Penerapan B50 Langkah Brilian, Namun Perlu Kesiapan di Tingkat Hulu
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Presiden Prabowo Subianto meresmikan penggunaan Biodiesel B50 pada Kamis (9/7/2026). Langkah ini dipercaya mengubah kesiapan industri sawit nasional.
Direktur Utama PalmCo, Jatmiko Santosa menjelaskan langkah besar pemerintah ini merupakan keputusan brilian di tengah situasi dunia yang tak menentu. Akan tetapi, keputusan ini perlu diikuti dengan kesiapan industri di tingkat hulu.
“Produktivitas CPO cenderung stagnan. Belum lagi peningkatan harga input dengan krisis seperti ini, harga minyak bumi, harga pupuk, kenaikan (upah) tenaga kerja, ini sebuah tantangan sendiri,” ujar Jatmiko, saat membuka Pekan Riset Sawit Indonesia (PERISAI) 2026, di Hotel Borobudur, Senin (20/7/2026).
Menurut Jatmiko, dalam jangka pendek, penerapan B50 akan membutuhkan sekitar 4 juta ton CPO tiap tahun. Dengan jumlah ini, volume ekspor CPO Indonesia akan berkurang.
Akibatnya, Jatmiko memproyeksikan akan terjadi kenaikan harga CPO. Meski begitu, kekhawatiran besarnya justru terletak kepada pengembangan sumber daya alam pengganti CPO.
Baca Juga
Laba Bersih Melesat Rp7,08 Triliun, PTPN IV PalmCo Bagikan Dividen Rp2,83 Triliun
“Yang lebih sedikit mengkhawatirkan di sini adalah upaya-upaya negara-negara subtropik untuk mengembangkan komoditas pengganti CPO,” ucap dia.
Salah satu komoditas yang mampu mendekati CPO yaitu minyak canola atau rape seed. Menurut Jatmiko, pertumbuhan minyak canola mendekati 5,8% dan cocok untuk negara-negara berkembang dan maju dengan musim subtropik dan dingin.
“Sementara CPO kita, selama lima tahun hanya tumbuh 0,52% dan rape seed tumbuh 10%” kata dia.
Jatmiko menyebut naiknya harga CPO secara global akan mendorong pekebun di negara-negara subtropik untuk mengembangkan rapeseed.
“Jadi, peningkatan harga CPO sangat bagus untuk para petani kita dan para pengusaha, namun dalam jangka menengah panjang justru menjadi titik balik kita semua,” ucap dia.
