Rapat dengan Prabowo, Bahlil Usahakan Pertamax Cs Turun Harga di Agustus 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan pemerintah tengah mengkaji peluang penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, seperti Pertamax dan produk sejenis, apabila tren harga minyak dunia terus melemah. Pembahasan tersebut menjadi salah satu agenda yang dilaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto usai rapat paripurna kabinet.
Bahlil mengatakan, setelah rapat kabinet, dirinya kembali melakukan pertemuan khusus dengan Presiden untuk melaporkan sejumlah perkembangan sektor energi, mulai dari kondisi stok BBM nasional, kerja sama pengadaan minyak mentah, hingga potensi penyesuaian harga BBM nonsubsidi.
"Tadi setelah saya melakukan rapat paripurna kabinet yang dipimpin oleh Bapak Presiden, kami melanjutkan pertemuan dengan Bapak Presiden. Saya melapor tentang kondisi BBM kita terkini, dan alhamdulillah semuanya di atas rata-rata standar minimum," kata Bahlil kepada wartawan di Jakarta, Senin (20/7/2026).
Dia memastikan, pemerintah tidak memiliki rencana menaikkan harga BBM bersubsidi. Sebaliknya, pemerintah justru mulai meminta badan usaha, termasuk PT Pertamina (Persero), untuk menyiapkan penyesuaian harga BBM nonsubsidi apabila harga minyak mentah dunia terus mengalami penurunan.
Baca Juga
Harga Pertamax Belum Turun, Pakar Nilai Kebijakan Pemerintah Masih Rasional
"Sudah barang tentu kita juga memastikan bahwa kenaikan terhadap BBM subsidi insyaallah enggak ada kenaikan sama sekali. Bahkan ada berpotensi untuk beberapa jenis BBM yang ketika harga dunia akan turun, kita sudah mulai meminta kepada pengusaha badan usaha swasta termasuk Pertamina untuk segera melakukan penyesuaian," sebut Bahlil.
Menanggapi kemungkinan harga Pertamax dan BBM nonsubsidi lainnya turun pada bulan depan, Bahlil mengatakan pemerintah masih menghitung perkembangan harga minyak dunia sebelum mengambil keputusan final. Dalam waktu dekat, Kementerian ESDM juga akan menggelar rapat bersama Pertamina dan badan usaha BBM lainnya.
"Kita akan melihat, saya sudah menghitung dan saya akan melakukan rapat dengan badan usaha dari Pertamina maupun beberapa badan usaha lain. Ketika harga minyak dunia turun, kita akan menyesuaikan," ungkap mantan Menteri Investasi tersebut.
Menurut Bahlil, pemerintah harus mencari formulasi yang adil agar penyesuaian harga BBM nonsubsidi tidak merugikan masyarakat maupun pelaku usaha. Pasalnya, harga minyak mentah internasional masih bergerak sangat fluktuatif sehingga pemerintah tidak ingin terburu-buru mengambil keputusan.
"Karena kita tahu kan bahwa kadang-kadang harga ICP hari ini naik, besok turun. Enggak sampai dua hari naik lagi. Jadi dalam kondisi seperti ini kita mencari formulasi yang bijak, yang tidak memberatkan rakyat pengguna khususnya yang non-subsidi, ini kan totalnya 20%. Tapi juga kita tidak memberatkan pelaku usaha di sektor perminyakan," tutur Bahlil.
Selain membahas BBM, Bahlil juga melaporkan kepada Presiden mengenai perkembangan kerja sama pengadaan minyak mentah (crude) dengan sejumlah negara. Dia memastikan pasokan minyak untuk kebutuhan dalam negeri berada dalam kondisi aman hingga akhir tahun.
Dalam kesempatan yang sama, Bahlil turut menyampaikan perkembangan implementasi kuota BBM bagi nelayan di atas 30 gross ton (GT), program hilirisasi sektor mineral dan batu bara, serta capaian penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sektor ESDM.
Dia mengungkapkan, realisasi PNBP sektor ESDM hingga semester I 2026 telah melampaui 60% dari target tahunan. Sementara itu, devisa dari ekspor batu bara juga telah mencapai sekitar US$ 14 miliar hingga US$ 15 miliar, mencerminkan mulai membaiknya kondisi sektor energi di tengah ketidakpastian ekonomi global.
