut, lanjutnya, belum dapat diartikan sebagai berakhirnya siklus kebijakan moneter, tetapi memberikan sinyal bahwa ruang kenaikan suku bunga semakin terbatas selama inflasi domestik tetap terkendali dan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga.
“Saat ini fokus utama BI bukan lagi semata-mata inflasi, melainkan menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar, arus modal asing, serta momentum pemulihan ekonomi,” katanya.
Dengan kondisi tersebut, peluang BI kembali menaikkan suku bunga dinilai relatif kecil, meski masih terbuka apabila terjadi eskalasi risiko global, seperti lonjakan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah atau penguatan dolar AS yang kembali menekan rupiah.
Sebaliknya, peluang penurunan suku bunga juga dinilai belum terbuka dalam waktu dekat karena BI masih perlu memastikan stabilitas eksternal benar-benar terjaga hingga akhir tahun.
Hendra menilai respons pasar saham terhadap keputusan BI tergolong rasional. IHSG sempat tertekan pada sesi pertama setelah pengumuman BI dan pelemahan rupiah, tetapi mampu memangkas sebagian besar penurunannya hingga ditutup melemah tipis 0,09% ke level 6.334.
Rebound intraday tersebut terutama ditopang rotasi dana ke saham-saham teknologi yang menguat 1,58%, dipimpin BUKA, KIOS, dan DIVA. Sementara itu, saham sektor energi, seperti MEDC, PGEO, AKRA, ANTM, dan ESSA turut mendapat sentimen positif dari kenaikan harga minyak dunia yang kembali mendekati US$93 per barel.
Kondisi tersebut menunjukkan investor mulai melakukan selective buying pada sektor-sektor yang memiliki katalis spesifik, baik dari sisi global maupun prospek kinerja emiten. Meski demikian, keberlanjutan rotasi tersebut masih perlu diuji karena belum diikuti penguatan yang merata pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar maupun sektor defensif.
“Selama arus dana asing belum kembali stabil, peluang rotasi sektoral masih berpotensi berlangsung cepat dan lebih bersifat trading dibandingkan menjadi tren jangka menengah,” imbuhnya.
Selain itu, Hendra menilai langkah BI memperluas instrumen insentif untuk menarik investasi portofolio asing serta memperdalam pasar uang dan pasar valas merupakan kebijakan yang positif dari sisi fundamental. Kebijakan tersebut dinilai dapat meningkatkan fleksibilitas investor asing dalam mengelola likuiditas dan risiko nilai tukar sehingga daya tarik aset keuangan Indonesia menjadi lebih baik.
Namun, efektivitas kebijakan tersebut terhadap pasar saham diperkirakan belum akan langsung terlihat dalam jangka pendek. Investor asing saat ini masih lebih mempertimbangkan faktor eksternal, seperti arah kebijakan Federal Reserve (The Fed), perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah, pergerakan harga minyak, hingga stabilitas nilai tukar rupiah.
Hal itu tercermin dari aksi jual bersih investor asing yang kembali mencapai sekitar Rp1,1 triliun pada perdagangan hari ini setelah beberapa hari sebelumnya mencatatkan net buy. Artinya, kebijakan BI lebih berperan sebagai fondasi untuk memperkuat kepercayaan investor dan menjaga stabilitas pasar keuangan. Sementara itu, pembalikan arus dana asing ke pasar saham masih membutuhkan dukungan berupa membaiknya sentimen global serta stabilisasi nilai tukar rupiah.
Baca Juga
IHSG Cenderung Bergerak Terbatas, Saham Pilihan ELSA hingga BNBR
Bagi pasar saham, keputusan mempertahankan B rate di level 5,75% memberikan kepastian bahwa biaya dana (cost of fund) tidak kembali meningkat. Kondisi ini cenderung menguntungkan sektor-sektor yang sensitif terhadap suku bunga, seperti perbankan, properti, konsumer, otomotif, serta emiten dengan tingkat utang yang relatif tinggi karena beban bunga berpotensi lebih terjaga.
Meski demikian, pada perdagangan hari ini dampak tersebut belum sepenuhnya tercermin pada pergerakan harga saham. Saham-saham perbankan besar, seperti BBRI dan sejumlah saham defensif masih mengalami tekanan, sementara investor lebih memilih sektor teknologi dan energi yang memperoleh katalis jangka pendek.
“Hal ini menunjukkan bahwa saat ini sentimen global masih menjadi penggerak utama pasar dibandingkan faktor domestik,” tutup Hendra.
